Kemenkes Ingatkan Bahaya Zoonosis Usai 7 Warga Mamuju Keracunan Daging Anjing
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengeluarkan peringatan keras kepada masyarakat setelah tujuh warga di Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat, mengalami keracunan usai mengonsumsi daging anjing. Insiden yang melibatkan remaja hingga balita ini memicu kekhawatiran serius terhadap keamanan pangan dan penularan penyakit zoonosis.
Peringatan Resmi dari Kemenkes
Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, menegaskan pentingnya kewaspadaan dalam mengonsumsi hewan yang berpotensi menjadi vektor penyakit zoonosis, seperti rabies. "Masyarakat harus berhati-hati dalam konsumsi hewan yang menjadi vektor penyakit zoonosis, salah satunya anjing," ujarnya dalam keterangan resmi pada Selasa (31/3/2026).
Aji menekankan bahwa pemilihan hewan untuk dikonsumsi harus memastikan kondisi kesehatannya. "Jangan mengonsumsi hewan yang dalam kondisi sakit atau tidak jelas status kesehatannya," tegasnya. Ia juga memberikan panduan praktis untuk pengolahan yang aman:
- Hewan harus dicuci bersih sebelum dimasak
- Proses pengolahan harus dilakukan dengan benar
- Daging harus dimasak hingga matang sempurna sebelum dikonsumsi
Kronologi Insiden Keracunan di Mamuju
Peristiwa keracunan terjadi di Desa Karama, Kecamatan Kalumpang, Mamuju, pada Minggu (29/3). Menurut Kapolsek Kalumpang Ipda Lukman Rahman, kejadian berawal ketika seorang petani berinisial JS (30) melihat anjing peliharaan warga yang muntah-muntah di pagi hari. "JS kemudian berinisiatif memotong anjing tersebut dan memasaknya," jelas Lukman.
Setelah daging matang, sejumlah warga menyantap hidangan tersebut. Namun, tidak lama kemudian, dua warga mulai merasakan gejala mual dan muntah. "Sekitar pukul 15.30 Wita, kondisi kesehatan lima orang yang diduga keracunan semakin memburuk dan mereka dievakuasi ke Puskesmas Karama," terangnya.
Korban dan Dugaan Penyebab
Ketujuh korban yang terdiri dari berbagai kelompok usia masih mendapatkan perawatan medis intensif. Rincian korban adalah:
- Satu pemuda berusia 23 tahun
- Empat remaja usia 11-14 tahun
- Satu anak berusia 8 tahun
- Satu bayi berusia 2 tahun
Lukman mengungkapkan bahwa dugaan sementara penyebab keracunan adalah anjing yang dikonsumsi telah mengalami keracunan atau memakan racun tikus. "Hal ini diperkuat karena sebelum dipotong, anjing tersebut terlihat muntah-muntah," bebernya. Pendapat ini didasarkan pada laporan awal yang menyebutkan kondisi anjing sebelum disembelih.
Imbauan untuk Masyarakat
Insiden ini menyoroti pentingnya kesadaran masyarakat terhadap keamanan pangan, terutama dari sumber hewan yang berisiko menularkan penyakit. Kemenkes mengingatkan bahwa penyakit zoonosis seperti rabies dapat memiliki konsekuensi kesehatan yang serius, bahkan fatal, jika tidak ditangani dengan tepat.
Masyarakat diimbau untuk selalu memprioritaskan kesehatan dan keamanan dalam memilih bahan pangan hewani. "Pastikan hewan yang dikonsumsi berasal dari sumber yang terpercaya dan dalam kondisi sehat," pesan Aji. Selain itu, proses memasak yang benar dan higienis menjadi kunci penting untuk mencegah keracunan dan penularan penyakit.



