5 Film Indonesia yang Kritik Ketidakadilan Hukum, dari Gie hingga Marlina
Film Indonesia Kritik Ketidakadilan Hukum: Gie, Marlina, dan Lainnya

Hukum seharusnya menjadi pelindung bagi semua warga negara. Namun, dalam realitas yang lebih pahit, hukum bisa menjadi alat kekuasaan, pembungkam suara, bahkan senjata yang justru melukai mereka yang paling rentan. Tema inilah yang berulang kali dieksplorasi oleh sinema Indonesia, mulai dari drama sejarah hingga thriller pengadilan, dari kisah perempuan yang berjuang sendirian hingga kisah aktivis yang tergencet rezim.

Lima Film yang Mengkritik Ketidakadilan Hukum

Berikut adalah lima film Indonesia yang menawarkan pandangan tajam mengenai ketidakadilan hukum.

1. Gie (2005)

Disutradarai oleh Riri Riza dan dibintangi Nicholas Saputra, film Gie adalah potret kehidupan Soe Hok Gie, seorang aktivis dan intelektual muda yang hidup di tengah gejolak politik Indonesia pada era 1960-an. Film ini menggambarkan perjuangan Gie melawan ketidakadilan dan korupsi yang merajalela pada masa itu.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

2. Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak (2017)

Film garapan Mouly Surya ini mengisahkan Marlina, seorang janda yang tinggal di Sumba. Setelah menjadi korban perampokan dan kekerasan, Marlina memutuskan untuk melawan. Film ini menyoroti bagaimana hukum seringkali tidak berpihak pada perempuan, terutama di daerah terpencil.

3. Pengadilan (2020)

Film bergenre thriller hukum ini mengikuti kisah seorang pengacara yang menangani kasus pembunuhan kontroversial. Melalui proses persidangan, film ini mengungkap cacat sistem peradilan dan tekanan politik yang mempengaruhi keputusan hukum.

4. Bumi Manusia (2019)

Diadaptasi dari novel Pramoedya Ananta Toer, film ini berlatar belakang era kolonial Belanda. Kisah Minke, seorang pribumi terdidik, yang berjuang melawan diskriminasi hukum dan sosial. Film ini menunjukkan bagaimana hukum digunakan untuk menindas kaum pribumi.

5. Perempuan Tanah Jahanam (2019)

Film horor psikologis karya Joko Anwar ini juga menyisipkan kritik sosial. Mengisahkan tiga perempuan yang terjebak di sebuah desa terpencil, film ini menyoroti bagaimana hukum adat dan patriarki seringkali mengorbankan perempuan.

Kelima film ini tidak hanya menghibur, tetapi juga mengajak penonton untuk merenungkan keadilan dan peran hukum dalam masyarakat.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga