Universitas Negeri Jakarta (UNJ) hingga kini belum mengambil keputusan final terkait pengelolaan dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) menyusul insiden keracunan yang melanda sejumlah siswa. Pihak kampus masih melakukan kajian mendalam untuk memastikan keamanan dan kualitas makanan yang disajikan.
Kajian Mendalam Dilakukan
Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni UNJ, Prof. Dr. Nizam, menyatakan bahwa tim khusus telah dibentuk untuk mengevaluasi seluruh proses produksi dan distribusi makanan MBG. “Kami belum memutuskan apakah akan melanjutkan pengelolaan dapur sendiri atau bekerja sama dengan pihak ketiga. Semua masih dalam tahap pembelajaran dari kasus keracunan yang terjadi,” ujarnya dalam keterangan resmi, Selasa (19/5/2026).
Fokus pada Keamanan Pangan
Langkah ini diambil sebagai respons atas laporan keracunan yang dialami puluhan siswa di beberapa sekolah penerima program MBG. UNJ berkomitmen untuk meningkatkan standar keamanan pangan, termasuk pengawasan bahan baku, proses memasak, hingga penyimpanan makanan.
“Kami tidak ingin kejadian serupa terulang. Oleh karena itu, setiap aspek teknis dan operasional dapur sedang ditinjau ulang,” tambah Prof. Nizam.
Koordinasi dengan Dinas Kesehatan
UNJ juga berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan DKI Jakarta untuk melakukan investigasi lebih lanjut. Hasil uji laboratorium terhadap sampel makanan dan minuman yang diduga menjadi penyebab keracunan masih menunggu. Pihak kampus berjanji akan transparan dalam menyampaikan temuan dan tindakan perbaikan.
Program MBG Tetap Berjalan
Meski ada evaluasi, program MBG di UNJ tetap berjalan seperti biasa. Namun, untuk sementara waktu, pasokan makanan berasal dari dapur darurat yang telah memenuhi standar kelayakan. UNJ juga membuka posko pengaduan bagi orang tua siswa yang ingin melaporkan keluhan terkait makanan.
“Kami mohon maaf atas ketidaknyamanan ini. Keselamatan dan kesehatan siswa adalah prioritas utama kami,” tutup Prof. Nizam.



