Polisi Ungkap Pemicu Teror Tetangga di Depok: Kata Kasar dan Musik Keras
Polisi Ungkap Pemicu Teror Tetangga di Depok

Kasi Humas Polres Metro Depok AKP Hendra mengungkapkan bahwa pemicu teror tetangga terhadap warga di Pancoran Mas, Kota Depok, Jawa Barat, adalah kata-kata kasar dan setel musik keras karena rumah yang saling berdekatan. Hal ini disampaikan saat dihubungi detikcom pada Minggu (19/7/2026).

Polisi Periksa Lima Saksi dan Kirim Surat Panggilan

Polisi telah melakukan pengecekan tempat kejadian perkara (TKP) dan memeriksa lima orang saksi terkait kasus dugaan perusakan rumah tersebut. "Langkah yang sudah dilakukan Sat Reskrim Polres Metro Depok, yaitu melakukan pengecekan TKP. Sudah memeriksa 5 orang saksi," ujar AKP Hendra. Polisi juga telah mengirimkan surat panggilan terhadap terduga pelaku, tetangga korban, yang dijadwalkan hadir pada Senin (20/7/2026).

Mediasi Sejak 2024 Gagal Hentikan Pertikaian

Kasat Reskrim Polres Metro Depok AKBP Made Gede Oka mengungkapkan bahwa kedua belah pihak sempat dimediasi oleh Bhabinkamtibmas dan Polsek, namun pertikaian berlanjut hingga korban membuat laporan polisi. Perselisihan ini bermula sejak 2024 dan telah beberapa kali dimediasi oleh pihak RT dan RW. "Untuk perselisihan tersebut dimulai dari tahun 2024 ya informasinya. Dan sudah beberapa kali dilakukan mediasi disaksikan pihak RT dan RW," ungkapnya.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Korban Melaporkan Perusakan Properti Rumah

Saat ini korban telah membuat laporan polisi terkait perusakan properti rumah yang dilakukan oleh tetangganya. "Untuk laporan kali ini yang kami proses mengenai perusakan properti rumah korban oleh terlapor," tutur AKBP Made.

Kesaksian Korban: Pagar Ditendang dan Teror Golok

Anak korban, Novita (29), menceritakan bahwa tetangganya kerap berulah di depan rumahnya. Pagar rumahnya rusak ditendang tetangganya pada Rabu (15/7). "Itu (perusakan pagar) barusan yang tanggal 15 yang kemarin. Itu baru. (Pakai) kaki, ditendang," kata Novita ditemui di rumahnya, Jumat (17/7). Novita juga mengaku keluarganya pernah diteror dengan golok saat Lebaran lalu. "Sampai pas Lebaran aja pernah kita dibawain golok. Keluarga lagi pada kumpul di rumah, dibawain golok. Banyak saksi hidup, keluarga saya masih pada hidup. Sayangnya belum ada CCTV," ucap Novita. Ia menambahkan bahwa gangguan verbal hampir terjadi setiap hari.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga