Kolaborasi Lintas Kementerian untuk Kesehatan Mental Siswa
Kementerian Sosial (Kemensos) bersama Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) resmi membangun langkah kolaboratif untuk memperkuat kesehatan mental siswa-siswi Sekolah Rakyat. Hal ini diungkapkan Wakil Menteri Sosial (Wamensos) Agus Jabo Priyono saat menerima audiensi Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Wamendukbangga)/Waka BKKBN, Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka beserta jajaran di Kantor Kemensos, Jakarta Pusat, Senin (27/7/2026).
Agus Jabo menekankan bahwa latar belakang siswa Sekolah Rakyat yang istimewa dan beragam memerlukan perhatian khusus. "Karena memang latar belakang siswa ini istimewa ya. Kemudian ada aspek-aspek lain, seperti aspek-aspek problem keremajaan itu terjadi dan ini yang kita membutuhkan sinergi antara Kemensos dengan BKKBN," ujarnya dalam keterangan tertulis. Kerja sama ini dinilai penting untuk menjawab tantangan psikologis yang dihadapi para murid.
Langkah Konkret Menuju Operasional
Menurut Agus Jabo, tahap berikutnya akan dimulai dengan pematangan konsep dan teknis pelaksanaan. Rencananya, uji coba akan dilakukan di beberapa Sekolah Rakyat sebelum penandatanganan nota kesepahaman antara Kemensos dan Kemendukbangga/BKKBN. "Supaya kemudian di tahun ajaran ini kita langsung bisa operasional, ya kan, lebih cepat lebih baik. Ini anak-anak kita yang harus kita urus bersama-sama, tidak hanya Kemensos," tegasnya.
Program kolaboratif yang ditawarkan mencakup Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R) yang berfungsi menyediakan konselor sebaya. Layanan ini dirancang untuk mendeteksi dini masalah mental pada remaja. "Karena kalau kita berbicara anak-anak remaja, biasanya mereka lebih cenderung ingin berbicara dengan teman sebaya. Oleh karena itu, Pusat Informasi dan Konseling Remaja ini menyediakan apa yang disebut sebagai konselor sebaya. Supaya mereka bisa pada saat sebelum mereka ada permasalahan mental, bisa dideteksi sejak dini," jelas Isyana.
Peran Organisasi Genre dan Sekolah Siaga Kependudukan
Isyana juga memaparkan bahwa organisasi Generasi Berencana (Genre) berpotensi menjadi wadah pendampingan bagi siswa Sekolah Rakyat. Para konselor sebaya dari Genre akan dilatih untuk berbagi informasi dan mendukung teman-temannya. "Yang kita ingin coba kolaborasikan terutama terkait dengan pendidik sebaya dan konselor sebaya mengingat mereka lebih senang untuk berdiskusi curhat dengan sesamanya. Jika ada PIKR ini, kita bisa melatih melalui Genre ataupun juga kemudian juga dengan PIK-R yang lain berbagi informasi, termasuk juga melatih anak-anak yang ada di Sekolah Rakyat ini juga bisa menjadi konselor-konselor sebaya," ungkapnya.
Bagi siswa yang sudah menunjukkan gejala dan membutuhkan penanganan lebih lanjut, mereka akan dirujuk ke tempat yang lebih kompeten dalam menangani masalah kesehatan mental. Selain PIK-R dan Genre, program Sekolah Siaga Kependudukan juga diintegrasikan untuk memperkuat pemahaman siswa tentang isu kependudukan dan keluarga. "Kemudian juga terkait itu semua, kami juga punya program yang dinamakan dengan Sekolah Siaga Kependudukan yang juga bisa diintegrasikan dengan program-program tadi," tutup Isyana.
Kolaborasi ini diharapkan dapat mendukung terwujudnya generasi Indonesia Emas 2045 melalui penguatan kesehatan mental sejak usia sekolah. Dengan deteksi dini dan pendampingan yang tepat, para siswa Sekolah Rakyat diharapkan mampu menghadapi berbagai tantangan psikososial dan meraih potensi terbaik mereka.



