Polemik Childfree Mengemuka dari Unggahan Selebritas Media Sosial
Isu childfree atau pilihan hidup tanpa anak kembali menjadi perbincangan hangat di Indonesia setelah diungkapkan oleh selebritas media sosial Gita Savitri (Gitasav). Polemik ini bermula dari tangkapan layar komentar Gita di akun Instagram pribadinya yang viral pekan lalu, di mana dia dengan santai menyebut bahwa penampilannya yang awet muda disebabkan oleh pilihan childfree.
Respons Otoritas: Penolakan dari BKKBN dan Wakil Presiden
Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Hasto Wardoyo, secara tegas menyatakan ketidaksetujuannya terhadap pilihan childfree. Dalam pernyataannya pada Jumat (10/2/2023), Hasto mengungkapkan bahwa childfree berpotensi buruk bagi perekonomian masyarakat karena dapat mengurangi ketersediaan tenaga kerja. Dari sisi kesehatan, dia juga menyebut risiko meningkatnya potensi tumor mioma di rahim dan kanker endometrium.
"Secara makro untuk konteks masyarakat luas, jelas tidak baik ya," tegas Hasto Wardoyo.
Wakil Presiden Ma'ruf Amin turut memberikan pandangannya dari Lombok pada Sabtu (11/2). Menurutnya, manusia harus terus bereproduksi untuk merawat bumi hingga akhir zaman. Ma'ruf menegaskan bahwa tujuan pernikahan adalah untuk menghasilkan keturunan dan mengembangbiakkan manusia.
Dukungan untuk Hak Reproduksi Perempuan dari Komnas Perempuan
Di tengah gelombang penolakan, muncul suara yang lebih toleran dari Komisioner Komnas Perempuan, Siti Aminah Tardi. Pada Minggu (12/2), Siti menegaskan bahwa pilihan childfree adalah hak perempuan sebagai pemilik rahim. Dia menekankan pentingnya kesepakatan dengan pasangan dalam mengambil keputusan tersebut.
"Sebagai perempuan yang memiliki rahim untuk mengandung dan melahirkan anak, maka perempuan memiliki hak untuk menentukan apakah ingin memiliki anak atau tidak," ujar Siti Aminah Tardi.
Pro-Kontra di Masyarakat: Antara Tradisi dan Pilihan Individu
Pilihan hidup tanpa anak di negara dengan populasi 273 juta jiwa ini memang menimbulkan pro dan kontra yang tajam. Beberapa pihak melihat childfree sebagai ancaman terhadap kelangsungan masyarakat dan nilai-nilai tradisional, sementara yang lain menganggapnya sebagai hak reproduksi yang fundamental.
Perdebatan ini mencerminkan ketegangan antara:
- Kepentingan demografis nasional versus hak individu
- Nilai-nilai keagamaan versus otonomi personal
- Konsep keluarga tradisional versus gaya hidup modern
Polemik childfree yang dipicu oleh pernyataan Gita Savitri telah berkembang menjadi diskusi nasional yang melibatkan berbagai lapisan masyarakat dan otoritas. Di satu sisi, ada kekhawatiran tentang dampak makro terhadap ekonomi dan demografi, sementara di sisi lain, muncul pengakuan terhadap hak perempuan atas tubuh dan pilihan reproduksinya sendiri.