Di pinggiran selatan Yokohama, sebuah rumah dua lantai terbengkalai. Jendela lantai bawah tertutup rapat, pintu geser kertas mulai rusak, dan halaman dipenuhi rumput liar. Rumah ini sebenarnya masih layak huni dengan sedikit renovasi, namun tak ada warga Jepang yang mau membelinya. Alasannya, rumah itu memiliki catatan kelam: mungkin pernah terjadi bunuh diri, kebakaran, kematian lansia sendirian, atau bahkan pembunuhan. Properti semacam ini dikenal sebagai "jiko bukken"—properti yang memiliki stigma—dan telah kosong setidaknya lima tahun.
Apa Itu Jiko Bukken?
Kazutoshi Kodama, Presiden Kachimode Co., perusahaan properti khusus, menjelaskan bahwa jiko bukken menjadi beban finansial bagi pemilik sekaligus peluang bisnis. Perusahaannya membantu pemilik properti dengan riwayat tragis mengelola unit sewaan. Salah satu layanan unik yang mereka tawarkan adalah "investigasi hantu" secara menyeluruh. Alih-alih dianggap aneh, permintaan terhadap layanan ini justru meningkat pesat.
"Sebagian masyarakat Jepang masih menganggap kematian sebagai sesuatu yang tidak suci atau membawa aura negatif," kata Kodama kepada DW. "Kematian identik dengan ketidakmurnian dan kesialan. Karena itu, mereka percaya bahwa berada terlalu dekat dengan kematian akan membawa nasib buruk." Akibatnya, banyak orang Jepang enggan mendekati properti seperti itu, apalagi menyewa atau membelinya.
Kewajiban Agen Properti dan Dampak Finansial
Menyewakan atau menjual jiko bukken bukan perkara mudah. Agen properti di Jepang wajib memberi tahu calon pembeli atau penyewa jika sebuah rumah memiliki riwayat kejadian tragis. Bahkan, ada situs yang mencatat lokasi properti dengan stigma di seluruh Jepang, lengkap dengan alasan mengapa rumah tersebut masuk daftar. Sebagian besar terkait kebakaran, kematian yang ditemukan setelah lama tidak diketahui, atau bunuh diri. Namun, beberapa daftar hanya memberikan keterangan samar seperti: "informasi lebih lanjut tersedia melalui agen properti."
Menurut Kodama, pemilik rumah dengan riwayat seperti ini biasanya harus menurunkan harga sewa hingga 30% di kota besar dengan permintaan tinggi. Di wilayah lain, penurunan harga bisa mencapai setengahnya. "Ada beberapa properti yang, meskipun terus diiklankan, tetap kosong selama 500 hari," katanya. "Saya bahkan mengetahui properti yang kosong selama lebih dari 1.000 hari. Singkatnya, properti seperti ini akhirnya hanya menjadi bangunan kosong, dan penurunan harga pun tidak lagi berpengaruh."
Investigasi Hantu: Solusi Unik Kachimode
Kachimode menawarkan proses "pembersihan" yang jauh lebih menyeluruh daripada sekadar mengganti karpet, perlengkapan rumah, dan wallpaper. "Perusahaan saya melakukan apa yang kami sebut sebagai 'investigasi hantu'," ujar Kodama. "Kami menginap di ruangan tempat kejadian pernah terjadi, dari pukul 10 malam hingga 6 pagi. Kami melakukan rekaman video, rekaman suara, pemeriksaan gelombang elektromagnetik, pengukuran suhu ruangan, kelembapan, tekanan udara, pencitraan termal, hingga survei kebisingan." Tujuannya adalah membuktikan bahwa ruangan tersebut telah direnovasi secara menyeluruh dan kini bersih, serta menunjukkan bahwa tidak ada fenomena poltergeist, kemunculan hantu, atau kejadian misterius lainnya.
