Mendikdasmen Tegaskan TKA Bukan untuk Ranking Sekolah
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti secara tegas menyatakan bahwa nilai-nilai Tes Kemampuan Akademik (TKA) tidak seharusnya dijadikan sebagai bahan peringkat atau ranking antar sekolah. Pernyataan ini disampaikan dalam rangkaian acara Konsolidasi Nasional yang digelar di Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia (PPSDM) Kemendikdasmen, Depok, Jawa Barat, pada Senin (9 Februari 2026).
Fokus pada Refleksi dan Perbaikan Pembelajaran
Dalam pidatonya, Mu'ti menekankan bahwa hasil TKA seharusnya dimanfaatkan sebagai alat untuk melakukan refleksi mendalam terhadap proses pembelajaran yang telah berjalan. "Hasil TKA ini tidak diharapkan berujung pada skor apalagi ranking sekolah. Namun, harus menjadi bahan refleksi dan perbaikan proses pembelajaran," ujar Mu'ti dengan nada serius.
Ia menjelaskan bahwa pendekatan ini bertujuan untuk menghindari kompetisi tidak sehat antar lembaga pendidikan, yang justru dapat mengalihkan fokus dari esensi pendidikan itu sendiri. Dengan demikian, sekolah diharapkan dapat lebih berkonsentrasi pada peningkatan kualitas pengajaran dan pembelajaran, bukan sekadar mengejar angka-angka statistik.
Peran TKA dalam Validasi dan Standarisasi SNBP 2026
Selain sebagai bahan refleksi, Mu'ti juga menyoroti peran penting nilai TKA dalam konteks Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) untuk tahun 2026. Ia berharap bahwa data dari TKA dapat berfungsi sebagai validator dan alat standarisasi penilaian yang lebih objektif dalam proses seleksi tersebut.
"Nilai TKA diharapkan mampu memberikan gambaran yang lebih akurat dan terstandar mengenai kemampuan akademik peserta didik, sehingga dapat mendukung transparansi dan keadilan dalam SNBP," tambahnya. Hal ini dianggap sebagai langkah strategis untuk memastikan bahwa sistem pendidikan nasional terus bergerak ke arah yang lebih baik dan berkeadilan.
Dengan kebijakan ini, Kemendikdasmen berupaya untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih sehat dan berfokus pada pengembangan potensi siswa secara holistik, tanpa terbebani oleh tekanan peringkat yang seringkali kontraproduktif.