Matahari siang itu terasa cukup terik di Jalan Nanggerang, Bojonggede, Bogor, Jawa Barat. Dari luar, rumah produksi Keripik Cipuy Renyah tampak biasa saja. Namun, begitu masuk ke dalam, suasananya sibuk. Tumpukan keripik singkong memenuhi sudut ruangan. Aroma gurih minyak goreng masih terasa hangat di udara. Delapan perempuan duduk melingkar di lantai sambil memasukkan keripik ke dalam plastik kemasan. Tangan mereka bergerak cepat. Sesekali terdengar obrolan kecil diselingi tawa.
Di antara mereka, ada Encih (44), pemilik Keripik Cipuy Renyah. Perempuan berjilbab hijau itu tampak ikut jongkok sambil merapikan kemasan keripik. Dia mengawasi proses produksi. Wajahnya terlihat lelah, tetapi tetap sibuk memastikan karyawannya bekerja cepat.
Tak jauh dari tempat Encih duduk, seorang pria lanjut usia mengangkat keripik singkong menggunakan saringan besar dari wajan penggorengan. Keripik yang baru matang itu kemudian dituangkan ke dalam karung plastik bening berukuran besar yang hampir penuh.
Modal Awal dan Perjuangan di Masa Pandemi
Encih memulai usaha Keripik Cipuy Renyah dengan modal sekitar Rp 15 juta pada 2019. Uang itu digunakan untuk membeli peralatan produksi, mulai dari kompor, wajan besar, hingga kebutuhan bahan baku dan minyak goreng. Sebagian modal itu berasal dari pinjaman keluarga yang ikut mendukung usahanya sejak awal. Sebelum memiliki usaha sendiri, Encih bekerja pada orang lain yang menjalankan usaha serupa. Dari sana, dia belajar proses produksi hingga akhirnya memberanikan diri membuka usaha rumahan sendiri. "Waktu itu mikirnya mudah-mudahan bisa jalan dulu," ujar Encih saat berbincang dengan Liputan6.com, Kamis (14/5/2026).
Produksi awal Keripik Cipuy Renyah masih kecil, sekitar satu kuintal dalam seminggu. Namun perlahan permintaan bertambah. Dalam waktu sebulan, produksi meningkat jadi dua kuintal. Tak lama kemudian, usahanya terus berkembang hingga mampu memproduksi satu sampai dua ton keripik. Namun ketika usaha mulai berkembang, pandemi Covid-19 datang. Pada masa awal pandemi, penjualan masih berjalan. Tetapi memasuki gelombang berikutnya, usaha Encih terpukul. Toko-toko dan warung tempatnya menitipkan barang mulai sepi pembeli. Banyak produk yang akhirnya dikembalikan karena tidak terjual. "Barang banyak yang balik lagi," katanya.
Kondisi itu membuat produksi sempat berhenti. Dalam satu bulan, kadang hanya sekali produksi. Bahkan pernah tidak produksi sama sekali. Encih mengaku usahanya seperti kembali dari nol. Saat itu, dia memilih bertahan. Tabungan yang dimiliki kembali diputar menjadi modal usaha agar produksi tetap berjalan sedikit demi sedikit. Beruntung, saat itu Encih sudah memiliki beberapa reseller yang masih membantu penjualan produknya. Walau hanya memproduksi satu kuintal, barang dagangannya kembali habis terjual. Dari situ, produksi mulai berjalan lagi setiap hari. Sedikit demi sedikit usaha yang sempat tersungkur mulai bangkit. Sekitar tiga bulan setelah kondisi mulai membaik, produksi Keripik Cipuy Renyah kembali meningkat. Dalam seminggu, Encih sudah bisa memproduksi hingga satu ton keripik. Permintaan pun kembali berdatangan dari berbagai toko dan reseller yang sebelumnya sempat berhenti mengambil barang.
Pakai KUR BRI, Penjualan Makin Meningkat
Saat penjualan Keripik Cipuy Renyah mulai membaik, Encih memberanikan diri mengajukan Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI. Tujuannya untuk tambahan modal usaha. Pinjaman pertama pada 2022 dengan nominal Rp 25 juta. Dana itu digunakan untuk menambah modal produksi, terutama membeli bahan baku dalam jumlah lebih besar agar usahanya bisa memperluas pasar. "Kalau alat-alat mah sebenarnya sudah ada. Jadi fokusnya buat nambah bahan produksi," ujar Encih.
Sebelum mendapat tambahan modal, produksi keripik miliknya masih terbatas. Encih hanya berani memproduksi satu kuintal, lalu menunggu barang habis terjual sebelum kembali produksi. Menurut dia, pola seperti itu membuat perkembangan usaha berjalan lambat. Setelah mendapatkan KUR, Encih bisa membeli bahan baku lebih banyak sekaligus memperluas pemasaran ke berbagai toko dan pasar. Perlahan, produk Keripik Cipuy Renyah mulai masuk ke wilayah Jakarta. Dari yang awalnya hanya satu kuintal, kapasitas produksinya meningkat menjadi lima kuintal dalam sekali produksi. Kini, Encih mengaku kebutuhan bahan bakunya mencapai sekitar dua ton singkong per minggu. "Alhamdulillah sekarang seminggu bisa dua ton," katanya.
