WNI Jadi Korban Perbudakan Modern di Australia: Dipukuli dan Tak Diberi Makan
WNI Korban Perbudakan Modern di Australia: Dipukuli

WNI Jadi Korban Perbudakan Modern di Australia: Dipukuli dan Tak Diberi Makan

Seorang perempuan Warga Negara Indonesia (WNI) mengalami penyiksaan fisik, kelaparan, dan dipaksa tidur di tangga atau garasi selama berbulan-bulan di Melbourne, Australia. Kasus ini terungkap dalam persidangan pidana di Pengadilan Wilayah Victoria, di mana pasangan suami istri asal Malaysia, Chee Kit Chong dan Angie Yeh Ling Liaw, didakwa sebagai tersangka.

Kronologi Kekerasan dan Eksploitasi

Menurut keterangan jaksa penuntut Shaun Ginsbourg S.C., korban yang tidak dapat disebutkan namanya karena alasan hukum, awalnya setuju tinggal bersama pasangan tersebut di Point Cook, pinggiran Melbourne, pada awal 2022 untuk membantu Liaw yang sedang melahirkan anak kedua. Namun, masa tinggal yang seharusnya hanya sebulan berubah menjadi 10 bulan penuh penderitaan.

Chong menyalahkan korban atas hilangnya kartu kredit perusahaan dan memaksanya bekerja untuk melunasi utang tersebut. "Chong mengancam dan memaksa korban untuk menyediakan jasa rumah tangga," kata Ginsbourg. "Ia berulang kali mengatakan bahwa korban harus bekerja untuk melunasi utang, dan jika gagal, mereka akan menghukumnya dengan serangan fisik, serta merampas tidur dan makanannya."

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Status Imigrasi ilegal dan Kerentanan Korban

Korban diketahui memiliki status imigrasi ilegal di Australia, yang membuatnya sangat rentan terhadap eksploitasi. Chong dan korban sebelumnya menjalin hubungan seperti "ibu-anak" setelah bertemu di sebuah gereja di Malaysia, di mana korban berprofesi sebagai pendeta. Korban pindah ke Australia dengan visa turis pada 2017, tetapi pasangan itu kembali ke Malaysia tanpa pemberitahuan, meninggalkannya tunawisma selama empat tahun.

Pada 2021, pasangan itu menawarkan pekerjaan selama sebulan kepada korban setelah mereka kembali ke Melbourne. Jaksa menekankan bahwa status ilegal ini dimanfaatkan Chong untuk bertindak seolah-olah "dia memiliki" korban. "Pada suatu kesempatan, Chong mengatakan jika korban membayar satu juta dolar, dia bisa pergi," ungkap Ginsbourg.

Detail Penyiksaan dan Tugas Paksa

Korban diperintahkan untuk membersihkan rumah, mencuci piring, dan memijat kaki Chong. Suatu kali, ketika korban tertidur saat memijat, Chong diduga memukulnya dengan penyedot debu. Hukuman lain termasuk diperintahkan berdiri sepanjang malam sehingga tidak bisa tidur, dikurung di garasi, serta sering dipukul atau ditendang.

"Chong mengatur akses makanan dan fasilitas korban secara ketat, sering menghukumnya dengan melarang tidur atau makan," tambah Ginsbourg. Klinik medis setempat dan rumah sakit mencatat berbagai luka pada korban dalam bulan-bulan terakhir tinggal bersama pasangan tersebut.

Laporan Polisi dan Bantahan Tersangka

Masa tinggal korban berakhir pada Oktober setelah seorang perawat melaporkan dugaan penganiayaan kepada polisi federal, yang memicu penyelidikan. Chong mengaku kepada polisi bahwa ia menawarkan tempat tinggal karena korban tunawisma, dan memberikan penjelasan berbeda untuk luka-lukanya, seperti diabetes, jatuh, atau serangan oleh tunawisma lain.

Liaw membantah membatasi akses makanan, sementara pengacara pembela Diana Price menyatakan bahwa berbagai tuduhan, termasuk klaim pelecehan dan kurang makan, masih diperdebatkan. "Mungkin ada alasan korban melebih-lebihkan atau mengatakan hal-hal yang tidak benar," kata Price. Pasangan itu telah mengaku tidak bersalah, dan sidang masih berlanjut.

Artikel ini diproduksi berdasarkan laporan ABC News, menyoroti kasus perbudakan modern yang melibatkan WNI di Australia dan pentingnya perlindungan terhadap pekerja rentan.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga