Ketua BEM UGM Jadi Sasaran Teror Telepon dari Inggris Raya Usai Kritik Pemerintah
Tiyo Ardiyanto, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM UGM), mengungkapkan bahwa dirinya menjadi target teror telepon beruntun sejak tanggal 9 Februari. Teror tersebut berasal dari nomor-nomor tak dikenal dengan kode negara Inggris Raya (+44), yang menghubunginya secara terus-menerus tanpa alasan jelas.
Pemicu Teror: Suara Kritik dan Isu Anak Bunuh Diri di NTT
Menurut Tiyo, serangkaian teror telepon ini mulai terjadi setelah ia secara vokal menyuarakan isu sensitif mengenai anak bunuh diri di Nusa Tenggara Timur (NTT). Ia juga mengkritisi kebijakan pemerintah yang dinilai tidak berpihak kepada kepentingan rakyat, khususnya dalam menangani masalah sosial dan ekonomi yang mendesak.
"Ini adalah bentuk intimidasi yang jelas terhadap aktivisme mahasiswa," ujar Tiyo dalam pernyataannya. "Saya hanya menyampaikan fakta di lapangan tentang kegagalan negara dalam melindungi warga, terutama anak-anak yang terpaksa mengambil jalan bunuh diri karena kemiskinan."
Surat Resmi ke UNICEF dan Kritik terhadap Negara
Sebelumnya, Tiyo bersama pengurus BEM UGM lainnya telah melayangkan surat resmi kepada UNICEF, badan PBB yang fokus pada anak-anak. Surat tersebut membahas kasus anak bunuh diri di NTT yang didorong oleh ketidakmampuan membeli buku dan pena dengan harga di bawah Rp 10.000.
Dalam surat itu, mereka menegaskan bahwa peristiwa tragis ini mencerminkan kegagalan negara dalam menjalankan tanggung jawabnya untuk melindungi dan memenuhi hak-hak dasar warga negaranya. "Ini bukan sekadar masalah ekonomi, tetapi juga krisis kemanusiaan yang membutuhkan perhatian serius," tambah Tiyo.
Dampak dan Respons dari Lingkungan Kampus
Teror beruntun ini telah menimbulkan kekhawatiran di kalangan mahasiswa dan civitas akademika UGM. Banyak yang mendukung Tiyo dan menyerukan investigasi mendalam untuk mengungkap pelaku di balik nomor-nomor asing tersebut.
"Kami mengutuk segala bentuk teror dan intimidasi terhadap mahasiswa yang berjuang untuk keadilan sosial," kata seorang perwakilan dari organisasi mahasiswa lainnya. Insiden ini juga menyoroti pentingnya keamanan digital dan perlindungan bagi aktivis yang menyuarakan isu-isu sensitif di ruang publik.
Hingga saat ini, pihak berwenang belum memberikan pernyataan resmi terkait kasus teror telepon ini. Namun, Tiyo dan BEM UGM berencana untuk melaporkan kejadian tersebut kepada kepolisian guna memastikan penyelidikan yang transparan dan akuntabel.