Selama bertahun-tahun, banyak konsumen percaya bahwa telur bercangkang cokelat lebih unggul secara nutrisi dibandingkan telur putih. Anggapan ini membuat telur cokelat kerap dijual dengan harga lebih mahal. Namun, klaim tersebut ternyata tidak berdasar pada fakta ilmiah.
Pakar Unggas Membantah Mitos
Melansir dari Food and Wine pada Minggu (19/7/2026), sejumlah pakar unggas menegaskan bahwa perbedaan warna cangkang tidak memengaruhi nilai gizi, rasa, maupun kualitas telur. Menurut Dr. Michael Johnson, seorang ahli nutrisi unggas dari Universitas Cornell, "Kandungan nutrisi telur ditentukan oleh pakan dan kesehatan ayam, bukan warna cangkangnya."
Warna cangkang telur, baik cokelat maupun putih, ditentukan oleh genetika ayam. Ayam dengan bulu putih dan cuping telinga putih cenderung bertelur putih, sedangkan ayam dengan bulu merah atau cokelat dan cuping telinga merah menghasilkan telur cokelat. Proses pigmentasi terjadi di saluran reproduksi ayam dan tidak memengaruhi komposisi internal telur.
Fakta Gizi Telur Cokelat vs Putih
Studi menunjukkan bahwa perbedaan gizi antara telur cokelat dan putih sangat kecil hingga tidak signifikan. Sebagai contoh, dalam 100 gram telur, kandungan protein, lemak, vitamin, dan mineral hampir identik. Telur cokelat memiliki sekitar 12,5 gram protein, sedangkan telur putih 12,4 gram. Perbedaan serupa juga ditemukan pada kandungan vitamin D dan kolesterol.
Dr. Sarah Lee, seorang peneliti pangan dari University of California, menambahkan, "Jika ada perbedaan, itu lebih dipengaruhi oleh faktor lain seperti pakan ayam. Misalnya, ayam yang diberi pakan kaya omega-3 akan menghasilkan telur dengan omega-3 lebih tinggi, terlepas dari warna cangkang."
Mengapa Telur Cokelat Lebih Mahal?
Harga telur cokelat yang lebih tinggi sering kali dikaitkan dengan persepsi kualitas, bukan karena biaya produksi yang lebih besar. Faktanya, ayam petelur cokelat cenderung berukuran lebih besar dan membutuhkan lebih banyak pakan, sehingga biaya produksinya sedikit lebih tinggi. Namun, selisih harga di pasaran sering kali melebihi biaya produksi aktual, dimanfaatkan oleh pemasar untuk menargetkan konsumen yang percaya mitos.
Di Amerika Serikat, telur cokelat dapat dijual 20-30 persen lebih mahal daripada telur putih, meskipun kandungan gizinya setara. Di Indonesia, fenomena serupa juga terjadi, terutama di supermarket kota besar.
Kesimpulan: Jangan Tertipu Warna
Pakar menyarankan konsumen untuk tidak lagi membedakan telur berdasarkan warna cangkang. Faktor yang lebih penting adalah kesegaran, cara penyimpanan, dan asal usul telur. Telur putih sama bergizinya dengan telur cokelat selama berasal dari ayam yang sehat dan diberi pakan berkualitas.
Jadi, saat berbelanja, jangan ragu memilih telur putih yang lebih murah. Kandungan nutrisinya tidak kalah dengan telur cokelat.



