Setahun Pimpin Semarang, Agustina-Iswar Perkuat Layanan Kesehatan Warga
Genap satu tahun kepemimpinan Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng bersama Wakil Wali Kota, Iswar Aminuddin, sektor kesehatan di ibu kota Jawa Tengah itu mencatat kemajuan signifikan. Akses layanan kesehatan meluas, perlindungan warga meningkat, angka kemiskinan menurun, serta layanan bagi ibu hamil kian terjamin.
Program Semarang Sehat sebagai Fondasi
Layanan kesehatan tersebut diperkuat melalui program 'Semarang Sehat' yang menempatkan kesehatan sebagai hak dasar warga. Program ini tidak hanya menyasar pada pengobatan, tetapi juga pencegahan penyakit, pemenuhan gizi, hingga jaminan akses layanan kesehatan bagi seluruh lapisan masyarakat.
"Kesehatan adalah hak dasar setiap warga. Kami ingin membangun Semarang yang kuat dari dalam, dan itu dimulai dari tubuh yang sehat, jiwa yang kuat, ekonomi yang membaik, serta rasa aman saat berobat. Semarang Sehat adalah wujud hadirnya pemerintah untuk melindungi warganya," ujar Agustina dalam keterangan tertulis, Selasa (24/2/2026).
Keterkaitan Kesehatan dan Pengentasan Kemiskinan
Upaya pembangunan kesehatan ini berjalan seiring dengan upaya pengentasan kemiskinan. Dalam lima tahun terakhir, angka kemiskinan di Kota Semarang tercatat menurun secara konsisten, dari 11,84% pada 2020 menjadi 9,36% pada 2025.
Tren penurunannya terjadi setiap tahun, yakni 11,25% pada 2021, 10,98% pada 2022, 10,77% pada 2023, 10,19% pada 2024, 9,71%, hingga 9,36% pada 2025. Penurunan ini memperluas akses warga terhadap layanan kesehatan, terutama bagi kelompok yang sebelumnya terkendala biaya.
Menurut Agustina, perbaikan kesehatan dan ekonomi merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Warga yang sehat memiliki peluang lebih besar untuk bekerja produktif, sementara perbaikan ekonomi membuat akses layanan kesehatan semakin terbuka.
"Kemiskinan dan kesehatan itu terkait erat. Warga miskin rentan sakit, dan warga sakit bisa jatuh miskin. Karena itu, kami intervensi keduanya sekaligus. Alhamdulillah, angkanya terus menunjukkan perbaikan," ungkapnya.
Perluasan Universal Health Coverage (UHC)
Salah satu capaian penting lainnya adalah perluasan kepesertaan Universal Health Coverage (UHC). Diketahui, jumlah peserta UHC di Kota Semarang meningkat dari 98.261 orang pada 2024 menjadi 228.859 orang pada 2025, atau bertambah 130.598 peserta dalam satu tahun.
"Saya sering mendengar cerita warga yang dulu takut ke puskesmas atau rumah sakit karena mikir biaya. Sekarang, dengan UHC yang meluas, mereka bisa datang dengan tenang. Itu kebahagiaan tersendiri bagi kami," tambah Agustina.
Penanganan Stunting dan Layanan Ibu-Anak
Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang juga memperkuat penanganan stunting melalui sejumlah program terintegrasi yang menyasar remaja, ibu hamil, hingga balita. Upaya ini dilakukan untuk memastikan tumbuh kembang anak berjalan optimal sejak dini.
- Program Daycare Rumah Pelita diketahui menyasar 160 balita.
- Program Week Care menjangkau 105 orang yang terdiri dari 30 remaja, 30 ibu hamil, dan 45 balita di tiga puskesmas.
- Pemberian tablet tambah darah digencarkan untuk mencegah anemia, dengan sasaran 78.612 remaja putri, 18.293 ibu hamil, dan 261 calon pengantin.
- Program Dapur Sehat Atasi Stunting (DASHAT) juga dijalankan melalui pendampingan gizi dan edukasi pola makan sehat dengan menyasar 78.612 remaja dan 18.293 ibu hamil.
Tidak berhenti di situ, layanan kesehatan ibu dan anak pun turut diperluas. Pelayanan kesehatan ibu hamil menjangkau 17.636 orang, ibu bersalin 17.561 orang, bayi baru lahir 27.091 orang, dan balita sebanyak 77.484 orang. Di tingkat posyandu, pemantauan terhadap balita dilaksanakan di 1.643 posyandu yang tersebar di 177 kelurahan dengan dukungan 15.741 kader.
"Saya berterima kasih kepada para kader Posyandu. Mereka adalah pahlawan kesehatan di lingkungan masing-masing. Tanpa mereka, program-program ini tidak akan sampai ke ibu dan anak," kata Agustina.
