Serangan Masjid di Pakistan Ungkap Ancaman Teror yang Meningkat
Serangan bom bunuh diri yang menargetkan sebuah masjid Syiah di ibu kota Pakistan, Islamabad, pada Jumat (06/02) lalu, kembali menyoroti rapuhnya situasi keamanan di negara berpenduduk mayoritas muslim tersebut. Menurut otoritas setempat, ledakan itu menewaskan sedikitnya 31 orang dan melukai 169 orang lainnya, menciptakan kepanikan dan duka mendalam di kalangan masyarakat.
Kisah Korban dan Klaim Tanggung Jawab
Hussain Ali, seorang warga berusia 34 tahun, sedang berada di masjid bersama saudaranya saat serangan terjadi. Ia menggambarkan suasana kacau-balau dengan orang-orang berlari dan berteriak, berhamburan ke segala arah. "Asap dan darah ada di mana-mana, di lantai dan di sajadah. Saya kehilangan saudara saya, Abbas, dalam kejadian itu," katanya kepada Deutsche Welle (DW). Kelompok afiliasi ISIS di kawasan tersebut, yang dikenal sebagai ISIS di Pakistan, mengklaim bertanggung jawab atas serangan ini, menjadikannya insiden paling mematikan di Islamabad sejak bom bunuh diri di Hotel Marriott pada 2008 yang menewaskan 63 orang.
Memburuknya Situasi Keamanan Pakistan
Komunitas Syiah, sebagai minoritas di negara berpenduduk 241 juta jiwa yang mayoritas Sunni, kerap menjadi target kekerasan sektarian. Serangan terbaru ini terjadi ketika pemerintahan Shehbaz Sharif tengah berjuang mengendalikan lonjakan serangan militan dari berbagai kelompok, termasuk Tehreek-e-Taliban Pakistan (TTP) dan Islamic State Khorasan Province (ISKP).
Menurut analis keamanan Ihsanullah Tipu Mehsud, TTP memiliki kapasitas yang lebih besar dengan jumlah pejuang lebih banyak, wilayah operasi lebih luas, dan persenjataan lebih canggih. "TTP memanfaatkan jaringan pendanaan berlapis dan tempat perlindungan aman yang berkelanjutan di Afganistan," jelasnya. Di sisi lain, ISKP, meski lebih kecil, menghadirkan ancaman yang sulit diprediksi karena taktik operasinya yang cepat berubah dan sulit dilacak.
Respons Pemerintah dan Tudingan Internasional
Pihak berwenang Pakistan membantah anggapan bahwa negara kehilangan kendali, dengan menyebut banyak rencana serangan yang berhasil digagalkan. Menteri Dalam Negeri Talal Chaudhary menegaskan, "Kami telah menangkap para fasilitator ledakan dalam hitungan jam. Kami akan terus memerangi mereka hingga terorisme berakhir di negara ini." Presiden Asif Ali Zardari menyalahkan Taliban yang berkuasa di Afganistan atas memburuknya keamanan, sementara Menteri Pertahanan Khawaja Mohammad Asif menuduh India terlibat tanpa bukti, yang dibantah keras oleh Kementerian Luar Negeri India.
Prospek Perbaikan Keamanan
Imtiaz Gul, direktur eksekutif Center for Research and Security Studies, menekankan bahwa situasi tidak akan membaik kecuali pemerintah melibatkan semua partai politik dan pemangku kepentingan. "Yang dibutuhkan adalah pemerataan kepercayaan, bukan sekadar memperluas aparat keamanan," katanya. Analis Mehsud menambahkan, stabilisasi memerlukan pendekatan seimbang yang menggabungkan kekuatan militer dan non-militer, serta tekanan diplomatik untuk mengubah sikap Taliban Afganistan terhadap kelompok militan anti-Pakistan.