Layanan Kachimode tergolong unik di Jepang. Kodama bekerja sama dengan seorang profesor universitas yang ahli dalam memantau fenomena supranatural. Satu kali layanan menginap untuk investigasi ini dibanderol ¥88.000 atau sekitar Rp9 jutaan. Setelah investigasi selesai, pemilik rumah menerima laporan lengkap yang dapat digunakan agen properti untuk meyakinkan calon penyewa bahwa tidak ada lagi "roh jahat" yang tersisa.
Kodama mengatakan, alat-alat yang digunakan terkadang menangkap kejadian tidak biasa, seperti kamera yang tiba-tiba berhenti merekam atau mikrofon yang mengalami gangguan. "Meski begitu, dalam sebagian besar kasus, hal yang dianggap sebagai sesuatu yang tidak wajar tidak dapat terulang kembali dan akhirnya dianggap sebagai kejadian yang hanya terjadi sekali," katanya. "Namun ada juga properti di mana berbagai fenomena misterius terus terjadi secara konsisten selama lebih dari satu tahun."
Fenomena Rumah Kosong di Jepang
Joey Stockerman, salah satu pendiri AkiyaMart—perusahaan yang mempromosikan rumah-rumah kosong di Jepang—mengatakan jumlah properti terbengkalai terus meningkat. Banyak di antaranya berada di wilayah pedesaan yang mengalami penurunan populasi, tetapi tidak sedikit pula yang berada di pusat kota. "Ada banyak rumah kosong di Jepang, bahkan secara mengejutkan di kawasan perkotaan. Penyebabnya beragam, mulai dari keluarga yang tidak sepakat soal nasib sebuah rumah hingga pemilik yang merasa rumah itu tidak layak dijual. Namun, ada juga banyak properti yang memiliki stigma," kata Stockerman kepada DW.
Menurut survei pemerintah pada akhir tahun 2024, terdapat 9 juta rumah kosong di Jepang atau sekitar 13,8% dari seluruh hunian di negara tersebut. Walaupun banyak faktor yang menyebabkan tingginya jumlah rumah kosong, kepercayaan dan takhayul juga turut berkontribusi. "Orang Jepang sering kali sangat percaya takhayul," kata Stockerman. "Menyewa tempat yang pernah menjadi lokasi kematian seseorang bisa sangat sulit. Mereka juga tidak menyukai properti yang berada dekat pemakaman karena ada perasaan yang sangat kuat terkait kematian di Jepang."
Investasi Rumah Stigma: Resiko Tinggi
Stockerman menceritakan seorang kenalannya yang pernah mencoba membeli rumah dengan riwayat kelam di pinggiran Tokyo sebagai peluang investasi. Rumah itu dibeli dengan harga kurang dari 5.000 dolar AS atau sekitar 5 persen dari nilai sebenarnya. Namun, investasi tersebut tidak berjalan sesuai harapan. Agen properti tetap wajib mengungkapkan sejarah rumah itu kepada calon penyewa sehingga rumah tersebut kembali kosong selama dua tahun sebelum akhirnya mendapatkan penghuni.
Memahami kekhawatiran calon pembeli dan penyewa, AkiyaMart kini menawarkan layanan tambahan: bekerja sama dengan pendeta Shinto dari kuil terdekat untuk melakukan ritual pembersihan rumah dari hal-hal buruk yang dipercaya masih melekat. "Agak unik memang, tetapi ternyata ada peminatnya," kata Stockerman.
Peluang Bisnis di Balik Stigma
Setelah lebih dari 15 tahun berkecimpung di bisnis properti, Kodama melihat peluang besar dalam layanan untuk mengubah citra rumah dengan masa lalu kelam. "Properti tempat kami benar-benar menemukan fenomena misterius biasanya adalah properti yang sangat dihindari orang," katanya. "Properti semacam itu sulit disewakan atau dijual, tetapi tetap ada cara untuk mengelolanya, dan kami membantu para pemilik untuk melakukannya." "Saya pikir sektor ini memiliki potensi besar," tambahnya. "Karena ada banyak orang yang membutuhkan bantuan."



