Pasca-Liburan Panjang, Waspadai Post-Holiday Blues yang Serang Pekerja dan Pelajar
Usai menikmati libur panjang hari raya Nyepi hingga Idul Fitri 2026, banyak anak sekolah dan pekerja di Indonesia kini kembali ke rutinitas sehari-hari. Namun, alih-alih merasa segar dan bersemangat, tidak sedikit yang justru mengalami tantangan dalam beradaptasi. Fenomena ini dikenal sebagai post-holiday blues, yang dapat mengganggu produktivitas dan kesejahteraan mental.
Memahami Gejala Post-Holiday Blues
Menurut Ratna Yunita Setiyani Subardjo, Psikolog sekaligus Dosen Universitas Aisyiyah Yogyakarta, post-holiday blues dapat diartikan sebagai perasaan sedih, lelah, dan kurang motivasi yang dialami seseorang setelah periode liburan berakhir. "Kondisi ini sering muncul karena transisi dari waktu santai ke tuntutan pekerjaan atau sekolah yang mendadak," jelas Ratna. Ia menambahkan bahwa gejala ini bisa bervariasi, mulai dari kesulitan konsentrasi hingga penurunan energi secara signifikan.
Ratna menjelaskan bahwa post-holiday blues bukanlah gangguan mental serius, tetapi jika dibiarkan, dapat berdampak pada kinerja dan hubungan sosial. "Ini adalah respons alami terhadap perubahan ritme hidup, namun perlu diatasi agar tidak berkepanjangan," ujarnya. Ia menekankan pentingnya mengenali tanda-tanda awal, seperti:
- Perasaan malas atau enggan memulai aktivitas
- Kelelahan fisik meski sudah beristirahat cukup
- Penurunan minat terhadap tugas atau hobi yang biasanya dinikmati
- Mudah tersinggung atau merasa cemas tanpa alasan jelas
Faktor Pemicu dan Dampaknya
Libur panjang yang menggabungkan hari raya Nyepi dan Idul Fitri 2026 memberikan kesempatan bagi banyak orang untuk beristirahat dan berkumpul dengan keluarga. Namun, durasi liburan yang relatif lama justru dapat memperparah post-holiday blues. "Semakin lama liburan, semakin sulit adaptasi kembali ke rutinitas," kata Ratna. Hal ini terutama dirasakan oleh pekerja dengan beban tugas tinggi dan pelajar yang menghadapi tekanan akademik.
Dampak post-holiday blues tidak hanya terbatas pada individu, tetapi juga dapat mempengaruhi lingkungan kerja dan sekolah. Produktivitas menurun, absensi meningkat, dan suasana hati yang buruk dapat menyebar ke rekan atau teman sekelas. Oleh karena itu, Ratna menyarankan agar institusi pendidikan dan perusahaan memberikan dukungan, seperti masa transisi yang lebih fleksibel atau sesi konseling singkat.
Strategi Mengatasi Post-Holiday Blues
Untuk meredakan gejala post-holiday blues, Ratna merekomendasikan beberapa langkah praktis yang dapat diterapkan sehari-hari:
- Mulai dengan perlahan: Jangan langsung menuntut diri untuk bekerja atau belajar dengan intensitas penuh. Beri waktu bagi tubuh dan pikiran untuk beradaptasi secara bertahap.
- Atur jadwal dengan bijak: Buat rencana aktivitas yang realistis dan sertakan waktu istirahat di sela-sela tugas. Prioritaskan hal-hal penting terlebih dahulu.
- Jaga pola hidup sehat: Konsumsi makanan bergizi, tidur cukup, dan lakukan olahraga ringan untuk meningkatkan energi dan mood.
- Cari dukungan sosial: Bicarakan perasaan dengan keluarga, teman, atau kolega. Berbagi pengalaman dapat mengurangi beban emosional.
- Fokus pada hal positif: Ingat kembali pencapaian atau momen menyenangkan selama liburan, dan gunakan sebagai motivasi untuk menghadapi rutinitas baru.
Ratna menegaskan bahwa post-holiday blues adalah fenomena umum yang dapat diatasi dengan kesadaran dan upaya proaktif. "Kuncinya adalah tidak terlalu keras pada diri sendiri dan memberi ruang untuk pemulihan," tuturnya. Dengan pendekatan yang tepat, masa transisi pasca-liburan dapat dilalui dengan lebih lancar dan produktif.



