Dari Modal Rp20 Juta, Agen BRILink Raup Transaksi Rp5 Miliar per Bulan
Modal Rp20 Juta, Agen BRILink Raup Transaksi Rp5 Miliar per Bulan

Di antara deretan bangunan pasar di kawasan Sukamakmur, Bogor, Jawa Barat, berdiri sebuah toko berwarna biru muda dengan papan besar bertuliskan "ICEU'S STORE". Toko ini mencolok dibanding kios lain di sekitarnya. Sandal, pakaian, dan berbagai aksesori dipajang terbuka menghadap jalan. Di sisi kanan atas, papan layanan Agen BRILink terpampang besar dengan tulisan "Transfer & Tarik Tunai" dan deretan logo layanan perbankan serta pembayaran digital. Di bagian depan toko dua lantai itu, sebuah meja kecil layanan BRILink ditempatkan dekat pintu masuk. Aktivitas jual beli dan transaksi berjalan berdampingan. Warga yang datang untuk tarik tunai atau transfer juga melihat-lihat barang dagangan.

Perjalanan Menjadi Agen BRILink

Toko ini milik pasangan Niseu Susila (30) dan Suryani (35). Niseu menceritakan bahwa sebelum menjadi agen BRILink, mereka mencoba berbagai usaha waralaba sederhana, kemudian usaha sandal dan sepatu berbasis kemitraan. Usaha mereka mulai berkembang mengikuti kebutuhan warga sekitar. Pada tahun 2022, mereka bergabung menjadi agen BRILink. Hanya sekitar seminggu setelah pengajuan, mereka diterima. Keputusan membuka layanan ini muncul karena melihat kebutuhan warga sekitar yang kesulitan mengakses layanan perbankan. Modal awal menjadi agen BRILink hanya Rp 20 juta. "Kami buka BRILink karena kebutuhan warga sekitar. Karena bank jauh banget dari sini," kata Niseu.

Perjalanan usaha BRILink mereka tidak langsung ramai. Di awal, transaksi harian hanya sekitar lima orang. Perlahan jumlah pelanggan meningkat. Setahun kemudian, transaksi mulai ramai hingga kini mencapai sekitar 100 transaksi per hari.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Transaksi Rp 5 Miliar per Bulan

Tiga tahun setelah usaha BRILink berjalan, Niseu dan suami membuka dua cabang tambahan di lokasi lain. Cabang-cabang tersebut dijalankan dengan konsep berbeda. Salah satu cabang fokus menjual kerudung, sementara cabang lainnya menyediakan kosmetik dan aksesori sederhana seperti jepit rambut. Kini, dari tiga cabang yang dimiliki, perputaran uang transaksi BRILink mencapai sekitar Rp 5 miliar per bulan. Untuk cabang utamanya saja, perputaran uang mencapai sekitar Rp 2 miliar per bulan. Jenis transaksi yang paling sering dilakukan warga adalah transfer, tarik tunai, dan pembayaran kebutuhan harian seperti BPJS. Untuk layanan tarik tunai, total transaksi per hari bisa mencapai Rp 100 juta. Dari setiap transaksi, Niseu memperoleh biaya administrasi yang bervariasi tergantung nominal transaksi. Untuk transfer Rp 1 juta misalnya, biaya administrasi sekitar Rp 5 ribu, sementara lebih dari Rp 1 juta sekitar Rp 10 ribu. Menurut Niseu, usaha BRILink sangat membantu kondisi keuangan keluarga mereka. Pendapatan dari usaha ini juga mendukung pengembangan usaha lain yang mereka jalankan.

Bangun Rumah dan Ibadah Umrah

Dari hasil usaha tersebut, Niseu mengaku kini sedang membangun rumah dan sudah bisa berangkat umrah bersama keluarga. "Alhamdulillah lagi bangun rumah. Sudah umrah juga," ujarnya. Selain peningkatan pemasukan, pasangan ini juga mendapat penghargaan berkat usaha BRILink. Pada awal menjadi agen, mereka meraih juara dua kategori transaksi terbanyak untuk agen pemula. Setelah itu, mereka kembali memperoleh penghargaan di kategori kelas juragan. Keduanya juga sukses membuka lapangan pekerjaan baru. Awalnya hanya memiliki satu karyawan, kini total ada lima pekerja yang membantu operasional di tiga cabang mereka. Untuk menjaga pelanggan tetap datang, mereka mengandalkan pendekatan personal. Sebagian besar pelanggan berasal dari lingkungan sekitar yang sudah saling mengenal. Belakangan, mereka mulai mencoba inovasi promosi melalui media sosial seperti Instagram dan TikTok. Meski penjualan online belum maksimal, cara itu perlahan mulai dijalankan untuk memperluas pasar. Selain itu, mereka juga membuat program kartu member khusus pelanggan transaksi BRILink. Setiap pelanggan yang datang akan mendapat satu stempel per hari. Jika stempel terkumpul penuh, pelanggan akan mendapatkan hadiah. "Awalnya hadiah kipas angin, setrika. Sekarang ada minyak goreng juga," kata Suryani. Ke depan, Niseu dan Suryani ingin memperbesar usaha dan menambah empat cabang baru. Saat ini, satu lokasi baru mulai dipersiapkan di atas lahan milik sendiri di pinggir jalan utama. "Harapannya bisa lebih besar lagi," kata Suryani.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga

