Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas Presiden Prabowo Subianto telah membawa perubahan nyata bagi siswa dan orang tua di SDN Gentan, Seyegan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Sejak pertama kali diberikan pada 18 Agustus 2025, program ini tidak hanya memenuhi kebutuhan gizi anak-anak, tetapi juga menumbuhkan kebiasaan baik dan meringankan beban ekonomi keluarga.
Manfaat Langsung untuk Siswa dan Orang Tua
Is Hartati (43), orang tua siswa kelas V, mengaku program ini menjawab persoalan sarapan yang kerap diabaikan anaknya. "Anak tuh biasanya kalau di rumah sarapan cuma satu dua suap terus malas toh kalau mau sarapan itu. Ternyata alhamdulillah ada program MBG ini sangat membantu sekali untuk pemenuhan gizi dan sebagainya gitu," katanya. Hartati juga bersyukur menu MBG rutin menyediakan buah, yang menjadi tambahan asupan gizi yang belum tentu tersedia setiap hari di rumahnya.
Rosi Doniyati (40), orang tua siswa kelas III, merasakan perubahan positif pada anaknya. "Alhamdulillah uang sakunya juga sisa," ujarnya. Anaknya kini lebih sering makan buah dan pulang sekolah dalam keadaan kenyang. "Alhamdulillah selama ada MBG ini anak saya aman-aman aja," tambahnya.
Perubahan di Sekolah dan Kebiasaan Baik
Koordinator MBG SDN Gentan, Wihandoko Suko Lelono, mengatakan program ini sangat membantu siswa yang berangkat tanpa sarapan. Sebelum ada MBG, orang tua sering mengantar bekal menyusul ke sekolah. Kini, anak-anak mendapatkan makanan bergizi di sekolah. "Kalau dulu misalnya sebelum ada MBG, anak belum sarapan orang tua mengantarkan bekal. Sekarang sudah dapat MBG," katanya.
Wihandoko juga mengamati peningkatan konsentrasi dan semangat belajar siswa. "Yang jelas, konsentrasi dan semangatnya meningkat," ujarnya. Meski dampak pada prestasi akademik belum bisa dinilai dalam waktu singkat, kondisi fisik yang lebih baik membuat siswa tidak mudah lelah atau mengantuk saat belajar.
Harapan untuk Keberlanjutan dan Penyempurnaan
Hartati dan Rosi berharap MBG terus disempurnakan, termasuk menambah porsi nasi, memvariasikan menu, dan melibatkan pengusaha kecil di sekitar sekolah. Mereka ingin program ini berdampak lebih besar pada ekonomi lokal. Siswa kelas V, M. Aldiano Saputra alias Ando, juga berharap program ini berlanjut. "Senang, soalnya enak, gratis sama bikin kenyang," katanya, seraya menambahkan bahwa rasa kenyang membantunya lebih fokus di kelas.
Dukungan Pengamat dan Data Penerima Manfaat
Pengamat kebijakan publik, Trubus Rahardiansah, menilai MBG sebagai program unggulan karena memiliki cita-cita mulia. "Bayangkan makan sudah ada, sudah gratis, ada lagi," ujarnya. Ia menyarankan variasi menu berbasis kearifan lokal, seperti sagu atau talas, dan mendorong pengawasan pemerintah daerah agar SPPG melibatkan UMKM dan koperasi setempat.
Analis Senior ISEAI, Ronny P. Sasmita, menegaskan negara memiliki kewajiban konstitusional memenuhi gizi masyarakat. "Gizi adalah fondasi dari kualitas manusia," katanya. Hingga 3 Maret 2026, Badan Gizi Nasional mencatat 61.239.037 penerima manfaat MBG, dengan 49.057.682 di antaranya siswa sekolah. Indonesia menempati peringkat kedua dunia dalam jumlah penerima manfaat program makan sekolah, setelah India (118 juta), dan di atas Brasil, China, dan Amerika Serikat.
Menuju Generasi Merdeka
MBG bukan sekadar program makan gratis, melainkan investasi jangka panjang untuk mencetak generasi yang sehat, cerdas, dan berdaya saing. Dengan pemenuhan gizi yang baik, anak-anak Indonesia memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh, belajar, dan meraih cita-cita. Generasi merdeka, di mana setiap anak bisa berkembang tanpa dibatasi masalah gizi, kini mulai terwujud.