Proses pengajuan KUR pertama memakan waktu sekitar satu bulan. Namun setelah pinjaman pertama berjalan lancar, pengajuan berikutnya menjadi lebih cepat. Setelah pinjaman pertama lunas, Encih kembali mengajukan top up KUR sebesar Rp 50 juta. Tambahan modal itu kembali digunakan untuk memperbesar kapasitas produksi dan menjaga kestabilan pasokan bahan baku yang harganya kerap naik turun. Mulai dari singkong, minyak goreng, hingga plastik kemasan. Menurut Encih, tambahan modal dari KUR sangat membantu menjaga perputaran usaha. Terutama ketika permintaan pasar sedang tinggi. Dalam kondisi tertentu, produksi keripik miliknya bahkan bisa mencapai tiga ton dalam seminggu.
Selain mengandalkan penjualan langsung, Encih juga menerapkan sistem titip jual ke berbagai toko. Cara itu lebih aman untuk menjaga hubungan dengan pelanggan dan reseller yang sudah lama bekerja sama dengannya. Dia mengaku sengaja memberi kelonggaran pembayaran kepada beberapa toko agar usaha mereka sama-sama tetap berjalan. Sebagian pembayaran dilakukan di awal, sisanya dibayar setelah barang habis terjual. "Jadi sama-sama muter usahanya," kata Encih.
Omzet Naik, Encih Beli Mobil dan Tanah
Perkembangan usaha Keripik Cipuy Renyah mengubah kehidupan Encih dan keluarganya. Di awal merintis usaha, omzet Encih hanya sekitar Rp 6 juta per bulan. Kini penghasilannya meningkat hingga Rp 10 juta sampai Rp 15 juta per bulan. "Kalau dibanding awal mah jauh banget," ujar Encih.
Dari hasil usaha keripik, Encih mengaku sudah bisa menambah aset. Salah satunya membeli tanah di samping rumah produksi untuk memperluas tempat usaha. Menurut Encih, tambahan lahan itu dibutuhkan agar proses produksi lebih nyaman karena ruang kerja sebelumnya terasa semakin sempit dan panas saat produksi sedang tinggi. Selain tanah, Encih bisa membeli mobil untuk membantu kebutuhan operasional distribusi barang. Dulu, pengiriman pesanan hanya mengandalkan sepeda motor milik keluarga. Saat permintaan meningkat, terutama menjelang Lebaran, mereka harus bolak-balik berkali-kali mengirim barang ke toko dan reseller. "Kalau hujan atau macet suka repot," katanya. Encih juga kini memiliki beberapa motor yang digunakan untuk kebutuhan operasional harian.
Asal Muasal Nama Cipuy Renyah
Encih menceritakan asal muasal nama usahanya. Cipuy ternyata berangkat dari nama panggilannya waktu kecil. Saat mulai merintis usaha, para keponakannya mengusulkan agar nama panggilan itu dijadikan merek produk. "Ponakan-ponakan bilang, udah pakai nama Bibi aja, Cipuy ditambah Renyah. Ya sudah akhirnya dipakai," kata Encih sambil tersenyum. Nama itu kemudian dipatenkan dan menjadi identitas usaha keripik singkong miliknya.
Produk Cipuy Renyah juga sudah mengantongi sertifikat halal. Encih mengaku proses pengurusan halal dibantu BRI. Selain itu, usahanya juga sempat mendapat dukungan dari program pemberdayaan YBM BRILiaN berupa hibah barang senilai sekitar Rp 8 juta. Bantuan tersebut digunakan untuk menunjang kebutuhan produksi seperti terpal dan perlengkapan usaha lainnya.
Hingga kini, Cipuy Renyah masih fokus pada produk keripik singkong original. Sementara untuk varian pedas, Encih menerapkan sistem pre-order karena daya tahannya lebih singkat. "Kalau pedas paling PO saja. Takutnya nggak tahan lama," ujarnya. Produk keripik miliknya dijual dengan berbagai ukuran. Kemasan 400 gram dibanderol Rp 12 ribu. Sementara ukuran kiloan dijual Rp 25 ribu per kilogram. Ada juga kemasan besar dua kilogram yang biasanya dipesan khusus oleh reseller untuk diolah kembali menjadi varian pedas.
Saat ini, Encih memiliki sekitar 18 reseller aktif yang tersebar di beberapa daerah. Meski jumlah reseller berkurang dibanding sebelum pandemi Covid-19, volume pembelian justru meningkat. "Sekarang ada reseller yang seminggu bisa ambil sampai lima kuintal," katanya. Pemasaran Cipuy Renyah dilakukan secara offline maupun online. Selain memasok ke toko-toko dan reseller, pesanan juga datang melalui media sosial dan pencarian Google yang dikelola anaknya.
