Pemkot Surabaya Salurkan Bantuan Pendidikan untuk 7.380 Siswa
Pemkot Surabaya Bantu 7.380 Siswa dengan Seragam dan Dana

Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya kembali menyalurkan bantuan pendidikan kepada 7.380 siswa SMA, SMK, dan MA sederajat pada Tahun Ajaran 2026/2027. Program tersebut menyasar siswa dari keluarga miskin, prasejahtera, anak yatim maupun piatu, serta masyarakat yang masuk kelompok desil kesejahteraan 1 hingga 5 sesuai Peraturan Wali Kota Surabaya Nomor 80 Tahun 2025.

Penyerahan Langsung oleh Wali Kota Eri Cahyadi

Bantuan diserahkan langsung oleh Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi di Gelanggang Remaja Surabaya. Selain paket perlengkapan sekolah berupa seragam putih abu-abu, seragam pramuka, sepatu, dan kaus kaki, Pemkot Surabaya juga memberikan bantuan biaya pendidikan sebesar Rp 350 ribu per bulan bagi siswa yang bersekolah di SMA, SMK, dan MA swasta.

"Hari ini kami menyerahkan bantuan beasiswa sekaligus paket seragam sekolah kepada anak-anak Surabaya. Bantuan ini tidak hanya diberikan kepada siswa kelas X yang baru masuk, tetapi juga kepada siswa kelas XI dan XII agar mereka juga memiliki seragam baru. Semoga bantuan ini dapat meringankan beban orang tua sekaligus menambah semangat belajar anak-anak," katanya dalam keterangan tertulis, Selasa (14/7/2026).

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Tidak Ada Kuota Tetap, Berdasarkan Data Riil

Ia mengatakan bantuan pendidikan tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah menghadirkan akses pendidikan yang setara sekaligus mengurangi beban ekonomi keluarga. Karena itu, bantuan tidak hanya diberikan kepada siswa baru kelas X, tetapi juga kepada siswa kelas XI dan XII.

Menurutnya, berbeda dengan program yang menggunakan kuota tetap, bantuan pendidikan Pemkot Surabaya disalurkan berdasarkan kondisi riil masyarakat. Selama memenuhi kriteria sebagai warga desil 1 hingga 5, penerima akan memperoleh haknya sehingga jumlah bantuan menyesuaikan kebutuhan.

"Kami tidak menetapkan kuota. Bantuan diberikan berdasarkan data masyarakat yang masuk dalam desil 1 sampai 5. Kalau jumlah penerimanya bertambah, bantuan juga akan bertambah. Sebaliknya, kalau berkurang, jumlah penerima juga menyesuaikan. Prinsipnya, bantuan harus tepat sasaran," ujarnya.

Pendaftaran Daring dan Kebijakan Sekolah Negeri Gratis

Pemkot Surabaya juga membuka kesempatan bagi warga yang belum sempat mendaftar pada tahap pertama untuk mengikuti pendataan berikutnya melalui mekanisme pendaftaran secara daring.

Di sisi lain, ia menegaskan sekolah negeri di Surabaya tidak lagi diperbolehkan menarik pungutan dalam bentuk apa pun seiring kebijakan Pemerintah Provinsi Jawa Timur yang menggratiskan pendidikan di sekolah negeri.

Sementara itu, siswa dari keluarga desil 1 hingga 5 yang bersekolah di sekolah swasta tetap memperoleh bantuan biaya pendidikan sebesar Rp350 ribu setiap bulan.

"Anak-anak yang masuk desil 1 sampai 5 dan bersekolah di sekolah swasta menerima bantuan Rp350 ribu setiap bulan. Dengan adanya bantuan ini, tidak boleh lagi ada pungutan kepada mereka. Ini merupakan bagian dari upaya mengentaskan kemiskinan sekaligus memastikan seluruh warga Surabaya mendapatkan pendidikan yang layak," tegasnya.

Ajakan Jauhi Kenakalan Remaja

Selain menyerahkan bantuan, ia mengajak para pelajar memanfaatkan kesempatan belajar dengan sebaik-baiknya serta menjauhi geng motor, tawuran, balap liar, maupun berbagai bentuk kenakalan remaja lainnya.

"Belajarlah dengan sungguh-sungguh dan buat bangga orang tua. Tunjukkan bahwa arek Suroboyo bisa menjadi generasi yang membanggakan," pesannya.

Verifikasi Ketat dan Peningkatan Nilai Bantuan

Kepala Bagian Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat (Bapemkesra) Kota Surabaya Arief Boediarto menjelaskan, dari 8.469 pendaftar, sebanyak 7.380 siswa dinyatakan lolos setelah melalui proses verifikasi dan validasi. Ia memastikan bantuan diberikan kepada warga yang benar-benar memenuhi syarat sehingga tepat sasaran.

Sementara itu, Ketua Tim Kerja Kesejahteraan Rakyat Bapemkesra Kota Surabaya Efi Zuliati mengatakan mekanisme penyaluran bantuan diubah berdasarkan hasil evaluasi tahun sebelumnya agar dana benar-benar dimanfaatkan untuk kebutuhan pendidikan.

Nilai bantuan juga meningkat dari Rp320 ribu menjadi Rp350 ribu per bulan untuk siswa SMA, SMK, dan MA swasta, yang dapat digunakan untuk membiayai kebutuhan pendidikan seperti SPP, LKS, hingga biaya praktik. Adapun siswa sekolah negeri tetap menerima bantuan perlengkapan sekolah pada awal mengikuti program.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga

Testimoni Penerima Manfaat

Salah satu penerima bantuan, Putri Fellin, siswi kelas XI SMK Rajasa Surabaya, mengaku program tersebut sangat membantu keluarganya sehingga dapat terus melanjutkan pendidikan.

"Saya senang sekali karena bantuan ini sangat meringankan beban orang tua. Alhamdulillah, sekarang saya bisa lebih tenang untuk melanjutkan sekolah," ungkapnya.

Ia berharap program tersebut terus berlanjut agar semakin banyak anak dari keluarga kurang mampu dapat mengenyam pendidikan tanpa terkendala biaya.

"Terima kasih kepada Bapak Eri Cahyadi yang sudah membantu anak-anak dari keluarga yang memiliki keterbatasan ekonomi. Bantuan ini sangat berarti karena membuat kami tetap bisa bersekolah dan mengejar cita-cita tanpa terbebani biaya pendidikan," pungkasnya.