Infrastruktur Kesehatan yang Diperkuat
Selain layanan, sepanjang 2025, terdapat empat puskesmas yang dibangun atau direhabilitasi, yakni Puskesmas Tlogosari Kulon, Kebokatan Tahap 2, Pegandan Tahap 2, dan Genuk Tahap 2. Tiga Puskesmas Pembantu (Pustu) juga dibangun dan diperbaiki, termasuk Pustu Ratu Ratih dan Pustu Beringin.
"Kami ingin memastikan bahwa tidak ada warga yang kesulitan mengakses layanan kesehatan karena jarak. Dengan membangun puskesmas dan pustu di berbagai titik, kami mendekatkan layanan kepada masyarakat," tegas Agustina.
Fokus pada Kesehatan Mental dan Sosial
Tak hanya fokus pada kesehatan fisik, Pemkot Semarang juga memperkuat aspek kesehatan mental dan sosial melalui program Rumah Inspirasi. Fasilitas ini menjadi ruang bagi warga untuk berkumpul, belajar, sekaligus mendapatkan pendampingan sosial.
Hingga 2025, sebanyak tujuh Rumah Inspirasi telah dibangun di Kecamatan Mijen, Tembalang, Semarang Barat, Semarang Tengah, Genuk, Gayamsari, dan Gunungpati. Pemerintah kota juga tentang pembentukan Rumah Inspirasi serta menyiapkan sistem aplikasi SIDAKSOS untuk memudahkan pendataan dan pelayanan.
"Rumah Inspirasi bukan sekadar bangunan. Ini adalah ruang harapan bagi warga yang membutuhkan pendampingan. Di sini mereka bisa belajar, berkumpul, dan mendapatkan motivasi untuk bangkit," urai Agustina.
Target Tahun Kedua Kepemimpinan
Memasuki tahun kedua kepemimpinan, Pemkot Semarang menargetkan perluasan layanan kesehatan dan sosial. Di bidang kesehatan ibu dan anak, pemerintah akan mengembangkan daycare di 16 lokasi dan week care di 40 puskesmas, serta memperluas pemberian tablet tambah darah bagi remaja putri.
Selain itu, pelayanan kesehatan ibu hamil, ibu bersalin, bayi baru lahir, dan balita juga akan ditingkatkan. Pemerintah kota turut menyalurkan bantuan pangan berupa beras 10 kg per keluarga per bulan selama tujuh bulan kepada 805 keluarga miskin yang belum menerima bantuan.
Di bidang infrastruktur kesehatan, Pemkot Semarang menargetkan penyelesaian Detail Engineering Design (DED) untuk Pustu Panjang, Pustu Podorejo, dan Pustu Tanjungmas. Feasibility Study (FS) dan DED Puskesmas Kedungmundu serta Puskesmas Srondol juga disiapkan, bersamaan dengan pelaksanaan fisik pembangunan Pustu Sendangmulyo dan penyusunan DED Pustu Poncol. Selain itu, Pustu Ratu Ratih akan direhabilitasi dan kompetensi 265 tenaga kesehatan ditingkatkan melalui pelatihan dan pendidikan.
Pengembangan Rumah Inspirasi dan Layanan Sosial
Lebih lanjut, Agustina menjelaskan, penguatan layanan sosial dilakukan melalui pengembangan Rumah Inspirasi. Pemerintah kota menargetkan pembangunan sembilan Rumah Inspirasi baru di Kecamatan Semarang Utara, Semarang Selatan, Semarang Timur, Pedurungan, Ngaliyan, Tugu, Candisari, Banyumanik, dan Gajahmungkur.
Untuk mendukung pembangunan tersebut, pemerintah menyusun FS oleh BRIDA dan DED oleh Distaru, menambah sarana dan prasarana di tiga Rumah Inspirasi yang telah ada di Semarang Barat, Gayamsari, dan Gunungpati, serta menyiapkan Rancangan Peraturan Wali Kota (Raperwal) dan petunjuk teknis pelaksanaan. Penguatan, pemantauan, evaluasi, dan pelaporan pun akan dilakukan secara berkala.
"Tahun depan kita kejar target yang lebih tinggi. Tidak boleh ada warga yang tertinggal. Semua harus mendapat layanan kesehatan yang layak. Ini janji kami kepada warga Semarang," pungkasnya.
Kolaborasi sebagai Kunci Keberhasilan
Rangkaian capaian tersebut tidak lepas dari peran berbagai pihak, mulai dari ribuan kader posyandu, tenaga kesehatan, hingga partisipasi aktif warga. Berbagai program dijalankan, antara lain pemantauan kesehatan balita, pencegahan anemia pada remaja putri, serta peningkatan kesadaran keluarga terhadap pentingnya gizi seimbang.
Dalam satu tahun kepemimpinan Agustina dan Iswar, kolaborasi antara pemerintah serta masyarakat menjadi kunci penguatan layanan kesehatan. Upaya ini diharapkan terus berlanjut agar manfaatnya dirasakan merata oleh seluruh warga.