Siti Fatmawati, seorang perempuan asal Kebumen, berhasil membangun usaha pengolahan kikil di Cikarang, Kabupaten Bekasi, dari modal coba-coba pada 2012. Kini, usahanya mampu memproduksi ratusan kilogram kikil setiap hari dan menghasilkan keuntungan hingga Rp1 juta per hari.
Berawal dari Coba-coba pada 2012
Siti memulai usaha kikil setelah berhenti bekerja dan suaminya harus pulang pergi ke luar daerah. Pada 2012, ia mencoba mengolah kikil dalam skala kecil dan mengirimkannya ke tukang tahu di pasar. Hasilnya, dagangannya laku terjual. Perempuan berusia 51 tahun itu kemudian menawarkan sendiri kikil buatannya ke pasar-pasar.
“Yang penting ada barang, saya masak,” kata Siti saat berbincang dengan detikcom di tempat produksinya di Cikarang, Kabupaten Bekasi, beberapa waktu lalu.
Ia tidak mengetahui persis jumlah modal awal yang dikeluarkan, karena membeli bahan baku sesuai uang yang ada.
Produksi Ratusan Kilogram per Hari
Kini, lokasi produksi Siti berada di pinggir Jalan Raya Serang-Setu, di bangunan sederhana berdinding seng dan kayu. Di dalamnya, deretan drum plastik biru memenuhi area pengolahan. Lantai yang basah menjadi pemandangan sehari-hari karena proses perendaman. Keranjang berisi kikil yang masih diolah juga terlihat di sudut ruangan.
Meski tempatnya tidak terlalu luas, Siti mampu menghasilkan 2-3 kuintal (200-300 kg) kikil per hari. Hasil olahannya dikirim ke Pasar Serang, Sukamakmur, hingga Sukabungah Bekasi. Anak Siti bertugas mengantar kikil ke para pelanggan.
“Kalau ke Sukamakmur 4 hari sekali. Entar kalau habis orangnya nelepon,” kata Siti.
Bahan baku kikil diperoleh dari Cibinong dan Sentul, Kabupaten Bogor. Dalam sebulan, Siti membeli sekitar 2,5 ton bahan baku. Setelah melalui proses perendaman, berat kikil bertambah karena menyerap air.
Proses Pengolahan Autodidak
Siti belajar mengolah kikil secara autodidak dan mendengarkan saran dari pedagang lain. Sebelum dikirim ke pasar, kikil harus melalui beberapa tahap: digoreng, direbus, dan direndam selama dua hari.
“Setelah itu baru keluar ke pasar,” ujar Siti.
Usaha Siti tidak selalu mulus. Ia beberapa kali pindah tempat produksi, dari rumah hingga menyewa tempat yang kini digunakan dengan biaya Rp12 juta per tahun. Bangunan itu dulunya tak terawat, dan Siti bersama keluarganya menata tempat tersebut agar layak menjadi tempat pengolahan.
Keuntungan Hingga Puluhan Juta per Bulan
Dari usaha tersebut, Siti memperoleh keuntungan setiap hari sekitar Rp700 ribu hingga Rp1 juta. Dalam sebulan, keuntungannya bisa mencapai lebih dari Rp20 juta.
Untuk mengembangkan usaha, Siti mengajukan pinjaman Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI sebesar Rp200 juta dengan tenor empat tahun. Pinjaman itu digunakan untuk membeli bahan baku dan mengembangkan usaha.
“Digunakan untuk beli bahan dan mengembangkan usaha,” kata Siti menjelaskan alokasi pinjaman tersebut.
Ia merasakan manfaat pinjaman KUR BRI untuk menjaga kelancaran usaha. Menurutnya, tambahan modal membuat proses produksi berjalan lebih baik.
“Biar semakin lancar lah usaha kami ini,” ujar Siti.
Dukungan BRI untuk UMKM
Mantri BRI Unit Serang Bekasi, Dewi Sanny Simanjuntak, mengatakan BRI terus berkomitmen membantu masyarakat meningkatkan usahanya. Proses pengajuan KUR BRI dilakukan dengan melihat prospek serta kebutuhan nasabah.
“Makanya ketika mereka mengajukan, kita menilai di lapangan dan kita anggap layak untuk dikembangkan lagi, ya dengan harapan semakin kita memberikan tambahan modal, akan memajukan usaha mereka dan akan memajukan juga omzet,” kata Dewi saat diwawancara detikcom secara terpisah.
Ia berharap pinjaman modal yang diberikan BRI dapat membantu para pelaku UMKM dalam meningkatkan kapasitas usahanya.
“Besar harapan kami dengan memberikan kredit ini sangat membantu untuk mereka para nasabah kami itu untuk berproduktif. Semakin bisa percaya diri bahwa ada nih Bank BRI, khususnya ya, siap untuk membantu memajukan UMKM, apalagi dibantu dengan adanya program KUR subsidi bunga dari pemerintah,” ujar Dewi.