Permudah Akses Keuangan Warga

Bagi Dede Irawan (38), keberadaan layanan BRILink di Iceu's Store memudahkan pekerjaan dan kebutuhan usahanya. Sejak 2017, Dede rutin bertransaksi di sana. Menurutnya, transaksi di Iceu's Store lebih mudah dan praktis dibanding harus pergi jauh ke bank atau ATM. "Kalau butuh uang tinggal telepon. Kadang saya transfer dulu, nanti uangnya diambil atau dianterin," kata Dede. Sebagian besar transaksi yang dia lakukan berupa tarik tunai dan setor tunai. Untuk kebutuhan lain seperti pembayaran listrik atau transaksi digital, dia memilih menggunakan mobile banking sendiri. Sebelum ada layanan BRILink di Sukamakmur, Dede harus pergi ke Jonggol untuk melakukan setor tunai atau transaksi perbankan lainnya. Perjalanan dari rumahnya menuju Jonggol memakan waktu sekitar 30 menit menggunakan sepeda motor. Pulang pergi bisa menghabiskan waktu sekitar satu jam, belum termasuk antrean di ATM. "Sudah jauh, antre juga," katanya. Kehadiran Iceu's Store dianggap sangat membantu warga sekitar. Selain dekat dari rumah, proses transaksi juga lebih sederhana karena sudah saling mengenal. Hubungan yang sudah terjalin lama membuat transaksi menjadi lebih fleksibel. Dalam kondisi tertentu, Dede bahkan bisa meminta uang tunai lebih dulu sebelum melakukan transfer ketika terkendala sinyal internet. "Kadang saya bilang, 'Pak Yani (Suryani) kirimin uang dulu ke rumah, nanti saya transfer kalau udah dapat sinyal bagus'," kata dia. Faktor kepercayaan menjadi hal utama yang membuatnya nyaman bertransaksi. "Udah saling percaya. Dia tahu rumah saya, saya juga tahu keluarganya," ucapnya. Dalam satu transaksi, nominal yang diambil Dede bisa mencapai puluhan juta rupiah. Terakhir, dia menarik tunai sekitar Rp 34,6 juta untuk kebutuhan pembayaran usaha. Dia bergerak di bidang jual beli hewan dan bibit, sehingga cukup sering membutuhkan uang tunai dalam jumlah besar karena sebagian transaksi masih dilakukan secara langsung. "Kalau pembayaran gede, orang kampung kadang nggak mau transfer, maunya cash," katanya.

BRILink Jadi "Kantor Kecil" BRI

Bagi BRI Unit Jonggol, keberadaan agen BRILink bukan sekadar perpanjangan layanan perbankan, tetapi juga menjadi penghubung utama transaksi keuangan masyarakat hingga ke pelosok desa. Kepala Unit BRI Jonggol, Oki Nurcahyadi (35) mengatakan, jumlah agen BRILink di wilayah Jonggol terus bertambah dalam beberapa tahun terakhir. Saat ini, tercatat ada sekitar 141 agen BRILink yang tersebar di wilayah kerja BRI Unit Jonggol. Menurut Oki, peran agen BRILink cukup besar dalam meningkatkan akses layanan keuangan masyarakat, terutama di wilayah yang jauh dari kantor bank. "BRILink itu ibarat kantor kecilnya BRI," kata Oki. Keberadaan agen BRILink membantu masyarakat tetap bisa bertransaksi meski jam operasional kantor bank sudah tutup. Layanan ini juga menjangkau desa-desa yang sebelumnya sulit mengakses layanan perbankan secara langsung. Wilayah kerja BRI Unit Jonggol mencakup 24 desa di dua kecamatan. Sebagian wilayah berada di daerah yang cukup jauh dari pusat layanan perbankan. "Perannya sangat berpengaruh karena sampai ke desa-desa," ujarnya. Meski jumlah agen terus bertambah, masih ada beberapa wilayah yang menjadi prioritas pengembangan agen BRILink, salah satunya Sukamakmur. Syarat menjadi agen BRILink tidak terlalu rumit. Salah satu ketentuannya adalah jarak antaragen sekitar 500 meter hingga satu kilometer agar penyebaran layanan merata. Calon agen juga diwajibkan memiliki rekening BRI. Setelah pengajuan, proses verifikasi dan persetujuan ditangani oleh tim khusus. "Tergantung mapping juga. Ada bagian khusus yang menangani BRILink," kata Oki. Di Jonggol, transaksi yang paling sering dilakukan masyarakat melalui agen BRILink masih didominasi tarik tunai, transfer, dan pembayaran tagihan seperti token listrik. Layanan pengajuan pinjaman juga sempat menjadi transaksi yang cukup tinggi, namun dihentikan sejak tahun lalu. Di tengah perkembangan aplikasi pembayaran digital dan mobile banking, agen BRILink tetap memiliki tempat tersendiri di masyarakat Jonggol. Faktor kedekatan sosial dan rasa percaya menjadi alasan utama warga masih memilih bertransaksi melalui agen. "Orang sini itu rata-rata masih saling kenal dan percaya," ujarnya. Hubungan antara agen dan warga tidak sekadar hubungan pelanggan dan penyedia jasa. Banyak warga yang sudah saling mengenal secara personal bahkan memiliki hubungan keluarga atau kedekatan lingkungan. Transaksi sering kali berjalan lebih fleksibel. Dalam kondisi tertentu, warga bisa meminta bantuan transaksi lebih dulu kepada agen sebelum menyelesaikan transfer. Selain mengandalkan kedekatan sosial, keberadaan mantri BRI di lapangan juga membantu memperkuat layanan kepada masyarakat. Para mantri aktif mendatangi desa-desa untuk membantu kebutuhan transaksi, pengaduan, hingga pengajuan layanan perbankan. "Mantri sekarang kayak ojek online. Mereka dekat sama masyarakat," kata Oki.