Bripka Hamzah, Polisi Pengabdi 15 Tahun di Pulau Terdepan Sulteng, Diusulkan untuk Hoegeng Awards 2026
Bripka Hamzah, Polisi Pengabdi 15 Tahun di Pulau Terdepan Sulteng

Bripka Hamzah, Polisi Pengabdi 15 Tahun di Pulau Terdepan Sulteng, Diusulkan untuk Hoegeng Awards 2026

Bripka Hamzah Ladema telah menunjukkan konsistensi dalam melayani masyarakat di ujung timur pulau terdepan Sulawesi Tengah (Sulteng) selama 15 tahun. Tidak sekadar bertugas sebagai aparat kepolisian, ia juga aktif membantu dan mendampingi warga dalam berbagai aspek kehidupan. Atas pengabdiannya yang luar biasa ini, Bripka Hamzah kini diusulkan dalam program prestisius Hoegeng Awards 2026.

Dekat dengan Masyarakat dan Sering Memberi Bantuan

Sebagai Bhabinkamtibmas Desa Sonit di Kecamatan Bokan Kepulauan, Kabupaten Banggai Laut, Bripka Hamzah sebelumnya juga sempat menjadi kandidat dalam program Hoegeng Corner 2025. Nursalim Yahya, Sekretaris Desa Sonit, mengenal Bripka Hamzah sebagai polisi yang baik dan sangat dekat dengan masyarakat. "Sudah berapa puluh tahun anggota kepolisian yang bertugas di sini, cuma Pak Hamzah ini yang merupakan polisi yang sangat baik menurut kami, beliau memang terbaik. Beliau ini dekat sekali dengan masyarakat dan beliau ini tidak segan-segan membantu masyarakat yang membutuhkan," ungkap Nursalim.

Ia mencontohkan, ketika ada warga yang tidak mampu membeli beras, Bripka Hamzah langsung memberikan bantuan. Saking dekatnya, Bripka Hamzah sudah dianggap sebagai keluarga di Desa Sonit. Setiap ada wacana pergantian Bhabinkamtibmas, usulan tersebut selalu ditolak warga yang memilih mempertahankannya. "Beliau tidak memandang siapa itu, apakah itu orang jahat yang kita tidak tahu dari mana atau orang baik, beliau dengan tanpa ragu selalu mengulurkan tangan membantu," tambah Nursalim.

Memberdayakan Ekonomi Lokal dan Pendidikan

Bripka Hamzah tidak hanya fokus pada keamanan, tetapi juga memberdayakan ekonomi warga. Ia menggerakkan masyarakat, terutama ibu-ibu, untuk memanfaatkan potensi lokal dengan menanam rumput laut. Hasil panennya dijual ke Banggai Laut, memberikan penghasilan tambahan. "Alhamdulillah kita di sini tidak ada juga yang terikat dengan bos yang memang ada di desa. Jadi kita bebas menjualnya hasil itu ke kota ke Banggai Laut," jelas Nursalim.

Selain itu, Bripka Hamzah aktif terlibat dalam membantu pendidikan dengan menyambangi sekolah-sekolah yang memerlukan bantuan. Ia juga rutin melakukan sambang ke warga untuk menyerap keluhan dan memberikan bantuan sembako, meski kadang harus mengeluarkan biaya pribadi ketika dana Bhabinkamtibmas tidak mencukupi.

Perjalanan Penugasan yang Penuh Tantangan

Dalam program Hoegeng Corner 2025, Bripka Hamzah menceritakan awal penugasannya di Desa Sonit sekitar tahun 2008-2009. Saat itu, ia ditugaskan untuk mengamankan desa dari potensi gangguan keamanan akibat kabar bahwa Desa Sonit akan dimasukkan ke Kepulauan Taliabu, Maluku Utara. Berkat upayanya, potensi konflik berhasil diredam, dan tokoh masyarakat memintanya untuk tetap bertugas di sana.

Pada tahun 2011, ia dikukuhkan sebagai Bhabinkamtibmas. Menjalankan tugas di lokasi terpencil ini tidak mudah. Perjalanan dari Banggai Laut ke Desa Sonit memakan waktu sekitar 5-8 jam dengan kapal, dan seringkali ia harus menggunakan perahu ketinting milik nelayan jika jadwal kapal tidak bertepatan. "Kendalanya biasanya apabila ada kegiatan di Polres atau Polsek pada saat itu tidak bertepatan dengan jadwal kapal, saya harus menggunakan perahu ketinting milik nelayan," ujarnya.

Meski menghadapi risiko seperti kapal mati mesin di laut, Bripka Hamzah bersyukur selalu diberikan keselamatan. Ia berharap mendapat bantuan kapal tipe long boat untuk memudahkan operasional, terutama dalam mengantar warga sakit ke Banggai Kepulauan. Dedikasi Bripka Hamzah ini menjadi inspirasi dan contoh nyata pelayanan polisi di daerah terpencil.