Rosita Istiawan Ubah Lahan Gersang Megamendung Jadi Hutan Organik Selama 25 Tahun
Rosita Istiawan Ubah Lahan Gersang Jadi Hutan Organik 25 Tahun

Perjuangan 25 Tahun Rosita Istiawan Menghidupkan Kembali Lahan Gersang Megamendung

Rosita Istiawan telah membuktikan bahwa dedikasi dan konsistensi mampu mengubah lahan yang rusak menjadi sumber kehidupan. Selama lebih dari seperempat abad, ia merawat kawasan Megamendung di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, yang awalnya dikenal sebagai wilayah rawan longsor dengan tanah asam dan gersang. Kini, lahan seluas 30 hektare itu telah berubah menjadi hutan organik yang subur, memberikan manfaat ekologis signifikan bagi lingkungan sekitar.

Dari Lahan 2.000 Meter Persegi Menjadi Hutan 30 Hektare

Perjalanan Rosita dimulai pada awal tahun 2000-an dengan mengelola lahan seluas sekitar 2.000 meter persegi. Melalui pembelian bertahap dari warga setempat, kawasan tersebut berkembang hingga mencapai 30 hektare. "Kalau pemiliknya tidak tinggal di situ, batas lahan bisa berubah tanpa disadari dan tanah bisa berpindah," ungkap Rosita dalam acara Talk Show Rooted in Purpose: Women Shaping Climate Outcomes pada 10 Februari 2026.

Keputusan untuk menetap di lokasi menjadi kunci penting dalam menjaga keberlanjutan hutan. Rosita memastikan kawasan tetap berfungsi sebagai ruang hijau tanpa membangun pagar tembok. Batas kawasan dibuat dari pohon keras agar hutan tetap terbuka dan menyatu dengan kehidupan masyarakat sekitar. "Saya tidak mau hutan ini tertutup. Batasnya cukup pohon supaya tetap hidup bersama lingkungan sekitar," tegasnya.

Agroforestri: Strategi Menghijaukan Tanah yang Rusak

Tanpa latar belakang kehutanan, Rosita belajar dari pengalaman langsung. Awalnya, ia mencoba menanam tanaman cepat panen untuk hasil ekonomi, namun banyak yang gagal karena kondisi alam Megamendung yang lembap dengan curah hujan tinggi. Dari kegagalan ini, ia beralih ke sistem agroforestri atau tumpang sari.

Dalam satu hektare lahan, Rosita menanam sekitar 1.500 pohon dari berbagai jenis, dipadukan dengan tanaman pangan seperti pakcoy dan buncis yang bisa dipanen berkala. "Saya sempat ingin cepat hasil, tapi ternyata alam tidak bisa dipaksa. Hutan itu harus pelan-pelan," kata Rosita tentang proses yang membutuhkan kesabaran ini.

Hingga kini, sekitar 44 ribu pohon dari 122 jenis tumbuh di kawasan tersebut. Keragaman tanaman ini membentuk hutan secara bertahap, mengubah tanah yang dulu keras menjadi gembur berkat akar pohon yang membantu menyimpan air dan memperbaiki struktur tanah.

Transformasi Ekologis: Mata Air Kembali dan Satwa Pulang

Setelah puluhan ribu pohon tumbuh, perubahan ekologis mulai terlihat nyata. Kawasan yang dulu kesulitan air kini memiliki beberapa mata air yang muncul kembali. Pohon-pohon berperan penting dalam menahan air hujan agar tersimpan di tanah dan keluar perlahan. "Dulu saya sampai bawa air sendiri. Sekarang sudah cukup dan bisa mengalir ke warga," cerita Rosita dengan bangga.

Perubahan tidak hanya terjadi pada ketersediaan air. Kehidupan satwa juga kembali menghuni kawasan ini, dengan berbagai jenis burung muncul, termasuk elang jawa yang menjadi indikator lingkungan yang sehat. Udara di sekitar hutan terasa lebih sejuk karena tutupan pohon semakin rapat, sekaligus membantu menekan risiko longsor di kawasan perbukitan Megamendung.

Keterlibatan Masyarakat dan Model Pengelolaan Berkelanjutan

Hutan organik Megamendung tidak dibuka sebagai destinasi wisata komersial. Rosita mengelolanya melalui yayasan untuk memastikan kawasan tidak diperjualbelikan dan tetap terjaga dalam jangka panjang. Pendekatan ini melibatkan warga sekitar, terutama kelompok perempuan yang aktif membantu dalam pembibitan dan perawatan tanaman.

Perjuangan Rosita Istiawan menunjukkan beberapa pelajaran penting:

  • Konsistensi dalam merawat alam membutuhkan komitmen jangka panjang
  • Pendekatan agroforestri efektif untuk memulihkan lahan rusak
  • Keterlibatan masyarakat lokal kunci keberlanjutan konservasi
  • Perubahan lingkungan positif dimulai dari tindakan individu yang tekun

Dari lahan kosong yang rusak, kini telah tumbuh hutan organik yang memberikan manfaat nyata: air bersih, udara segar, perlindungan dari bencana, dan habitat bagi satwa. Kisah Rosita menjadi inspirasi bahwa setiap orang dapat berkontribusi dalam pelestarian lingkungan, dimulai dari langkah kecil yang dilakukan dengan konsisten.