Lestari Moerdijat Dorong Peningkatan Upaya Atasi Anak Tidak Sekolah
Lestari Moerdijat Dorong Atasi Anak Tidak Sekolah

Lestari Moerdijat: Tingkatkan Upaya Atasi Anak Tidak Sekolah

Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat (Rerie) menegaskan perlunya meningkatkan upaya mengatasi angka putus sekolah di tengah potensi dampak gejolak ekonomi global. Menurutnya, gejolak ekonomi global berpotensi melemahkan daya beli keluarga dan mengancam akses anak terhadap pendidikan.

"Dampak gejolak ekonomi global berpotensi memperlemah daya beli keluarga dan mengancam akses anak terhadap pendidikan. Upaya untuk mengantisipasi potensi peningkatan angka putus sekolah harus segera dilakukan," kata Rerie dalam keterangannya, Jumat (5/6/2026).

Ia menekankan pentingnya respons cepat dengan membuka akses pendidikan seluas-luasnya bagi masyarakat, memanfaatkan data terkini yang akurat. Rerie mengapresiasi langkah pemerintah menyediakan layanan pendidikan seperti sekolah satu atap, pembelajaran jarak jauh (PJJ), dan pendidikan inklusif berbasis masyarakat yang bertujuan mempermudah akses belajar.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

"Kolaborasi lintas sektor agar anak-anak yang tidak sekolah benar-benar dapat mengenyam pendidikan harus mampu diwujudkan," ujar Anggota Komisi X DPR RI tersebut. Ia mengajak pemangku kepentingan, dinas pendidikan, hingga kepala desa untuk mewujudkan kemudahan akses pendidikan dengan langkah akuntabel dan tepat sasaran.

"Sekarang, saatnya kita bergerak bersama, memastikan tidak ada satu pun anak bangsa yang tertinggal dari layanan pendidikan," kata Rerie.

Perpres ATS dan Data Terbaru

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti, pada Rabu (3/6), menegaskan upaya pemerintah menuntaskan masalah Anak Tidak Sekolah (ATS) melalui Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 3 Tahun 2026. Perpres ini menargetkan penyelesaian 645 ribu ATS hingga 2045.

Berdasarkan data Kemendikdasmen per 1 April 2026, jumlah ATS di Indonesia mencapai 3.966.858 anak. Rinciannya, 1.913.633 anak belum pernah bersekolah, 986.755 anak putus sekolah, dan 1.066.470 anak lulus tetapi tidak melanjutkan ke jenjang lebih tinggi. Data Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) mencatat sekitar 76% anak tidak bersekolah disebabkan faktor ekonomi.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga