Pemerintah Perkuat Program Cek Kesehatan Gratis di Sekolah untuk Deteksi Dini Penyakit
Pemerintah Perkuat CKG Sekolah untuk Deteksi Dini Penyakit

Pemerintah Indonesia terus memperkuat program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang dilaksanakan di lingkungan sekolah. Langkah ini dinilai penting untuk mendeteksi secara dini berbagai penyakit kronis pada anak-anak usia sekolah. Kepala Badan Komunikasi Pemerintah RI, Muhammad Qodari, menyatakan bahwa intervensi medis sejak dini melalui program CKG akan menjadi motor penggerak lahirnya generasi emas yang tangguh, produktif, dan mandiri.

Data Temuan Kesehatan Siswa

Berdasarkan data program CKG Sekolah sepanjang tahun 2025, pemerintah menemukan tiga masalah kesehatan terbesar pada siswa. Masalah kebugaran mendominasi dengan angka 60,69 persen, diikuti karies gigi sebesar 47,24 persen, dan anemia sebesar 27,49 persen. Memasuki tahun 2026, sejak Januari hingga awal Mei, tercatat sebanyak 4.883.890 siswa telah menjalani skrining kesehatan di 45.596 sekolah di seluruh Indonesia. Data terbaru menunjukkan tiga masalah kesehatan dominan, yaitu gigi berlubang (41,5 persen), peningkatan tekanan darah (22,1 persen), dan penumpukan kotoran telinga (8,6 persen).

Dukungan Pengamat Kebijakan Publik

Pengamat Kebijakan Publik, Trubus Rahadiansyah, memberikan dukungan penuh terhadap program CKG di sekolah. Menurutnya, program ini sangat mendesak karena banyak anak usia sekolah yang mulai terserang penyakit degeneratif dan menular. “Program ini mendesak karena ditengarai banyak anak-anak sekolah terkena penyakit yang sifatnya degeneratif. Selain itu juga ada penyakit-penyakit jenis menular, jadi penyakit-penyakit ini kan bisa dideteksi melalui CKG ini,” jelas Trubus. Ia menambahkan bahwa data hasil pemeriksaan massal dapat digunakan sebagai basis pemetaan sistematis untuk menentukan intervensi kebijakan yang lebih tepat sasaran. Program ini juga dinilai efektif untuk mengedukasi orang tua yang selama ini kurang memahami kondisi kesehatan anak mereka.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Perkuat Fasilitas di Daerah 3T

Sejak diluncurkan, Pemerintah Kota Tangerang mencatat lebih dari 85 ribu warganya telah memanfaatkan layanan CKG di Puskesmas. Meskipun dinilai sebagai langkah positif, Trubus memberikan catatan agar pemerintah segera memperkuat pemerataan fasilitas kesehatan dan kesiapan tenaga medis di wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T). Kolaborasi antara pusat dan daerah menjadi kunci agar program ini berkelanjutan. “Programnya menurut saya ini program yang bagus. Jadi program ini harus diperkuat, harus dibuat berkelanjutan,” pungkas Trubus.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga