Stevia semakin populer sebagai pengganti gula, terutama di kalangan orang yang ingin mengurangi asupan kalori atau menjaga kadar gula darah. Pemanis alami yang berasal dari tanaman Stevia rebaudiana ini banyak digunakan dalam minuman, makanan rendah gula, hingga produk khusus untuk penderita diabetes. Namun, benarkah stevia lebih sehat daripada gula? Jawabannya tidak sesederhana ya atau tidak.
Menurut laporan USA Today yang dikutip Kompas.com, para ahli menilai stevia memang memiliki sejumlah manfaat, tetapi tetap perlu dikonsumsi dalam jumlah yang wajar. "Stevia bukanlah solusi ajaib. Meskipun lebih baik daripada gula, konsumsi berlebihan tetap tidak dianjurkan," demikian pernyataan dalam laporan tersebut.
Apa Itu Stevia?
Stevia adalah pemanis alami yang diekstrak dari daun tanaman Stevia rebaudiana, yang berasal dari Paraguay dan Brasil. Daun stevia mengandung senyawa glikosida steviol, yang memberikan rasa manis hingga 200–300 kali lebih manis dari gula pasir. Ekstrak stevia biasanya diolah menjadi bubuk putih atau cairan, dan sering dicampur dengan pemanis lain untuk mengurangi aftertaste pahit.
Di Indonesia, stevia telah mendapatkan izin dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sebagai pemanis tambahan yang aman dikonsumsi dalam batas tertentu. Produk stevia juga sudah mudah ditemukan di supermarket, mulai dari kemasan sachet hingga botol cair.
Manfaat Stevia bagi Kesehatan
Salah satu keunggulan utama stevia adalah kandungan kalorinya yang sangat rendah. Stevia tidak menyebabkan lonjakan kadar gula darah, sehingga aman bagi penderita diabetes tipe 2. Penelitian menunjukkan bahwa stevia memiliki indeks glikemik nol, yang berarti tidak memengaruhi gula darah secara signifikan.
Selain itu, stevia juga tidak menyebabkan kerusakan gigi seperti gula biasa. Bakteri di mulut tidak dapat memfermentasi stevia menjadi asam, sehingga risiko karies gigi berkurang. Beberapa studi juga mengaitkan konsumsi stevia dengan penurunan tekanan darah pada pasien hipertensi, meskipun efeknya masih perlu diteliti lebih lanjut.
Menurut data dari American Diabetes Association, mengganti gula dengan stevia dapat membantu mengurangi asupan kalori harian hingga 100–200 kalori, yang berkontribusi pada penurunan berat badan jika dilakukan secara konsisten.
Kekurangan dan Efek Samping Stevia
Meskipun stevia dianggap aman, konsumsi berlebihan tetap dapat menimbulkan efek samping. Beberapa orang melaporkan gangguan pencernaan seperti kembung, mual, atau diare setelah mengonsumsi stevia dalam jumlah besar. Reaksi alergi juga mungkin terjadi, meskipun jarang.
Selain itu, rasa stevia yang sedikit pahit atau seperti licorice tidak disukai semua orang. Produsen sering mencampur stevia dengan eritritol atau pemanis lain untuk menutupi aftertaste ini, yang justru menambah kalori dan bahan buatan.
Dr. Andini, ahli gizi dari Universitas Indonesia, menekankan bahwa stevia bukanlah makanan kesehatan. "Stevia adalah alternatif yang lebih baik daripada gula, tetapi tetap harus digunakan dengan bijak. Jangan menganggapnya sebagai 'free pass' untuk makan manis tanpa batas," ujarnya.
Perbandingan dengan Pemanis Lain
Dibandingkan dengan pemanis buatan seperti aspartam atau sakarin, stevia dianggap lebih alami karena berasal dari tanaman. Namun, beberapa penelitian menunjukkan bahwa pemanis buatan juga aman dalam batas konsumsi harian yang ditetapkan. Pilihan antara stevia dan pemanis buatan seringkali tergantung pada preferensi rasa dan tujuan kesehatan.
Untuk penderita diabetes, stevia menjadi pilihan utama karena tidak memengaruhi gula darah. Sementara itu, bagi yang ingin mengurangi kalori tanpa mengubah rasa, pemanis buatan mungkin lebih sesuai karena tidak memiliki aftertaste.
Kesimpulan Ahli
Para ahli sepakat bahwa stevia dapat menjadi bagian dari pola makan sehat sebagai pengganti gula, terutama bagi mereka yang perlu mengontrol gula darah atau berat badan. Namun, kuncinya adalah moderasi. Mengganti semua gula dengan stevia bukanlah solusi instan untuk hidup sehat.
Laporan USA Today menekankan bahwa pola makan seimbang dengan berbagai nutrisi tetap menjadi prioritas. Stevia hanyalah alat bantu, bukan pengganti kebiasaan makan yang baik. Jadi, jika Anda ingin beralih ke stevia, lakukan secara bertahap dan perhatikan respons tubuh Anda.



