Mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam), Mahfud MD, diklaim menawarkan dana bantuan senilai Rp 100 juta melalui pesan WhatsApp. Klaim ini muncul di media sosial pada akhir Juli 2026. Namun, setelah ditelusuri oleh tim verifikasi, unggahan tersebut merupakan hasil manipulasi berbasis kecerdasan buatan (AI).
Narasi yang Beredar di Media Sosial
Narasi yang mengeklaim Mahfud MD menawarkan dana bantuan Rp 100 juta salah satunya dibagikan oleh akun Facebook pada 28 Juli 2026. Unggahan tersebut menampilkan gambar yang tampak seperti tangkapan layar percakapan WhatsApp dengan nomor yang mengatasnamakan Mahfud MD. Dalam percakapan itu, tertulis tawaran bantuan dana tunai sebesar Rp 100 juta kepada penerima pesan.
Unggahan serupa juga ditemukan di platform media sosial lainnya, seperti Instagram dan X (sebelumnya Twitter). Beberapa akun membagikan ulang dengan narasi yang identik, seolah-olah Mahfud MD benar-benar mengirimkan tawaran tersebut secara pribadi. Kecepatan penyebaran informasi ini cukup tinggi, mengingat banyak warganet yang terkejut dan menanyakan kebenarannya.
Hasil Penelusuran: Terindikasi Manipulasi AI
Tim fact-checking Kompas.com melakukan penelusuran mendalam terhadap unggahan tersebut. Beberapa ciri kejanggalan ditemukan, antara lain ketidakwajaran dalam format pesan, ketidaksesuaian gaya bahasa dengan karakter Mahfud MD, serta adanya artefak visual yang umum pada hasil generasi AI. Dengan menggunakan alat deteksi AI dan analisis forensik digital, dipastikan bahwa gambar tersebut bukanlah tangkapan layar asli, melainkan hasil rekayasa teknologi deepfake atau teks generator AI.
Selain itu, tidak ada pernyataan resmi dari Mahfud MD atau timnya mengenai program bantuan sosial semacam itu. Pihak Mahfud MD juga telah mengonfirmasi bahwa akun WhatsApp yang digunakan dalam unggahan tersebut bukan miliknya. Masyarakat diimbau untuk tidak mudah percaya pada tawaran dana bantuan yang mengatasnamakan tokoh publik tanpa verifikasi resmi.
Dampak dan Imbauan
Penyebaran hoaks semacam ini dapat merugikan masyarakat, terutama mereka yang rentan terhadap informasi palsu. Banyak orang mungkin tergiur dan kemudian menjadi korban penipuan berkedok bantuan sosial. Oleh karena itu, penting bagi publik untuk selalu melakukan cross-check informasi sebelum mempercayai atau menyebarkannya.
Pemerintah dan lembaga terkait terus mengingatkan bahaya penyalahgunaan AI untuk membuat konten palsu. Masyarakat diharapkan lebih literat terhadap teknologi dan tidak mudah terprovokasi. Jika menerima pesan mencurigakan, segera laporkan ke pihak berwenang atau platform media sosial.



