Dari Gaza ke Cawang: Perjuangan Kakak-Adik Palestina Berobat Kanker Lewat Donasi
Di tengah hiruk-pikuk transportasi umum yang menghubungkan Stasiun LRT Cikoko dan Stasiun KRL Cawang, Jakarta, dua sosok pemuda dengan paras Timur Tengah kerap terlihat berdiri tegak. Mereka adalah Basil dan Khaled, kakak-beradik asal Gaza, Palestina, yang membawa kotak donasi bertuliskan Palestina serta atribut seperti syal dan bendera kecil.
Kehadiran mereka bukan sekadar penampakan sesaat. Warga setempat mengaku melihat keduanya hampir setiap hari di titik yang sama, menjadi pemandangan tak biasa di kawasan tersebut. Pada Rabu sore, 12 Februari 2026, awak redaksi berhasil berdialog dengan mereka.
Pelarian dari Konflik ke Indonesia
Basil dan Khaled tiba di Indonesia empat bulan sebelumnya sebagai penyintas konflik berkepanjangan di Gaza. Dengan modal seadanya dan niat menyelamatkan diri, mereka memilih Indonesia sebagai tujuan karena diyakini sebagai negara yang ramah terhadap warga Palestina.
"Kami lari dari Gaza menuju Mesir, lalu ke sini. Tidak ada penerbangan langsung dari Gaza, jadi kami melalui jalur 'bawah tanah' ke Mesir, kemudian membeli tiket ke Indonesia," jelas Khaled dalam bahasa Inggris, karena keduanya tidak menguasai bahasa Indonesia.
Kedatangan mereka legal dengan visa on arrival, dan paspor Palestina mereka disambut ramah oleh petugas imigrasi. Mereka juga telah melapor ke kantor United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR) di Jakarta untuk memastikan izin tinggal tanpa harus memperpanjang rutin ke imigrasi.
Petaka Kanker dan Penolakan Bantuan
Masalah muncul ketika tabungan mereka menipis dan Khaled harus menjalani pengobatan di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) akibat menderita kanker di wilayah perut. Khaled telah dioperasi dua kali, pada 2014 dan 2017, namun dalam sebulan terakhir kondisinya memburuk sehingga harus rutin berobat.
"Setiap dua minggu saya ke rumah sakit, tapi obatnya mahal. Satu jenis obat sekitar Rp1 juta, dan ada tujuh jenis yang harus ditebus," beber Khaled. Paspornya pun ditahan RSCM sebagai jaminan tunggakan biaya pengobatan lebih dari Rp6 juta.
Mereka mengaku UNHCR menolak menanggung biaya medis tersebut. "Pihak rumah sakit sudah bicara dengan PBB, tapi mereka menolak. Proses mengajukan bantuan juga butuh waktu berbulan-bulan, sementara kondisi kami mendesak," keluh Khaled.
Hidup Nomaden dan Harapan yang Pudar
Tanpa tempat tinggal tetap, Basil dan Khaled berpindah dari masjid ke masjid di Jakarta. Kebanyakan masjid hanya mengizinkan mereka bermalam maksimal tiga hari, meski satu masjid di Gajah Mada pernah menerima mereka selama sebulan.
"Banyak masjid yang tutup setelah waktu Isya. Kami sering harus mencari tempat baru," ujar Khaled. Fokus mereka kini hanya bertahan hidup dan menebus paspor yang dijaminkan.
Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar, mereka berharap uluran tangan organisasi pro-Palestina di Indonesia. Namun, hingga kini belum ada yang merespons. "Kami dengar banyak kelompok pro-Palestina, tapi tidak tahu lokasinya. Kami bingung," kata Khaled.
Donasi dan Kekhawatiran Eksploitasi
Aktivitas menggalang donasi di Cawang hanya menghasilkan cukup untuk membeli air dan makanan ringan, jauh dari cukup untuk biaya pengobatan. "Kami harus memilih antara membeli obat atau makanan," urai Khaled.
Mereka juga waspada terhadap eksploitasi. Saat diwawancarai, mereka hanya bersedia direkam suara tanpa dokumentasi visual untuk mencegah penyalahgunaan informasi untuk konten pencarian dana yang tidak disalurkan kepada mereka.
"Jika ada yang ingin benar-benar membantu, kami terbuka menunjukkan dokumen legal dan tempat tinggal kami," tegas Basil, memberikan nomor kontak 087766671674.
Meski dalam kesulitan, mereka bersyukur tidak pernah diusir oleh otoritas setempat. "Saat tahu kami dari Gaza, rasa persaudaraan antar Muslim kuat. Kami dibiarkan sampai hari ini," pungkas Basil.