Devil's Advocate Mengupas Kapolri Listyo Sigit dalam Buku Biografi Kebijakan
Devil's Advocate Kupas Kapolri Listyo Sigit dalam Buku

Devil's Advocate Mengupas Kapolri Listyo Sigit dalam Buku Biografi Kebijakan

Jakarta - "Biografi Kebijakan" menjadi posisi yang diambil oleh Profesor (Ris) Hermawan 'Kikiek' Sulistyo dalam karya terbarunya yang mengangkat sosok Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo (LSP). Berbeda dengan biografi konvensional yang linear dan naratif, Kikiek memilih pendekatan yang lebih kritis dan analitis.

"Saya gak bisa ngolor," tulis Kikiek yang dikenal dengan gaya ceplas-ceplosnya. Ia membawa pembaca untuk memahami LSP melalui keputusan-keputusan strategis yang diambil di tengah tekanan berlapis: politik, opini publik, dan dinamika internal institusi kepolisian.

Pendekatan Devil's Advocate yang Unik

Kikiek tidak sekadar merangkai puja-puji, melainkan bertindak sebagai devil's advocate yang mengkritisi penjabaran Program Presisi secara mendalam. Buku ini menghindari glorifikasi dan justru mengakui kompleksitas medan yang dihadapi seorang Kapolri.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Pengalamannya mendampingi enam Kapolri sebelumnya serta rekam jejak akademiknya, termasuk melalui karya Democratic Policing, memberikan bobot tersendiri pada analisis yang disajikan.

Fragmen Personal dan Latar Belakang

Pada bagian awal, Kikiek menyelipkan fragmen personal yang singkat namun signifikan: kedekatan LSP dengan olahraga judo. Disiplin bela diri ini diyakini turut membentuk ketahanan fisik dan mental sang Kapolri.

Kesaksian Irjen Pol Krishna Murti tentang latihan bersama—termasuk kisah ekstrem saat Listyo Sigit membanting 60 pejudo Akademi Kepolisian—memberi sentuhan manusiawi, meski tidak menjadi fokus utama. Tak heran bila di internal kepolisian, LSP kerap diingat sebagai pejudo, bukan sekadar polisi.

Latar keluarga, pendidikan, serta lingkungan sosial-budaya Yogyakarta tempat LSP tumbuh hingga remaja juga disinggung sekilas. Semua itu membentuk sosok yang tegas namun empatik, terukur tanpa kehilangan kelenturan.

"Ia mampu melihat kekuasaan bukan sebagai hak, melainkan sebagai tanggung jawab moral," tulis Kikiek dalam bukunya.

Empat Kasus Ujian Besar

Dua bab terakhir dalam buku ini mengupas empat kasus utama yang menjadi ujian terberat bagi LSP maupun institusi kepolisian:

  1. Pembunuhan oleh Kadiv Propam Irjen Ferdy Sambo terhadap ajudannya pada pertengahan 2022
  2. Tragedi Kanjuruhan (1 Oktober 2022)
  3. Kasus narkoba oleh Kapolda Sumatera Barat Irjen Teddy Minahasa
  4. Insiden kerusuhan Agustus 2025

Keempat kasus tersebut menjadi semacam gempa tektonik yang menurunkan kepercayaan publik terhadap Polri ke titik terendah dalam dua dekade terakhir. Namun secara perlahan kepercayaan publik kembali bangkit ketika masyarakat melihat respons cepat, transparan, dan konsisten—bukan karena propaganda tapi ketulusan institusi dalam mengakui kesalahan.

Gaya Kepemimpinan dan Reformasi

Ketika kerusuhan Agustus 2025 menghantam, tulis Kikiek, LSP tidak mencari kambing hitam lapangan, tetapi memerintahkan audit komando. Ia juga membentuk tim reformasi internal sebagai upaya memperkuat akuntabilitas dan profesionalisme institusi yang dipimpinnya.

"Gaya kepemimpinan LSP yang tenang, rasional, dan empatik menciptakan ruang refleksi di tengah polarisasi publik," tulis Kikiek dalam analisisnya.

Buku berjudul Alter Ego Listyo Sigit Presisi Sebuah Biografi Kebijakan ini diterbitkan oleh Pensil 324 pada tahun 2026 dengan ketebalan 246 halaman. Karya ini menawarkan perspektif unik tentang kepemimpinan di tubuh kepolisian Indonesia melalui sosok yang sedang memegang tampuk pimpinan tertinggi.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga