Kebuntuan komunikasi antara penyidik Polda Metro Jaya dan keluarga atlet golf putri Jesslyn Wijaya Lay menjadi sorotan dalam perkembangan kasus dugaan penculikan yang sempat dilaporkan ke polisi pada pertengahan Juli 2026. Penyidik mengaku kesulitan mendapatkan klarifikasi langsung dari pihak keluarga, padahal laporan mengenai dugaan penculikan tersebut telah dicabut oleh pelapor.
Penyidik Masih Menunggu Respons Keluarga
Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Budi Hermanto, menyampaikan bahwa pihaknya sudah menghubungi keluarga Jesslyn. Namun, sampai Sabtu (1/8/2026), penyidik belum menerima tanggapan dari kerabat maupun orang tua atlet tersebut. Budi menjelaskan, informasi yang valid mengenai dugaan penculikan hanya dapat diperoleh dari keluarga sebagai pihak yang paling mengetahui kondisi Jesslyn.
"Nah ini kami juga masih meminta waktu kepada pihak keluarga baik itu kerabat dekat, orang tua, untuk memberikan informasi respon terkait tentang adanya informasi ataupun isu tentang penculikan ini. Karena yang tahu persis kan pihak keluarga. Saat sekarang penyelidik masih coba untuk mendalami tetapi masih belum bisa berkomunikasi dengan pihak keluarga," kata Budi.
Budi juga menegaskan bahwa kewenangan untuk menjelaskan duduk perkara sepenuhnya diserahkan kepada keluarga. Polisi tidak ingin mengambil kesimpulan sebelum ada keterangan resmi dari mereka. "Ya, sampai sejauh ini pihak keluarga masih belum mau merespon jawab. Nah, kita serahkan, apakah ini tentang persoalan internal, kita serahkan kepada pihak keluarga. Biar keluarga yang menjawab," ujarnya.
Laporan Dicabut, Penyelidikan Tetap Dilanjutkan
Peristiwa yang berujung pada laporan dugaan penculikan itu terjadi pada Senin (13/7/2026) malam. Lokasi yang disebut dalam laporan adalah sebuah restoran tempat perayaan ulang tahun nenek Jesslyn. Laporan tersebut kini telah dicabut oleh pelapor, tetapi Polres Metro Jakarta Pusat tetap melanjutkan penyelidikan untuk mencari kejelasan fakta di lapangan.
Langkah penyelidikan yang dilakukan antara lain meminta keterangan dari sejumlah pihak serta menelusuri keberadaan Jesslyn. Hingga saat ini, polisi belum menyimpulkan apakah peristiwa tersebut benar-benar penculikan atau bukan.
Terbang ke Luar Negeri bersama Ibu dan Bibi
Penelusuran awal yang dilakukan polisi mengarah pada temuan bahwa Jesslyn sempat terbang ke luar negeri. AKBP Roby Saputra mengungkapkan bahwa Jesslyn bepergian bersama ibu dan bibinya. Rute penerbangan yang terdeteksi adalah dari Indonesia menuju Kuala Lumpur, kemudian melanjutkan perjalanan ke Bangkok.
"(Terbang) Bersama ibu dan bibinya. Terbang dari Indonesia ke Kuala Lumpur lalu ke Bangkok," ujar AKBP Roby Saputra saat dihubungi wartawan, Kamis (23/7/2026).
AKBP Roby menuturkan, komunikasi dengan pihak keluarga hingga saat itu belum berjalan. Oleh karena itu, polisi belum dapat memastikan apakah Jesslyn benar-benar menjadi korban penculikan atau terdapat alasan lain di balik kepergiannya.
Kronologi dari Calon Suami: Awalnya Beli Kue
Kabar penculikan Jesslyn menuai keraguan dari Evan, pria yang disebut sebagai calon suaminya. Evan yang kini berusia 37 tahun tidak yakin bahwa perempuan yang akan dinikahinya itu diculik. Kuasa hukum Evan, Andi Darti, memberikan kesaksian mengenai rangkaian kejadian pada 13 Juli 2026.
Andi Darti menjelaskan, Evan mengantar Jesslyn untuk membeli kue ulang tahun sebelum menuju restoran tempat acara keluarga Jesslyn digelar. Padahal, sebelumnya Jesslyn tidak merespons undangan perayaan tersebut. Ia baru bersedia datang setelah teman dekatnya meneruskan undangan dari tante Jesslyn. Evan kemudian mengantar Jesslyn ke restoran dan menunggu tidak jauh dari lokasi acara.
"Dia keluar dari rumah orang tuanya. Dia hidup di apartemen, tinggal di apartemen di daerah Pluit, sudah hampir 10 bulan. Nah, si Jesslyn ini itu juga dalam waktu dekat juga akan segera menikah dengan Evan," kata Andi Darti, Rabu (22/7/2026).
"Saat itu Jesslyn diminta untuk membawa kue ulang tahun. Nah, terus Jesslyn datang, sempat membeli kue ulang tahun bersama dengan pacarnya, Evan," ucap Andi.
Hilang Kontak dan Kesaksian di Restoran
Setelah acara berlangsung, Evan masih dapat berkomunikasi dengan Jesslyn sampai sekitar pukul 19.00 WIB. Namun, pada pukul 21.30 WIB, ponsel Jesslyn tidak dapat dihubungi. Evan kemudian bergegas mendatangi restoran tempat perayaan ulang tahun nenek Jesslyn.
Di dalam restoran, Evan masih melihat kue yang tadi dibeli bersama Jesslyn. Ia lalu mencari keterangan dari para saksi di lokasi, termasuk kerabat, tukang parkir, dan pegawai restoran. Sejumlah saksi menyebut Jesslyn dibawa paksa oleh orang yang tidak dikenal.
"Nah, akhirnya dia diberi tahu ada peristiwa Jesslyn diikat matanya, dibekap, baru digendong secara paksa, dimasukkan ke mobil. Jesslyn sempat memberontak, minta tolong, sempat keluar dari mobil tetapi didorong lagi," ceritanya.
Pelacakan Sinyal dan CCTV Rusak
Evan tidak tinggal diam. Ia berusaha menghubungi Jesslyn melalui ponsel, e-mail, dan media sosial, tetapi seluruh upaya itu tidak mendapat respons. Evan juga meminta bantuan temannya untuk melacak posisi ponsel Jesslyn.
Hasil pelacakan menunjukkan sinyal ponsel Jesslyn terpancar dari rumah orang tuanya di kawasan Ancol, tepatnya di Puri Jimbaran. Informasi ini disampaikan oleh Andi Darti kepada wartawan.
"Evan juga minta tolong ke temannya untuk mencari tahu posisi HP-nya Jesslyn. Menurut Evan, HP-nya masih memancar dari rumah orang tuanya yang di Ancol, yang di Puri Jimbaran," kata Darti.
Evan pun melaporkan peristiwa itu ke polisi dan turut serta dalam olah tempat kejadian perkara (TKP) di restoran. Namun, petugas tidak menemukan rekaman kamera pengawas atau CCTV karena perangkat di lokasi dinyatakan rusak. Kondisi tersebut membuat Evan semakin curiga terhadap berbagai kemungkinan yang terjadi pada Jesslyn.



