BRIN Kembangkan Genteng Komposit Biomassa untuk Kurangi Risiko Saat Gempa
Peneliti dari Pusat Riset Biomassa dan Bioproduk Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Sukma Surya, telah berhasil mengembangkan inovasi genteng komposit berbasis biomassa. Produk ini dirancang sebagai alternatif bahan atap bangunan yang lebih ringan, kuat, dan ramah lingkungan, dengan fokus utama pada pengurangan risiko cedera saat terjadi gempa bumi.
Latar Belakang Pengembangan Genteng Biomassa
Dalam keterangannya di Jakarta, Sukma menjelaskan bahwa pengembangan genteng komposit ini didorong oleh kondisi geografis Indonesia yang berada di kawasan Cincin Api Pasifik atau Ring of Fire, sehingga rentan terhadap aktivitas seismik. "Pada banyak kejadian gempa, korban cedera sering terjadi akibat tertimpa genteng yang berat. Oleh karena itu, kami mengembangkan genteng komposit yang lebih ringan namun tetap memiliki kekuatan mekanis yang baik," ujarnya, seperti dilansir Antara pada Selasa, 17 Maret 2026.
Genteng komposit tersebut dibuat dari material biomassa atau lignoselulosa, yang diolah menjadi partikel kecil menggunakan peralatan seperti ring flaker, drum chipper, dan hammer mill. Proses pembuatannya melibatkan beberapa tahapan:
- Partikel biomassa dipisahkan berdasarkan ukuran.
- Material dikeringkan hingga mencapai kadar air tertentu.
- Partikel dicampur dengan perekat.
- Campuran diproses melalui tahapan mat forming, cold press, dan hot press molding hingga terbentuk genteng komposit.
Keunggulan dan Uji Kualitas Genteng Komposit
Menurut Sukma, genteng komposit biomassa memiliki sejumlah keunggulan penting:
- Tahan air dan tahan api dengan laju pembakaran yang lebih lambat.
- Ramah lingkungan, karena memanfaatkan material berbasis biomassa yang dapat mendukung target Net Zero Emission (NZE) Indonesia pada tahun 2060.
- Lebih ringan dibandingkan genteng konvensional, sehingga mengurangi risiko cedera saat gempa.
Untuk menjamin kualitas produk, tim peneliti melakukan berbagai pengujian, termasuk:
- Pengujian sifat fisik dan mekanik.
- Ketahanan terhadap cuaca dan kondisi lingkungan.
- Ketahanan terhadap api.
Selain itu, penelitian ini mencakup uji lapangan yang dilakukan secara berkala setiap tiga bulan untuk memantau kinerja material dalam jangka panjang. "Pengujian ketahanan material tidak bisa disimpulkan dalam waktu singkat. Idealnya, pengamatan dilakukan secara kontinu minimal selama lima tahun agar kita dapat melihat performa material dalam jangka panjang," tutur Sukma.
Teknologi Pelapis dan Masa Depan Pengembangan
Posisi atap yang berada di area terbuka membuat material rentan terhadap faktor eksternal seperti paparan sinar ultraviolet (UV), air hujan, serta potensi tumbuhnya lumut atau tanaman liar. Oleh karena itu, pengembangan teknologi pelapis menjadi aspek krusial dalam riset ini.
Pelapis tersebut dirancang untuk memberikan perlindungan ekstra, seperti ketahanan terhadap sinar UV, air, dan api, sekaligus menghambat pertumbuhan organisme yang tidak diinginkan di permukaan genteng. "Ke depan, BRIN akan terus mengembangkan berbagai alternatif teknologi, termasuk kemungkinan genteng komposit tanpa perekat, sehingga produk ini dapat lebih kompetitif dan menjangkau berbagai segmen pasar," tambah Sukma.
Inovasi genteng komposit biomassa ini tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan keselamatan saat bencana gempa, tetapi juga berkontribusi pada upaya keberlanjutan lingkungan melalui pemanfaatan sumber daya terbarukan.



