Belakangan ini, fenomena "pelari kalcer" atau pelari culture marak bermunculan di Indonesia. Olahraga lari kini tidak hanya dijadikan aktivitas fisik untuk menjaga kesehatan dan kebugaran, tetapi juga telah menjadi bagian dari identitas, fesyen, dan gaya hidup, terutama di kalangan anak muda.
Fenomena Pelari Kalcer dan Flexing di Media Sosial
Pelari kalcer ini didukung oleh banyaknya event lari yang diadakan berbagai pihak. Rasa ingin flexing di media sosial melalui aplikasi seperti Strava untuk menunjukkan capaian olahraga juga turut mendorong tren ini. Namun, agar olahraga lari tidak hanya karena fenomena fear of missing out (FOMO) dan manfaat kesehatannya tetap optimal, diperlukan panduan yang tepat.
Tips dari Dosen UMY
Dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) memberikan beberapa tips. Menurutnya, penting untuk memulai lari dengan tujuan yang jelas, seperti meningkatkan kebugaran atau menurunkan stres, bukan sekadar mengikuti tren. Ia juga menyarankan untuk membuat jadwal latihan yang teratur dan realistis, serta tidak membandingkan diri dengan orang lain di media sosial.
Selain itu, penggunaan aplikasi seperti Strava sebaiknya dimanfaatkan untuk memantau perkembangan pribadi, bukan untuk bersaing secara tidak sehat. Dengan pendekatan ini, lari dapat memberikan manfaat fisik dan mental yang optimal tanpa terjebak dalam FOMO.



