Pihak berwenang Filipina secara resmi menghentikan operasi pencarian dan penyelamatan bagi korban ambruknya sebuah gedung bertingkat yang masih dalam tahap konstruksi di Angeles City. Keputusan ini diambil pada Senin malam setelah tim penyelamat memastikan tidak ada lagi tanda-tanda kehidupan di bawah reruntuhan dengan menggunakan alat pendeteksi kehidupan canggih. Mulai Selasa, fokus tim penyelamat beralih sepenuhnya pada upaya pencarian jenazah para korban yang masih tertimbun.
Harapan Sempat Muncul Sebelum Operasi Dihentikan
Menurut keterangan resmi dari otoritas setempat, secercah harapan sempat muncul pada Senin pagi. Sensor termal yang digunakan tim penyelamat mendeteksi adanya 'tanda-tanda kehidupan' di salah satu bagian reruntuhan. Namun, setelah dilakukan pencarian intensif, Maria Leah Sajili, petugas informasi di Biro Pemadam Kebakaran regional, menyampaikan bahwa tidak ada korban selamat maupun jenazah yang berhasil ditemukan di lokasi tersebut.
Setidaknya empat orang dipastikan tewas dalam tragedi ini, termasuk seorang wisatawan asal Malaysia yang sedang menginap di sebuah penginapan yang tertimpa puing-puing dari gedung sembilan lantai tersebut. Sementara itu, sebanyak 16 orang lainnya, yang sebagian besar merupakan pekerja konstruksi, masih dinyatakan hilang dan belum ditemukan.
Kesedihan Keluarga Korban
Salah satu korban jiwa dalam insiden ini adalah ayah dari Evelyn Alicaway (19). Ia menceritakan bahwa ia mengetahui kecelakaan tersebut dari pamannya. Setelah melihat video yang beredar di media sosial, ia langsung mengenali bahwa korban yang sedang berusaha ditarik oleh tim penyelamat dari reruntuhan adalah ayahnya. 'Meskipun wajahnya diburamkan, saya langsung tahu itu dia. Sangat menyakitkan melihat ayah saya seperti itu,' kata Alicaway sambil menangis di pemakaman ayahnya.
Pihak berwenang Filipina menyampaikan simpati mendalam kepada keluarga korban dalam konferensi pers pada Selasa. 'Kami turut bersimpati atas apa yang Anda alami. Yakinlah, kami telah melakukan segala yang kami bisa untuk menyelamatkan nyawa, dan sekarang kita harus melangkah maju,' ujar Maria Leah Sajili.
Gedung Ambruk Saat Pekerja Konstruksi Tidur
Gedung sembilan lantai di Angeles City, Filipina, ambruk setelah diguyur badai hebat pada Minggu sekitar pukul 03.00 dini hari waktu setempat. Ratusan petugas evakuasi dikerahkan dalam proses penyelamatan, dipimpin oleh tim dari pemadam kebakaran dan kepolisian Filipina.
Maria Leah Sajili menjelaskan bahwa pada awalnya 17 orang dilaporkan hilang akibat kejadian tersebut. Namun, salah satu dari mereka kemudian menghubungi pihak berwenang pada Senin untuk memastikan bahwa ia tidak berada di lokasi saat kejadian. Dengan demikian, jumlah orang yang masih hilang saat ini adalah 16 orang, yang sebagian besar adalah pekerja konstruksi yang sedang tidur di lokasi kejadian saat gedung runtuh.
Penyelidikan Pelanggaran Izin Konstruksi
Pihak berwenang masih melakukan penyelidikan mendalam untuk mengetahui penyebab runtuhnya bangunan tersebut. Salah satu fokus penyelidikan adalah apakah proyek konstruksi ini melanggar izin konstruksi yang telah diberikan.
Departemen Tenaga Kerja Filipina sebelumnya pernah menghentikan pekerjaan di lokasi tersebut pada September 2025. Geraldine Panlilio, pejabat Dinas Tenaga Kerja Regional, menyebut bahwa petugas inspeksi mereka menemukan pelanggaran standar keselamatan kerja yang serius. 'Inspektur tenaga kerja kami menemukan kondisi kerja yang buruk, sebuah pelanggaran yang dapat membahayakan pekerja,' kata Panlilio dalam wawancara di stasiun radio DZMM di Manila.
Para pekerja dilaporkan kekurangan perlengkapan keselamatan seperti helm, sepatu bot, sabuk pengaman, dan tali pengaman. Mereka juga bekerja dengan pencahayaan yang buruk dan tanpa rambu keselamatan yang terlihat. Pekerjaan konstruksi kembali dilanjutkan sebulan setelah penghentian tersebut, setelah kontraktor memenuhi persyaratan keselamatan yang ditetapkan.
Harapan Keluarga agar Perusahaan Bertanggung Jawab
Ibu Evelyn Alicaway, Rosenda, berharap agar perusahaan yang bertanggung jawab atas proyek konstruksi tersebut mau bertanggung jawab atas insiden yang menimpa para pekerja. 'Kami berharap pemilik perusahaan akan bertanggung jawab dan menangani masalah yang menimpa para pekerja. Keluarga-keluarga mereka juga sedang menderita. Ini bukanlah yang kami inginkan, tetapi mereka perlu berkoordinasi dengan kami,' kata Rosenda.



