Jakarta - Proses evakuasi korban kecelakaan kereta di Stasiun Bekasi Timur berlangsung dramatis dan penuh tantangan. Tim gabungan dari Basarnas, TNI, Polri, dan Pemadam Kebakaran berjibaku menyelamatkan para penumpang yang menjadi korban dalam insiden tabrakan antara Kereta Api Jarak Jauh (KAJJ) Argo Bromo Anggrek dengan Kereta Rel Listrik (KRL) Commuter Line.
Kendala Evakuasi: Korban Terjepit di Gerbong
Rian, salah satu anggota Basarnas yang turun langsung dalam misi penyelamatan, menggambarkan situasi di lapangan sangat mencekam. Dalam kondisi gelap dan ruang sempit, tim harus berpacu dengan waktu. Total delapan jam dihabiskan untuk mengevakuasi penumpang yang terjepit badan kereta.
"Ada korban yang memang terjepit di gerbong kereta. Nah, mungkin kendala kami ya," ungkap Rian kepada Liputan6.com, Selasa (28/4/2026).
Menurut Rian, kendala terbesar adalah menyelamatkan korban yang terjepit, sehingga petugas harus memotong bagian-bagian kereta untuk mengeluarkan mereka. "Nah, mungkin kendala kami ya karena itu, kami harus memotong part-part atau bagian-bagian dari gerbong-gerbong yang ada untuk bisa mengeluarkan si korban," jelas Rian.
Proses Pemotongan Besi yang Rumit
Proses pemotongan besi bukanlah hal mudah bagi Rian dan tim Basarnas. Petugas harus bekerja cepat namun tetap mengedepankan kehati-hatian. Ditambah lagi, ruang sempit membatasi pergerakan mereka. Rian menjelaskan bahwa pemotongan besi dilakukan dengan alat khusus, tidak bisa menggunakan alat sembarang.
"Untuk kondisi korban itu posisi dalam sudah meninggal dunia, kondisinya kejepit. Makanya kami agak susah mengeluarkan itu karena harus memotong-motong dulu," sambungnya.
Tidak semua penumpang selamat dari peristiwa ini. Sejumlah korban selamat yang terjepit mengalami benturan keras, namun ada pula yang ditemukan meninggal dunia saat proses evakuasi. "Untuk korban yang selamat ya, yang kami temukan dalam kondisi masih bisa hidup itu, kondisi hidup, cuma terjepit aja mereka," ungkap dia.
Penjelasan Kepala Basarnas
Sementara itu, Kepala Basarnas Marsekal Madya Muhammad Syafii menjelaskan alasan proses evakuasi dilakukan secara hati-hati dan bertahap. Menurut dia, langkah tersebut diambil karena sejumlah korban masih dalam kondisi terjepit di dalam rangkaian kereta, sehingga membutuhkan penanganan khusus.
"Alhamdulillah dari seluruh korban tentunya dengan penanganan khusus ada beberapa korban yang memang harus kita lakukan tindakan secara terukur karena memang membutuhkan penanganan khusus, sehingga mungkin ada sempat dipertanyakan kenapa kereta atau lokomotif tidak langsung ditarik bersamaan dengan gerbong," katanya.
Dirinya juga menyampaikan bahwa saat itu ada lima korban yang masih dalam kondisi terjepit dan harus dilakukan kegiatan retrikasi atau ekstrikasi sehingga korban bisa diselamatkan tanpa menimbulkan dampak yang lebih berat. Proses ekstrikasi terhadap korban menjadi prioritas utama dalam operasi penyelamatan guna meminimalisir risiko cedera yang lebih parah.
Syafii menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat dalam proses evakuasi, termasuk tim SAR gabungan dan media yang turut memantau jalannya operasi. "Jadi itu sekali lagi terima kasih atas rekan-rekan media yang telah mengikuti secara langsung proses evakuasi ini, dan Alhamdulillah atas kerja sama dari seluruh unsur bahwa operasi SAR bisa kita laksanakan sesuai dengan yang kita harapkan," ujarnya.
Ia memastikan operasi SAR terhadap kecelakaan tersebut telah dinyatakan selesai pada pagi hari setelah seluruh korban berhasil dievakuasi. "Dan tadi pagi dengan pukul 08:00 sudah selesai, seluruh tim SAR kita nyatakan kita kembalikan ke homebase masing-masing. Mungkin demikian yang bisa saya tambahkan, terima kasih," pungkasnya.
Evakuasi Selesai dalam 10 Jam
Proses evakuasi pascainsiden kecelakaan KRL versus KA Argo Bromo di Bekasi Timur selesai dilakukan. Proses evakuasi memakan waktu lebih kurang 10 jam sejak kecelakaan terjadi pukul 20.50 WIB. "Evakuasi dari Kereta Argo Anggrek sudah kami bisa lakukan 100 persen. Sekarang kalau dilihat juga lokomotifnya sudah lepas dari rangkaian terakhir KRL yang terdampak," kata Dirut PT KAI, Bobby Rasyidin, dalam jumpa pers di Stasiun Bekasi Timur, Selasa (28/4/2026).
Bobby juga memastikan jalur tempat kecelakaan terjadi sebenarnya sudah steril sejak malam sebelumnya. Namun, KRL belum bisa beroperasi. "Jalur hilirnya juga dari tadi malam juga sudah kita buka dan bisa beroperasi normal. Sementara untuk Commuter Line atau KRL akan ditutup dulu. Akan ditutup dulu dan stasiun terakhir layanan terakhir adalah Stasiun Bekasi," katanya.



