Wali Kota Bekasi Diancam Golok Saat Penertiban PKL, Respons dengan Memaafkan
Walkot Bekasi Diancam Golok Saat Penertiban PKL, Langsung Memaafkan

Insiden Ancaman Golok ke Wali Kota Bekasi Saat Penertiban Pedagang Kaki Lima Viral di Media Sosial

Sebuah video yang menampilkan insiden penertiban pedagang kaki lima (PKL) di Teluk Pucung, Bekasi Utara, menjadi viral di berbagai platform media sosial. Dalam rekaman tersebut, terlihat Wali Kota Bekasi Tri Adhianto diancam oleh seorang pedagang yang membawa senjata tajam berupa golok. Momen ini terjadi saat operasi penertiban yang melibatkan aparat TNI dan Polri sedang berlangsung, menciptakan situasi yang cukup mencekam dan ramai diperbincangkan publik.

Detil Kejadian dan Tangkapan Video yang Beredar Luas

Video viral itu menunjukkan seorang pria berkaus merah berjalan cepat mengejar Tri Adhianto sambil membawa golok. Beberapa orang di lokasi langsung bereaksi dan berusaha menahan pria tersebut untuk mencegah tindakan yang dapat membahayakan keselamatan wali kota. Insiden ini terjadi di tengah keramaian penertiban, di mana emosi warga yang terdampak operasi tersebut tampak memuncak. Tri Adhianto, dalam pernyataannya di akun Instagram @mastriadhianto, mengakui memahami respons marah dari masyarakat, namun menegaskan bahwa penegakan aturan harus tetap dilakukan dengan pendekatan yang persuasif dan tidak represif.

Respons Wali Kota Bekasi: Memaafkan dan Menekankan Edukasi

Meski mengalami ancaman yang serius, Tri Adhianto menyatakan telah memaafkan pedagang bergolok tersebut bahkan sebelum pelaku meminta maaf. Ia menekankan pentingnya peran aktif serta kesadaran warga dalam mendukung penataan kota agar berjalan dengan baik. "Saya memahami beragam respons masyarakat atas kejadian di lapangan. Namun perlu saya tegaskan, penegakan aturan harus dilakukan secara persuasif. Itulah mengapa aparat hadir untuk menjaga stabilitas, bukan untuk bertindak represif," ujar Tri. Ia juga mengungkapkan kekhawatirannya jika pelanggaran aturan dibiarkan terus-menerus, dapat menjadi kebiasaan yang sulit diubah.

Tri Adhianto menambahkan bahwa petugas harus tetap tenang dalam menghadapi dinamika di lapangan dan tidak merespons dengan cara yang represif. "Karena kan menghadapi situasional harus dengan tenang ya dan kita kan juga sebagai aparatur tidak represif ya karena kan itu warga kita ya, saudara kita, yang perlu kita elus, kita sadarkan, bahwa ada satu proses yang tidak baik," jelasnya. Ia mengaku sudah terbiasa menghadapi berbagai dinamika saat pemerintah menjalankan kebijakan tertentu, dan menekankan bahwa optimalisasi sosialisasi serta edukasi kepada masyarakat sangat diperlukan sebelum melakukan penindakan.

Tidak Ada Laporan ke Kepolisian dan Seruan untuk Kerja Sama

Menariknya, meski insiden bernuansa ancaman senjata tajam ini sempat viral, pihak Wali Kota Bekasi memutuskan untuk tidak melaporkan kejadian tersebut ke kepolisian. Tri Adhianto menegaskan bahwa keberhasilan program pemerintah sangat bergantung pada partisipasi masyarakat. "Apapun ceritanya, program pemerintah tak akan pernah selesai, tidak akan pernah berhasil kalau masyarakat tidak ikut serta," ucapnya. Pernyataan ini menunjukkan komitmennya untuk membangun hubungan yang harmonis dengan warga, meski dihadapkan pada tantangan dalam penegakan peraturan.

Insiden ini menyoroti kompleksitas penertiban PKL di perkotaan, di mana aspek keamanan, sosial, dan hukum saling beririsan. Respons Tri Adhianto yang memilih memaafkan dan fokus pada edukasi menjadi contoh pendekatan yang lebih humanis dalam menangani konflik di ruang publik.