Mendiktisaintek Brian Yuliarto Dorong Kampus Jadi Pusat Inovasi Pengolahan Sampah Berbasis Riset
Mendiktisaintek Dorong Kampus Jadi Pusat Inovasi Pengolahan Sampah

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto secara aktif mendorong perguruan tinggi di Indonesia untuk berperan sebagai pusat inovasi dalam pengolahan sampah berbasis riset. Hal ini diungkapkan melalui keterangan resmi di Jakarta pada Senin, 16 Maret 2026, yang menekankan pentingnya pendekatan terdesentralisasi dan terintegrasi dalam mengelola persoalan sampah dari tingkat rumah tangga hingga fasilitas pengolahan akhir.

Dorongan untuk Pengelolaan Sampah yang Lebih Efisien

Brian Yuliarto menyatakan bahwa pengelolaan sampah seharusnya dilakukan secara bertingkat, dimulai dari pemilahan di tingkat kelurahan, pengolahan skala menengah di kecamatan, hingga pemanfaatan teknologi canggih untuk mengolah residu yang tidak dapat didaur ulang. "Satu kecamatan ada sekitar 100 ton sampah per hari. Kalau bagus pemisahannya, biologi, food waste, yang dibakar itu tinggal 10–20 ton per hari," ujarnya, seperti dilansir dari Antara.

Contoh Inovasi dari Kampus

Sebagai contoh konkret, Mendiktisaintek telah meninjau langsung fasilitas pengelolaan sampah berbasis teknologi yang dikembangkan oleh Universitas Islam Bandung (Unisba) dan Institut Teknologi Bandung (ITB) pada Sabtu, 7 Februari 2026. Fasilitas milik Unisba tersebut memanfaatkan teknologi plasma-assisted untuk membantu menguraikan senyawa berbahaya dalam proses pembakaran residu, dengan efisiensi yang tinggi dan potensi penerapan pada skala lebih luas.

Potensi Pengolahan Sampah sebagai Industri Baru

Menurut Brian, pendekatan terintegrasi ini dinilai lebih efisien secara logistik dan biaya dibandingkan sistem pengelolaan yang terpusat. Ia menambahkan bahwa pengelolaan sampah memiliki potensi besar untuk berkembang menjadi sektor industri baru berbasis inovasi dan ekonomi sirkular. "Pengelolaan sampah tidak cukup hanya dengan pendekatan program pemerintah, tetapi membutuhkan model bisnis yang berkelanjutan. Jika dikelola dengan baik, sampah juga dapat menjadi sumber industri baru berbasis inovasi," tegasnya.

Kampus sebagai Living Laboratory

Lebih lanjut, Mendiktisaintek mendorong kampus untuk berfungsi sebagai living laboratory dalam pengembangan teknologi ramah lingkungan. Ini mencakup berbagai aspek, mulai dari pengolahan sampah organik, daur ulang material, hingga konversi sampah menjadi sumber energi terbarukan. Dengan demikian, perguruan tinggi diharapkan tidak hanya menghasilkan riset akademis, tetapi juga solusi praktis yang dapat diimplementasikan secara nyata di masyarakat.

Brian Yuliarto juga menekankan bahwa dengan sistem pengelolaan yang tepat, sebagian besar sampah dapat dimanfaatkan kembali sehingga residu yang dihasilkan menjadi sangat minimal. Hal ini sejalan dengan visi pemerintah untuk menciptakan pengelolaan sampah yang berkelanjutan dan mendukung transisi menuju ekonomi hijau di Indonesia.