Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, Prof. Dr. rer. nat. Agustino Zulys, M.Sc, mengungkapkan bahwa kebiasaan sering tertawa karena hiburan receh dapat menjadi indikasi fenomena yang disebut brainrot. Pernyataan ini disampaikan melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, @prof.zulys, pada Rabu, 20 Mei 2026.
Pengertian Brainrot Menurut Akademisi
Dalam unggahannya, Prof. Agustino menjelaskan bahwa brainrot merupakan istilah slang di internet yang belakangan ramai diperbincangkan. Secara harfiah, brainrot berarti pembusukan otak. Meskipun bukan penyakit resmi yang diakui secara medis, fenomena ini nyata terjadi akibat terlalu banyak mengonsumsi konten yang receh, cepat, dan dangkal.
“Kalau kita sering ketawa dengan hiburan receh, hati-hati, itu brainrot,” tegas Agustino dalam keterangannya. Ia menambahkan bahwa saat ini konten semacam itu bahkan dianggap sebagai genre hiburan tersendiri.
Dampak Konsumsi Konten Receh
Menurut Prof. Agustino, paparan berlebihan terhadap konten receh dapat memengaruhi cara kerja otak. Otak yang terus-menerus terpapar informasi dangkal akan kehilangan kemampuan untuk berpikir kritis dan mendalam. Hal ini berpotensi menurunkan kualitas kognitif seseorang dalam jangka panjang.
Fenomena brainrot menjadi perhatian serius di era digital, di mana akses terhadap konten hiburan sangat mudah. Banyak orang tanpa sadar menghabiskan waktu berjam-jam menonton video pendek atau membaca meme yang tidak memberikan stimulus intelektual.
Peringatan untuk Masyarakat
Guru besar FMIPA UI itu mengimbau masyarakat untuk lebih selektif dalam memilih hiburan. Ia menyarankan agar konsumsi konten receh diimbangi dengan bacaan atau tontonan yang lebih berbobot. Dengan demikian, otak tetap terlatih untuk memproses informasi secara kompleks.
“Kita perlu sadar bahwa tidak semua hiburan itu baik untuk otak. Pilihlah yang memberikan manfaat, bukan sekadar tawa sesaat,” pungkasnya.