Di tengah persaingan usaha camilan yang semakin ketat, Encih memilih menjaga kualitas produk. Dia sangat memperhatikan proses penggorengan, mulai dari suhu minyak, kestabilan api, hingga kualitas singkong yang digunakan setiap hari. "Kita harus punya ciri khas. Makanya dari cara goreng sampai kualitas minyak benar-benar dijaga," ujar Encih.
Pekerjakan Janda dan Lansia
Di rumah produksi Keripik Cipuy Renyah, Encih mempekerjakan belasan warga sekitar. Sebagian besar ibu rumah tangga, janda, hingga lansia. "Alhamdulillah sekarang bukan keluarga saja yang kerja. Sudah banyak ibu-ibu sekitar sini juga," kata Encih.
Sistem upah yang diterapkan disesuaikan dengan hasil pekerjaan masing-masing. Para pekerja mencatat hasil kerja mereka setiap hari, lalu pembayaran dilakukan setiap 10 hari sekali. Penghasilan pekerja bisa berbeda-beda tergantung kecepatan dan jumlah pekerjaan yang diselesaikan. "Kalau yang cepat sehari bisa dapat Rp 60 ribu," ujarnya.
Saani merupakan salah satu karyawan Encih. Perempuan 66 tahun itu sudah menggantungkan penghasilan pada Encih selama delapan tahun terakhir. Sejak suaminya meninggal, Saani tinggal bersama cucunya dan mengandalkan pemasukan dari mengiris singkong di rumah produksi Cipuy Renyah. "Kalau nggak kerja di sini ya bingung," kata Saani pelan. Sebelum bekerja di tempat Encih, dia sempat tinggal di Jakarta lalu pindah ke kawasan Citayam. Awalnya, Saani hanya datang ke rumah produksi Cipuy Renyah untuk mengisi waktu karena tidak betah diam di rumah. Namun lama-kelamaan, pekerjaan itu menjadi sumber penghasilan utama baginya. "Pertama mah cuma belajar ngiris aja," ucapnya.
Setiap pagi, setelah membereskan pekerjaan rumah dan mengurus cucunya, Saani datang ke tempat produksi. Dia bekerja sejak pagi hingga pekerjaan selesai selama kondisi tubuhnya masih kuat. Bagi Encih, keberadaan para pekerja itu menjadi salah satu alasan dirinya terus mempertahankan usaha tetap berjalan. Meski berkali-kali menghadapi masa sulit. Ke depan, Encih ingin membawa Cipuy Renyah berkembang lebih besar lagi. Dia berharap suatu hari bisa memperluas pasar hingga luar Pulau Jawa dan memiliki tempat produksi yang lebih layak. "Bismillah pengen lebih besar lagi," ujarnya.
UMKM Masih Jadi Penopang Utama Kredit BRI
Di tengah ketidakpastian ekonomi global, penyaluran kredit usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) masih menjadi motor utama bisnis BRI. Hingga kuartal I 2026, pembiayaan ke sektor UMKM tetap mendominasi portofolio kredit perseroan. Direktur Utama BRI, Hery Gunardi mengatakan, total kredit dan pembiayaan BRI pada awal 2026 tumbuh 13,7 persen secara tahunan atau year-on-year (YoY) menjadi Rp 1.562 triliun. Menurut Hery, sebagian besar pembiayaan tersebut masih ditopang sektor UMKM yang selama ini menjadi fokus utama BRI. "Segmen UMKM tetap menjadi pilar utama dalam portofolio pembiayaan BRI, dengan total penyaluran mencapai Rp 1.211 triliun," ujar Hery dalam Press Conference Kinerja Keuangan Triwulan I 2026 di Kantor Pusat BRI, Kamis (30/4/2026).
Selain memperbesar pembiayaan UMKM, BRI juga terus memperkuat penyaluran KUR sebagai bagian dari dukungan terhadap program ekonomi kerakyatan pemerintah. Sepanjang Januari hingga Maret 2026, BRI telah menyalurkan KUR sebesar Rp 47,09 triliun kepada sekitar 947 ribu nasabah di berbagai daerah Indonesia. Dari total penyaluran tersebut, sektor pertanian menjadi penerima terbesar dengan nilai pembiayaan mencapai Rp 19,86 triliun atau sekitar 42,16 persen dari total KUR yang disalurkan.
Hery menyebut penyaluran pembiayaan tersebut bukan hanya menunjukkan luasnya jangkauan layanan BRI, tetapi juga menjadi pendorong tumbuhnya usaha-usaha produktif di masyarakat. "Penyaluran tersebut tidak hanya mencerminkan skala dan jangkauan layanan BRI yang luas, tetapi juga menjadi katalis dalam mendorong pertumbuhan usaha produktif, meningkatkan kapasitas UMKM, serta menciptakan lapangan kerja di berbagai daerah," katanya. Selain pembiayaan, BRI juga terus menjalankan berbagai program pemberdayaan bagi pelaku UMKM. Program-program tersebut difokuskan untuk memperkuat kapasitas usaha masyarakat sekaligus memperluas pertumbuhan ekonomi kerakyatan di berbagai wilayah.



