Presiden Prabowo Subianto menerima sejumlah tokoh ekonomi yang terdiri atas mantan menteri dan mantan Gubernur Bank Indonesia (BI) di Istana Kepresidenan, Jakarta, pada Jumat (22/5/2026). Pertemuan tersebut membahas pengalaman menghadapi krisis keuangan global pada 2008. Para tokoh yang hadir antara lain Gubernur BI periode 2003-2008 Burhanuddin Abdullah, eks Kepala Bappenas Paskah Suzetta, dan eks Wakil Menteri PPN Lukita Dinarsyah Tuwo.
Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan bahwa pertemuan tersebut bertujuan untuk mendiskusikan penanganan krisis keuangan 2008. Para tokoh menyampaikan data-data inflasi dan perubahan nilai kurs yang terjadi saat krisis. "Dalam pertemuan tersebut, mereka menyampaikan beberapa catatan yang terjadi dan mereka mengatakan kalau di masa lalu inflasi kita di periode sekitar 17 persen dan juga terjadi perubahan nilai kurs akibat krisis minyak di tahun 2005, di mana harga minyak bisa naik sampai USD 140, dan pada waktu itu terjadi penyesuaian harga sehingga inflasinya bisa naik ke 27 persen," jelas Airlangga.
Airlangga kemudian membandingkan situasi krisis tersebut dengan kondisi saat ini. Menurutnya, keadaan ekonomi makro Indonesia jauh lebih baik secara fundamental. "Nah, kalau kita cek dengan konteks hari ini, relatif situasi makro kita lebih baik, fundamental lebih kuat, dan depresiasi rupiah itu sekitar 5 persen. Jadi jauh lebih rendah dari berbagai kasus sebelumnya, dan dari situ sebetulnya kita belajar bagaimana mengantisipasi dan apa yang diperlukan untuk menghadapi situasi-situasi ke depan," ujarnya.
Airlangga melanjutkan bahwa Presiden Prabowo telah memberikan instruksi kepada kabinet untuk memperkuat situasi finansial dan perbankan. Menurutnya, kondisi permodalan di perbankan masih perlu diperkuat. "Dan tentu Bapak Presiden meminta kami beserta Menteri Keuangan untuk memonitor bagaimana regulasi-regulasi untuk memperkuat situasi finansial dan juga menjaga prudensial dari perbankan kita. Kita memang jumlah perbankan banyak dan mungkin kita perlu kaji bagaimana permodalannya untuk diperkuat," pungkas Airlangga.



