Dankor Brimob Tegaskan Penanganan Unjuk Rasa dengan Pendekatan Humanis, Hindari Kekerasan
Liputan6.com, Jakarta - Personel Korps Brimob Polri diminta untuk menerapkan pendekatan humanis dan meninggalkan cara-cara kekerasan dalam mengamankan aksi unjuk rasa. Hal ini ditegaskan oleh Dankor Brimob Polri, Komjen Pol. Ramdani Hidayat, dalam pernyataannya kepada media di Mako Brimob Kelapa Dua, Depok, pada Rabu (22/4/2026).
Soft Power Jadi Prioritas Utama
Ramdani menyatakan bahwa penanganan massa saat ini tidak harus dilakukan dengan kekerasan. "Penanganan massa sekarang tidak harus dengan kekerasan ya. Kita tunjukkan dulu pakai soft power," ujarnya. Ia menekankan bahwa Korps Brimob berperan sebagai kekuatan terakhir dalam penanganan unjuk rasa, dengan fungsi Binmas (Pembinaan Masyarakat) dan Sabhara (Samapta Bhayangkara) yang lebih dikedepankan.
Pendekatan ini merupakan upaya untuk menyamakan persepsi dari tingkat pusat hingga daerah, khususnya bagi Korps Brimob. Ramdani mengingatkan bahwa unjuk rasa merupakan aktivitas yang sah dan tidak dilarang. Namun, jika aksi tersebut sudah mengarah kepada tindakan pelanggaran hukum seperti pengrusakan, pembakaran, atau mengancam jiwa, maka akan ditindak tegas. "Kalau unjuk rasanya sih, semua boleh-boleh saja unjuk rasa. Tapi kalau sampai pengrusakan, pembakaran, kemudian membuat jiwa seseorang terancam, bahkan sampai meninggal dunia, baru kita nanti tindak," tambahnya.
Kesiapan Menghadapi Dinamika Global
Sesuai arahan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, setiap anggota Korps Brimob dituntut untuk siap menghadapi segala situasi, termasuk dampak dari kondisi global saat ini. Kapolri menyoroti konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat yang berdampak pada kenaikan harga kebutuhan pokok dan krusial masyarakat. "Dampak dari perang Iran, Israel, sama Amerika, akhirnya berdampak ke seluruh, termasuk dampak kepada kebutuhan pokok, kebutuhan krusial masyarakat. Bukan masalah naik turunnya harga itu, tapi dampak naik dan turunnya harga itu," kata Kapolri.
Ia menegaskan bahwa Brimob Polri sangat membutuhkan personel yang siap melaksanakan kegiatan terkait permasalahan-permasalahan tersebut. Menyikapi arahan ini, Ramdani menyatakan kesiapannya untuk melakukan evaluasi dalam setiap kegiatan, termasuk upaya modernisasi dan penguatan peralatan, serta penyiapan sistem pelatihan. "Kejadian-kejadian apa pun kita evaluasi dan kita benahi, termasuk penguatan peralatan, modernisasi peralatan, sampai sistem pelatihan. Itu yang kita siapkan semuanya," katanya.
Pujian Kapolri untuk Pasukan Elit
Sebelumnya, Kapolri Listyo Sigit Prabowo menyebut Korps Brimob sebagai pasukan elit kebanggaannya. "Anggota-anggota pasukan elite kebanggaan saya," ujarnya. Sigit menekankan pentingnya seluruh personel Brimob untuk mengikuti perkembangan dinamika global, khususnya yang berdampak pada situasi dalam negeri.
Ia menjelaskan bahwa eskalasi konflik global tidak hanya menyebabkan korban jiwa, tetapi juga kerusakan infrastruktur dan gangguan pada sektor energi, mengingat 20 persen pasokan energi dunia melewati Selat Hormuz. "Artinya kita semua harus terus bersiap menghadapi situasi yang ada dan ini tentunya akan berdampak terhadap meningkatnya harga minyak dunia," ungkapnya.
Dampak ini akan dirasakan di dalam negeri melalui kenaikan harga BBM dan LPG non subsidi, yang dapat mengancam keamanan dan ketertiban. "Oleh karena itu tentunya kita semua harus selalu siap, kita semua harus selalu waspada, mempersiapkan diri untuk terus melatih menghadapi segala macam dinamika yang mungkin terjadi," jelas Sigit. Ia juga menekankan bahwa kekompakan dan kesolidan adalah kunci bagi Korps Brimob dalam menghadapi situasi saat ini.



