Menurut laporan Kompas.com, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto berbincang dari jarak jauh dengan JT, mahasiswi Universitas Nusa Cendana yang ujian skripsinya ditolak 12 kali. Dalam perbincangan tersebut, Brian Yuliarto memberikan jaminan bahwa studi JT akan berjalan lancar hingga dinyatakan lulus. Dukungan itu disampaikan langsung oleh Mendiktisaintek sebagai respons atas kisah JT yang sempat viral di media sosial.
JT merupakan mahasiswi semester 10 jenjang S1 Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran Universitas Nusa Cendana. Nama JT ramai dibicarakan setelah video dirinya menangis kencang sambil dipeluk keluarga tersebar luas. Peristiwa itu terjadi setelah ujian skripsinya ditolak sebanyak 12 kali, sebuah pengalaman yang sangat berat bagi mahasiswa tingkat akhir.
Jaminan Langsung dari Brian Yuliarto
Brian Yuliarto tidak hanya menyampaikan pembinaan secara lisan. Ia memastikan bahwa proses studi JT akan didampingi sampai selesai. Komunikasi jarak jauh yang dilakukan menunjukkan bahwa pemerintah memiliki kepedulian terhadap persoalan akademik yang dialami mahasiswa di daerah. Dengan adanya jaminan ini, JT diharapkan tidak lagi merasa berjuang sendirian dalam menyelesaikan pendidikan.
Bagi JT, jaminan ini merupakan kabar baik di tengah keterpurukan yang ia alami. Penolakan ujian skripsi sebanyak belasan kali tentu bukan perkara sederhana. Tekanan emosional yang menumpuk dapat memengaruhi kepercayaan diri dan kondisi mental mahasiswa. Oleh karena itu, kehadiran negara melalui Mendiktisaintek menjadi kekuatan moral yang signifikan.
Kisah Viral yang Menyentuh Publik
Video tangisan JT menjadi titik awal perhatian publik terhadap kasus ini. Dalam video yang beredar, JT tampak menangis kencang sambil dipeluk oleh keluarganya. Momen tersebut secara cepat menyebar dan memicu simpati dari berbagai kalangan, mulai dari sesama mahasiswa, akademisi, hingga masyarakat umum.
Sebagai mahasiswa semester 10, JT telah menempuh studi lebih lama dari batas normal. Meski demikian, penolakan ujian skripsi yang berulang membuatnya belum bisa menyelesaikan pendidikan. Banyak warganet yang mendesak pihak kampus untuk mengevaluasi proses bimbingan dan penilaian agar tidak ada mahasiswa yang diperlakukan tidak adil.
Evaluasi Proses Penilaian Skripsi
Kasus yang dialami JT membuka ruang diskusi mengenai praktik penilaian skripsi di perguruan tinggi. Kualitas akademik harus tetap dijaga, tetapi prosesnya harus adil dan akuntabel. Mahasiswa perlu memahami alasan penolakan dan diberikan kesempatan yang jelas untuk memperbaiki karya ilmiahnya.
Universitas Nusa Cendana, sebagai institusi tempat JT menempuh pendidikan, diharapkan mampu menjadikan kasus ini sebagai bahan evaluasi. Perhatian dari kementerian tidak boleh berhenti pada jaminan semata. Langkah tindak lanjut seperti pendampingan khusus, bimbingan intensif, dan kejelasan prosedur revisi sangat diperlukan agar JT dapat segera lulus.
Harapan untuk Sistem Pendidikan yang Lebih Humanis
Dukungan Brian Yuliarto kepada JT diharapkan dapat menjadi preseden bagi mahasiswa lain yang mengalami hambatan serupa. Persoalan akademik sebaiknya diselesaikan melalui dialog dan pembinaan, bukan justru berlarut-larut tanpa solusi. Pemerintah, perguruan tinggi, dan dosen penguji memiliki peran penting dalam menciptakan proses akademik yang suportif.
Kehadiran negara dalam kasus ini menunjukkan bahwa hak mahasiswa untuk menyelesaikan pendidikan mendapat perhatian serius. JT kini memiliki harapan baru untuk menyelesaikan skripsinya dan meraih gelar sarjana. Dengan dukungan penuh dari Mendiktisaintek, diharapkan tidak ada lagi mahasiswa yang harus menangis karena ketidakjelasan dalam proses ujian skripsi.



