Harry Styles Buka Suara Soal Masa Transisi Pasca Bubarnya One Direction
Penyanyi solo ternama asal Inggris, Harry Styles, secara terbuka membagikan pengalaman personalnya selama masa transisi setelah boyband fenomenal One Direction secara resmi bubar pada tahun 2015. Dalam sebuah wawancara intim yang dilakukan bersama teman dekat sekaligus penata gaya pribadinya, Harry Lambert, untuk The Sunday Times Magazine, Styles mengungkapkan perasaan kesepian yang mendalam yang sempat menghantuinya di awal perjalanan karier solonya.
Perbedaan Tekanan Antara Grup dan Solo
Menurut pengakuan Styles, berada dalam sebuah grup musik seperti One Direction memberikan rasa aman tersendiri karena beban dan tanggung jawab dapat terbagi secara merata di antara lima anggota. Namun, situasi tersebut berubah drastis ketika ia harus tampil sendirian di atas panggung untuk pertama kalinya.
"Ketika kamu berada di band dengan empat orang lain, ada banyak ruang untuk bersembunyi. Bebannya terbagi. Beberapa kali pertama tampil sendirian, aku bahkan berpikir: 'Apa yang harus kulakukan dengan tanganku?'" ujar Styles dengan jujur.
Ia menjelaskan bahwa transisi dari anggota boyband menjadi artis solo bukanlah proses yang mudah. Rasa kesepian dan tekanan yang datang dari ekspektasi publik serta industri musik menjadi tantangan besar yang harus dihadapinya. Styles mengakui bahwa momen-momen awal dalam karier solonya dipenuhi dengan keraguan dan pencarian jati diri sebagai musisi independen.
Perjalanan Menemukan Identitas Baru
Wawancara ini mengungkap sisi lain dari kehidupan Styles yang jarang terekspos media. Meskipun kini dikenal sebagai salah satu penyanyi solo paling sukses di dunia, perjalanannya penuh dengan lika-liku emosional. Lambert, sebagai teman dan kolaborator, memberikan perspektif tambahan tentang bagaimana Styles beradaptasi dengan perubahan besar dalam hidupnya.
Styles juga menceritakan bahwa dukungan dari tim dan orang-orang terdekat sangat membantunya melewati masa-masa sulit tersebut. Proses kreatif dalam mengembangkan musik solo menjadi salah satu cara baginya untuk mengekspresikan diri dan mengatasi perasaan kesepian yang sempat mengganggu.
Pengakuan jujur dari Harry Styles ini memberikan gambaran nyata tentang tantangan yang dihadapi oleh mantan anggota boyband ketika memulai babak baru dalam karier mereka. Kisahnya menginspirasi banyak penggemar dan musisi muda yang mungkin mengalami fase transisi serupa dalam perjalanan karier mereka di industri hiburan.