Dari Sopir Truk ke Pengusaha Kebab: Samuri Kini Punya 3 Cabang
Dari Sopir Truk ke Pengusaha Kebab, Samuri Punya 3 Cabang

Samuri (58) tidak pernah membayangkan akan menjadi seorang pengusaha. Selama puluhan tahun, ia menghabiskan hari-harinya di balik kemudi, mulai dari sopir truk hingga sopir jemputan sekolah. Kini, ia sukses sebagai pengusaha kebab dengan tiga cabang usaha.

Perjalanan Panjang Menjadi Pengusaha Kebab

Fase baru dalam hidup Samuri dimulai sekitar tahun 2019. Saat masih aktif sebagai sopir jemputan sekolah, ia mendapat tawaran dari seorang teman untuk membuka usaha kebab. Tanpa ragu, ia belajar singkat selama tiga bulan sambil tetap bekerja di pagi hari. "Pagi jemputan sekolah, sore jualan," cerita Samuri saat ditemui di tempat usahanya di kawasan Cileungsi, Bogor, Jawa Barat.

Tak lama setelah usaha berjalan, pandemi Covid-19 melanda. Aktivitas sekolah berhenti total, sehingga pekerjaan jemputan pun terhenti. Dari situ, Samuri memutuskan untuk fokus penuh pada usaha kebab yang dirintis di dekat rumahnya. Modal awal sebesar Rp20 juta, kemudian ia mengajukan pinjaman Rp60 juta ke Bank Rakyat Indonesia (BRI) untuk pengembangan usaha, seperti pembelian gerobak kebab, tambahan bahan baku, dan sempat mencoba usaha odong-odong. Namun, usaha odong-odong tidak bertahan lama dan dihentikan.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Sebelum pinjaman Rp60 juta, Samuri sudah mengenal layanan pembiayaan BRI saat menjalankan usaha jemputan sekolah. Ia pernah memperoleh pinjaman sekitar Rp100 juta untuk pengembangan armada. Hubungan dengan bank pelat merah terus berlanjut karena Samuri selalu disiplin membayar dan tidak pernah menunggak.

Arkhan Kebab: Dari Satu Lapak ke Tiga Cabang

Usaha kebab Samuri diberi nama Arkhan Kebab, diambil dari nama cucu pertamanya. Dari satu lapak awal, usahanya berkembang hingga memiliki tiga cabang. Cabang kedua dibuka sekitar empat bulan setelah cabang pertama, dan tak lama kemudian cabang ketiga menyusul. Meski demikian, Samuri mengaku tidak lagi agresif menambah titik usaha karena faktor usia dan keterbatasan tenaga. "Sebenarnya mau buka lagi, tapi ya sudah lah, fokus tiga dulu. Kita kan cuma berdua sama istri," ujarnya.

Samuri masih menerima tawaran untuk membuka cabang baru, salah satunya dari teman di kawasan Keranggan. Namun, ia masih mempertimbangkannya, ingin usaha yang dijalani tetap nyaman dan tidak membebani. "Masih tarik ulur. Kepengennya usaha yang bisa dinikmati," katanya.

Omzet Harian Rp2 Juta

Dari usaha kecil yang dirintis, Samuri kini mengantongi omzet harian yang cukup untuk menopang kebutuhan hidup. Untuk satu lokasi, omzet kotor mencapai sekitar Rp1 juta per hari, sementara lokasi lain sekitar Rp500 ribu. Total omzet kotor harian sekitar Rp2 juta. Pendapatan tersebut dibagi bersama mitra, sehingga masing-masing membawa pulang sekitar Rp500 ribu dari satu lokasi. "Cukup lah buat makan sehari-hari," katanya santai.

Bagi Samuri, keberhasilan tidak hanya diukur dari angka. Di usianya, ia lebih menekankan rasa cukup dan ketenangan. Ia tidak memiliki target besar seperti membeli kendaraan atau ekspansi berlebihan. "Kalau mau beli mobil sebenarnya mampu, tapi anak-anak bilang nggak usah, pakai saja yang ada," tuturnya.

Memberdayakan Pelajar dan Menjaga Kualitas

Samuri juga membuka lapangan kerja bagi orang lain. Di salah satu cabang, ada dua karyawan yang bekerja, termasuk pelajar yang membantu ekonomi keluarga. "Kalau untuk anak sekolah, sebulan bisa dua juta lebih, itu sudah sangat membantu," ujarnya. Beberapa karyawan didampingi sejak SMA hingga lulus dan berkeluarga.

Meski ada karyawan yang tidak bertahan, Samuri menganggapnya sebagai dinamika usaha. Ia fokus pada orang yang bisa dipercaya dan mau berkembang. Di lapaknya, ia hanya menyediakan dua varian: kebab dan burger, masing-masing ukuran sedang dan jumbo. Kunci usahanya adalah menjaga rasa dan keramahan. "Siapa saja yang datang kita perlakukan sama. Yang penting ramah," katanya. Ia juga membuat saus sendiri untuk menjaga kualitas.

Dukungan BRI untuk UMKM

Kisah Samuri adalah contoh nyata bagaimana UMKM dapat naik kelas berkat dukungan pembiayaan. Direktur Utama BRI, Hery Gunardi, menyampaikan bahwa penyaluran kredit BRI tumbuh 13,7% secara tahunan menjadi Rp1.562 triliun pada triwulan I 2026. Segmen UMKM menjadi tulang punggung dengan total penyaluran Rp1.211 triliun. BRI juga menyalurkan KUR sebesar Rp47,09 triliun kepada sekitar 947 ribu nasabah, dengan sektor pertanian sebagai penyumbang terbesar.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga

Kepala BRI Cileungsi, Luki Perdana, menjelaskan bahwa mayoritas pelaku UMKM di wilayahnya memilih KUR karena bunga subsidi dan persyaratan agunan sederhana. Karakter masyarakat Cileungsi yang banyak perantau turut memengaruhi pola pembiayaan. BRI juga melakukan pendampingan dan mendorong digitalisasi transaksi melalui QRIS. "Mantri yang ngajarin langsung di lapangan," ujarnya.

Dengan pembiayaan dan pendampingan, UMKM di Cileungsi terus tumbuh, membuka peluang kerja baru. Ke depan, BRI menargetkan penyaluran pembiayaan UMKM terus meningkat melalui program KUR dan skema lainnya.