Ayah Dokter Eliza Princila Utami Pakaenoni atau Dokter Icha, Gabriel Pakaenoni, mengungkapkan bahwa anaknya mengalami intimidasi berat dari tiga anggota DPRD Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur, sebelum ditemukan tewas bunuh diri pada Jumat (26/6/2026). Tiga anggota DPRD yang diduga melakukan intimidasi adalah Therezius Lazakar (Golkar), Robert Tubani (PKB), dan Veronika Lake (PDIP).
Kronologi Intimidasi yang Dialami Dokter Icha
Menurut Gabriel, berdasarkan catatan yang dibuat Dokter Icha sendiri, intimidasi terjadi saat ia menangani pasien gigitan ular di ruang Unit Gawat Darurat (UGD) Rumah Sakit Leona Kefamenanu pada 13 Juni 2026. "Berdasarkan kronologi yang dibuat oleh dokter Icha sendiri, intimidasinya banyak, tekanan yang paling dan sangat luar biasa," kata Gabriel di rumah duka, Senin (29/6).
Ia menuturkan, anaknya mendapat intimidasi berupa ditunjuk-tunjuk dan dihardik dengan nada ancaman. Ketiga terduga pelaku menegaskan identitas mereka sebagai anggota DPRD dari Komisi III yang memiliki kuasa untuk setiap praktik dokter di Kabupaten TTU. "Contoh seperti ditunjuk-tunjuk, sudah itu menyatakan diri bahwa dia adalah anggota DPRD Komisi III yang membidangi dinas kesehatan bahkan bisa membekukan setiap praktik dilakukan oleh para dokter," ujar Gabriel mengulangi penyampaian korban.
Tekanan Berat Saat Menangani Pasien
Gabriel menyebut bahwa anaknya stres dan depresi akibat bentakan dari para terduga pelaku. Meski tertekan, Dokter Icha tetap melaksanakan tugasnya menangani pasien gigitan ular yang ternyata keponakan dari Therezius Lazakar. "Yang lain membentak dengan nada yang tidak kita harapkan, padahal dia adalah seorang tenaga medis," ucapnya.
Menurut Gabriel, dalam kasus ini ia tidak hanya membela anaknya, tetapi juga profesi tenaga medis atau dokter. Ia menyampaikan dua tuntutan: pertama, penegakan hukum secara transparan tanpa intervensi dari pihak manapun sehingga keluarga bisa mendapat keadilan sesuai data dan fakta. Kedua, pemerintah dan rumah sakit harus memberikan rasa aman dan nyaman bagi semua tenaga kesehatan, khususnya dokter, selama melaksanakan tugas di semua fasilitas kesehatan.
Dokter Icha Telah Bekerja Sesuai SOP
Gabriel menegaskan bahwa sebelum kasus ini, Dokter Icha tidak pernah mengalami intimidasi atau ancaman dalam bentuk apapun, baik saat bertugas di puskesmas maupun di RS Leona Kefamenanu. Ia juga menyatakan bahwa penanganan pasien gigitan ular telah dilakukan sesuai standar operasional prosedur (SOP). Bahkan, Dokter Icha sempat berkomunikasi dengan dokter ahli bisa ular, dr. Tri Maharani, untuk penanganan pasien tersebut.
Ibu Dokter Icha: Anak Sangat Terpukul
Sementara itu, ibu kandung Dokter Icha, Nur Azizah, mengaku anaknya sempat bercerita melalui telepon tentang intimidasi yang dialami. Dalam perbincangan itu, Dokter Icha merasa sangat terpukul. "Pada malam kejadian dia langsung menelpon ke kami sebagai orang tua dan itu diceritakan berulangkali," kata Nur di rumah duka.
Dokter Icha ditemukan meninggal dunia di kamar rumahnya di kawasan RSS Baumata, Desa Baumata Barat, Kecamatan Taebenu, Kabupaten Kupang, pada Jumat (26/6) sore. Ia diduga bunuh diri karena depresi akibat intimidasi tiga anggota DPRD TTU.
Veronika Lake Bantah Terlibat Intimidasi
Salah satu anggota DPRD TTU yang terseret kasus ini, Veronika Lake, mengaku tidak terlibat dalam dugaan intimidasi terhadap Dokter Icha. "Saya, Veronika Lake, dengan penuh kerendahan hati menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya atas meninggalnya Dokter Icha. Semoga almarhumah mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan serta penghiburan," ujar Veronika, Senin (29/6).
Veronika berkata kehadirannya di RS saat itu bukan kunjungan terjadwal. Ia ke RS karena kebetulan menumpang kendaraan usai menghadiri arisan istri-istri anggota DPRD TTU di Kecamatan Insana. Menurut Veronika, di tengah perjalanan pulang, Therensius Lazakar mengajak singgah di IGD RSU Leona untuk menjenguk keponakannya yang dirawat karena gigitan ular berbisa.
Perdebatan antara dua rekannya dengan seorang dokter, disebut Veronika sudah berlangsung saat ia masih di depan ruang IGD. "Saat masuk, perdebatan antara dua rekan dan seorang dokter disebut sudah berlangsung. Saya kemudian ikut menanyakan bagaimana tindak lanjut penanganan pasien, standar pelayanan, dan kualitas pelayanan," ujar Veronika.
Veronika mengakui dalam perdebatan itu sempat mengucapkan 'panggil wartawan saja'. Namun, ia membantah ucapan itu ditujukan kepada Dokter Icha. Klaim Veronika, ucapan itu adalah usul yang ia sampaikan kepada salah satu rekannya saat itu agar ada liputan eksternal dan investigatif terkait transparansi pelayanan kesehatan, evaluasi, dan perbaikan kualitas pelayanan. "Jadi, tidak ditujukan kepada personal atau pribadi," tuturnya.



