Topan Bavi Ancam China dan Taiwan Usai Maysak Tewaskan 39 Orang
Topan Bavi Ancam China dan Taiwan Usai Maysak Tewaskan 39

Nelayan berlindung di pelabuhan, warga mengantre karung pasir, dan petani bergegas memanen tanaman saat China dan Taiwan bersiap menghadapi Topan Bavi. Badai ini diproyeksikan menjadi bencana cuaca paling merusak dalam beberapa tahun terakhir di Asia Timur.

Ancaman Berskala Raksasa

Topan Bavi membentang selebar 1.000 kilometer, setara dengan luas daratan Prancis, dengan kecepatan angin mendekati 200 kilometer per jam. "Badai dengan ukuran sebesar ini terbilang sangat jarang terjadi dalam beberapa tahun terakhir," kata operator perkiraan cuaca di Badan Cuaca Pusat Taiwan, Jason Chang, kepada Reuters. Ia menambahkan bahwa Bavi berpotensi menjadi badai terbesar yang menghantam pulau itu sejak 1987.

Di kota nelayan Suao, timur laut Taiwan, ratusan kapal memadati pelabuhan untuk berlindung. "Jangan terkecoh dengan cuaca yang cerah dan tenang saat ini. Badai seperti ini bisa menjadi yang paling mengerikan," ujar Chen Ming-hui, kapten kapal penangkap ikan seberat tiga ton, kepada Reuters.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Peringatan dari Pakar Meteorologi

Pakar meteorologi secara global memperingatkan potensi destruktif Bavi. Peneliti siklon tropis di Imperial College London, Xiangbo Feng, dalam wawancaranya dengan Reuters menegaskan bahwa publik harus sangat mewaspadai badai ini. "Topan ini telah menghabiskan waktu lama untuk menguat di Pasifik, menyerap energi dari lautan hangat dan mengumpulkan kelembapan dalam jumlah besar," kata Feng.

Pakar meteorologi dari AccuWeather, Jason Nicholls, juga menyatakan kepada Reuters bahwa Bavi akan tetap menjadi badai berbahaya saat berdampak pada Taiwan dan China timur mulai Jumat (10/07) hingga Senin (13/07) mendatang.

Operasi Evakuasi Pasca Topan Maysak

Ketika bersiap menunggu kedatangan Bavi, otoritas di China selatan masih berjibaku dengan kehancuran akibat badai sebelumnya. Berdasarkan laporan Associated Press (AP), dari total 39 korban tewas di wilayah Guangxi, 26 di antaranya meninggal dunia setelah sebagian struktur bendungan waduk di Hengzhou jebol dan menumpahkan banjir bandang ke pusat kota. Wakil Wali Kota Nanning, Ding Wei, mengatakan kepada AP bahwa perbaikan jalan terus berlangsung dan listrik telah dipulihkan untuk lebih dari 60.000 rumah.

Dampak destruktif Maysak memaksa militer menggelar operasi evakuasi berskala besar, termasuk penyelamatan lebih dari 10.000 siswa di Guigang menggunakan perahu. Bencana ini juga memicu krisis ekologis sekunder. Reuters melaporkan ribuan bangkai babi ternak membusuk akibat terendam banjir di Kabupaten Binyang. Sementara itu, AP mencatat lebih dari 100 hewan eksotis di kebun binatang Guigang hilang dan kemunculan ular yang kabur dari peternakan di Hengzhou telah memaksa pemerintah mendistribusikan antibisa darurat.

Akar Masalah Perubahan Iklim

Rentetan badai ini bukan sekadar anomali sesaat. Para ilmuwan secara konsisten mengaitkan peristiwa cuaca ekstrem di kawasan Asia dengan perubahan iklim global. Fenomena El Nino tahun ini diproyeksikan makin meningkatkan suhu lautan, yang pada akhirnya menjadi bahan bakar ideal bagi topan untuk terbentuk secara lebih intens.

Krisis cuaca ekstrem ini tidak hanya terjadi di kawasan pesisir timur Asia Timur. Berdasarkan data AP, cuaca ekstrem di Provinsi Hubei, China tengah, yang diwarnai badai petir dan tornado awal pekan ini telah menewaskan 11 orang. Di belahan Asia lainnya, tanah longsor akibat hujan monsun turut merenggut belasan nyawa pengungsi Rohingya di Bangladesh.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga