Penelitian Ungkap Ghosting Lebih Menyakitkan dan Sulit Dipulihkan Daripada Penolakan Langsung
Perilaku ghosting, yaitu menghilang tiba-tiba tanpa penjelasan dalam suatu hubungan, ternyata dapat meninggalkan luka emosional yang lebih dalam dan bertahan lebih lama dibandingkan dengan penolakan yang disampaikan secara langsung. Hal ini diungkapkan oleh hasil penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Computers in Human Behavior pada November 2025.
Ketidakjelasan Memperpanjang Proses Pemulihan
Ketika seseorang mengalami ghosting, mereka sering kali merasa bingung dan kesulitan memahami situasi yang terjadi. Ketidakjelasan ini menjadi faktor kunci yang membuat proses pemulihan emosional menjadi lebih lama, terlepas dari jenis kelamin individu yang mengalaminya. Studi tersebut menunjukkan bahwa meskipun baik ghosting maupun penolakan langsung sama-sama menimbulkan rasa sakit, ghosting cenderung lebih berat dampaknya karena tidak memberikan kepastian atau penutupan yang dibutuhkan untuk melanjutkan hidup.
Penelitian ini memperkuat pemahaman bahwa dalam konteks hubungan interpersonal, kejelasan komunikasi sangat penting untuk kesehatan mental. Tanpa penjelasan yang memadai, orang yang ditinggalkan mungkin terjebak dalam lingkaran pertanyaan dan keraguan diri, yang pada akhirnya menghambat kemampuan mereka untuk pulih dan melanjutkan kehidupan secara normal.



