Protes Wajib Militer Picu Kericuhan, Tentara Wanita Israel Dikejar Kelompok Ultra-Ortodoks
Tentara Wanita Israel Dikejar Kelompok Ultra-Ortodoks

Protes Wajib Militer Picu Kericuhan, Tentara Wanita Israel Dikejar Kelompok Ultra-Ortodoks

Insiden kekerasan terjadi di kota Bnei Brak, Israel, pada Minggu (15/2), ketika dua tentara perempuan Israel dikejar-kejar oleh sekelompok laki-laki Yahudi ultra-Ortodoks. Peristiwa ini memicu kericuhan besar-besaran yang memerlukan intervensi polisi antihuru-hara, dengan lebih dari 20 orang ditangkap dan beberapa kendaraan polisi rusak.

Video Viral dan Intervensi Polisi

Sejumlah video yang beredar di media sosial memperlihatkan tentara perempuan IDF berlari melintasi jalan-jalan yang dipenuhi sampah dan tempat sampah terbalik, sementara polisi membentuk barikade pelindung. Polisi antihuru-hara di Bnei Brak, yang terletak di pinggiran Tel Aviv, menggunakan granat untuk membubarkan massa, mengakibatkan tiga polisi terluka dan beberapa kendaraan, termasuk mobil patroli terbalik dan sepeda motor yang dibakar.

Berdasarkan laporan, tentara IDF berada di wilayah Bnei Brak untuk menjalankan tugas wajib militer. Insiden ini terjadi ketika sejumlah tentara perempuan IDF sedang melakukan kunjungan resmi ke rumah tentara lain, seperti dilaporkan oleh stasiun televisi Israel Kan.

Latar Belakang Protes Wajib Militer

Kericuhan ini terkait erat dengan aturan wajib militer di Israel, yang selama puluhan tahun telah membebaskan kelompok Yahudi ultra-Ortodoks dari kewajiban tersebut. Namun, rencana pemerintah Israel untuk mengubah aturan itu belakangan memicu kemarahan di komunitas tersebut. Pemerintah tengah membahas rancangan undang-undang yang akan mewajibkan laki-laki ultra-Ortodoks untuk menjalani wajib militer, terutama mereka yang tidak sedang menempuh studi agama penuh waktu.

Sejak Negara Israel dideklarasikan pada tahun 1948, siswa yang terdaftar secara penuh di sekolah agama atau yeshiva dibebaskan dari wajib militer. Lebih dari satu dekade lalu, pembebasan tugas itu dinyatakan tidak konstitusional oleh Mahkamah Agung Israel, dan untuk sementara dihentikan secara resmi oleh pengadilan, memaksa pemerintah untuk mulai menerapkan wajib militer terhadap komunitas ini.

Reaksi dari Pemerintah dan Pemimpin Agama

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengecam keras peristiwa yang dialami para tentara perempuan IDF tersebut, menyebutnya sebagai sesuatu yang "tidak dapat diterima". Dalam unggahannya di X, Netanyahu menuding bahwa para pelaku protes adalah "minoritas ekstrem yang tidak mewakili seluruh komunitas Haredi [ultra-Ortodoks]".

"Kami tidak akan membiarkan anarki, dan tidak akan mentolerir kerusakan apa pun terhadap anggota IDF dan pasukan keamanan yang menjalankan tugas mereka dengan dedikasi dan keteguhan hati," tegas Netanyahu. Pemimpin agama Yahudi juga turut mengecam tindakan kelompok ultra-Ortodoks yang terlibat dalam kerusuhan ini.

Konteks Populasi dan Protes Terkini

Populasi ultra-Ortodoks di Israel telah lebih dari dua kali lipat porsinya dalam tujuh dekade terakhir, dan kini mencapai 14% dari total penduduk. Isu wajib militer semakin memanas sejak konflik bersenjata di Gaza usai pada 7 Oktober 2023, dengan ratusan ribu orang berpartisipasi dalam protes anti-wajib militer terbesar yang digagas oleh warga Israel ultra-Ortodoks pada akhir tahun 2025.

Insiden di Bnei Brak ini menyoroti ketegangan yang mendalam antara kebijakan pemerintah dan tradisi komunitas ultra-Ortodoks, yang bisa berpotensi memicu lebih banyak kerusuhan di masa depan jika tidak ditangani dengan hati-hati.