Perlintasan Tanpa Palang Pintu: Saksi Bisu Kecelakaan Maut Kereta di Bekasi
Perlintasan Tanpa Palang Pintu Saksi Bisu Kecelakaan Maut

Perlintasan kereta api tanpa palang pintu di Jalan Ampera, Kelurahan Duren Jaya, Kecamatan Bekasi Timur, Jawa Barat, menjadi sorotan publik. Lokasi ini merupakan titik awal terjadinya kecelakaan maut antara KRL dengan kereta Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi. Berdasarkan pantauan langsung, jalur lintasan yang lebarnya kurang dari lima meter tersebut tidak dilengkapi palang pintu resmi. Padahal, volume kendaraan yang melintas di Jalan Ampera tergolong padat, terutama pada jam sibuk pagi dan sore hari.

Kondisi Perlintasan yang Memprihatinkan

Beragam jenis kendaraan melintasi perlintasan tersebut, mulai dari sepeda motor, mobil pribadi, hingga truk besar. Di tengah kepadatan lalu lintas, area sekitar rel kereta tampak hidup. Anak-anak bermain di pinggir jalan, sebagian warga bersantai di warung kecil yang tak jauh dari lokasi, dan ada pula yang sekadar berdiri menunggu kereta melintas.

Meskipun terdapat rambu-rambu peringatan agar pengendara berhati-hati, fasilitas pengaman di perlintasan ini sangat minim. Hanya ada satu palang di satu sisi, sementara sisi lainnya tidak memiliki palang sama sekali. Palang yang ada pun hanya terbuat dari bambu yang diangkat secara manual oleh warga secara bergiliran. Selain itu, warga sesekali berteriak memberi peringatan kepada pengendara ketika kereta akan melintas.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Banyak Warga Nekat Menerobos

Titin, seorang pemilik warung di sekitar lokasi, mengungkapkan bahwa kecelakaan seperti ini sebenarnya jarang terjadi. Menurutnya, peristiwa tragis ini merupakan yang pertama setelah sekian lama tidak ada insiden serupa. "Kalau kecelakaan sebenarnya jarang sih, baru ini lagi kejadian," ujar Titin saat ditemui pada Selasa (28/4/2026).

Ia menambahkan bahwa kondisi palang pintu seperti ini sudah berlangsung lama. Karena dianggap sudah biasa, banyak pengendara yang nekat menerobos lintasan meskipun sudah diperingatkan akan ada kereta lewat. "Kalau nyelonong sih emang sudah umum dah. Sering itu mah. Tapi emang biasanya aman karena ada yang jaga," jelas Titin.

Warga Gotong Royong Berjaga

Meskipun tidak ada penjaga resmi atau palang pintu yang memadai, warga setempat bahu-membahu menjaga perlintasan secara bergiliran setiap hari. Mereka menerapkan sistem shift untuk memastikan selalu ada yang mengawasi. "Ada shift yang jaga, jadi ganti-gantian warga. Misalnya kayak kemarin nih (ketika kejadian), itu ada yang jaga dari jam 7 sampai jam 10. Nanti setelah itu ada lagi," ungkap Titin.

Bagi Titin dan warga sekitar, jalur ini bukan sekadar perlintasan, melainkan bagian dari aktivitas sehari-hari yang menghubungkan mereka menuju Jalan Djuanda. Jalan ini merupakan jalur utama karena aksesnya lebih dekat. Jika harus memilih jalur lain, warga harus memutar melalui daerah Bulak Kapan yang memakan waktu lebih lama dan jarak tempuh lebih jauh.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga