Kementerian Pertanian (Kementan) secara aktif mengawal pengembangan hilirisasi ayam yang terintegrasi di Provinsi Gorontalo. Inisiatif ini merupakan upaya strategis untuk memperkuat peran peternak rakyat dalam rantai industri peternakan nasional, sekaligus memperluas akses pasar dan meningkatkan kesejahteraan mereka.
Komitmen Pemerintah dalam Program Hilirisasi
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, Agung Suganda, menegaskan bahwa pemerintah berkomitmen penuh untuk memastikan program hilirisasi ini berjalan optimal dan memberikan manfaat nyata bagi para peternak rakyat. "Sesuai arahan Bapak Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional (Andi Amran Sulaiman), negara hadir dalam hilirisasi ayam terintegrasi untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan peternak," ujar Agung dalam keterangan di Jakarta, seperti dilansir Antara, Rabu 11 Maret 2026.
Menurut Agung, program ini diharapkan dapat memberikan kepastian usaha, memperluas akses pasar, dan pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan peternak rakyat di daerah. Komitmen tersebut diwujudkan melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Pemerintah Provinsi Gorontalo dan PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) atau ID FOOD. Pertemuan ini juga melibatkan Kementerian Pertanian serta PT Berdikari di Wisma Danatara Indonesia.
Skema Pengembangan Industri yang Menyeluruh
Melalui skema hilirisasi ayam terintegrasi, pengembangan industri peternakan akan dibangun secara komprehensif, mencakup berbagai aspek:
- Penyediaan bahan baku pakan
- Pembibitan
- Budidaya
- Pengolahan produk
"Model ini diharapkan menciptakan rantai pasok yang lebih efisien sekaligus memperkuat peran peternak lokal dalam ekosistem industri peternakan yang lebih modern dan berkelanjutan," jelas Agung.
Dukungan untuk Peternak Rakyat dan Potensi Daerah
Agung menambahkan bahwa pengembangan industri ayam terintegrasi ini merupakan langkah penting untuk memperkuat struktur usaha peternakan rakyat agar lebih efisien, berdaya saing, dan memiliki kepastian pasar. "Pemerintah ingin peternak rakyat terlindungi dan diberdayakan dengan mengintegrasikan mereka ke dalam sistem produksi yang lebih modern. Dengan begitu, efisiensi meningkat, akses pasar terbuka, dan pendapatan peternak juga ikut naik," paparnya.
Gubernur Gorontalo, Gusnar Ismail, menyatakan bahwa dukungan program pemerintah pusat menjadi pendorong penting untuk percepatan pembangunan sektor pertanian dan peternakan di daerah. Ia mengungkapkan bahwa Gorontalo memiliki potensi besar untuk mendukung pengembangan industri ayam terintegrasi, terutama dari segi ketersediaan bahan baku pakan. "Produksi jagung Gorontalo mencapai sekitar 1,5 juta ton per tahun. Ini menjadi potensi besar sebagai bahan baku pakan dalam pengembangan hilirisasi ayam," tegas Gusnar.
Gusnar optimistis bahwa dengan dukungan program ini, sektor pertanian dan peternakan di Gorontalo akan berkembang lebih pesat. Ia juga meyakini bahwa pengembangan hilirisasi industri ini dapat mendorong pertumbuhan ekonomi daerah dan membuka peluang usaha baru bagi masyarakat, termasuk para peternak lokal.
Peran ID FOOD dan Dukungan Program Nasional
Direktur Utama PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) atau ID FOOD, Ghimoyo, menjelaskan bahwa proyek hilirisasi ayam terintegrasi ini dirancang untuk memperkuat peran pelaku usaha daerah dalam rantai industri peternakan nasional. "Jika ada mitra yang berminat, kami akan memprioritaskan mitra lokal dari Gorontalo agar pengembangan industri ini benar-benar memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat setempat," katanya.
Menurut Ghimoyo, pengembangan industri ini juga diproyeksikan sebagai dukungan untuk program prioritas nasional, termasuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG), melalui penguatan pasokan ayam yang stabil dan berkelanjutan.
Visi Jangka Panjang dari Menteri Pertanian
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa pemerintah akan terus mendorong pengembangan hilirisasi sektor pertanian dan peternakan di berbagai daerah lainnya. Tujuannya adalah agar petani dan peternak rakyat bisa mendapatkan nilai tambah yang lebih besar. "Hilirisasi harus memberi nilai tambah bagi daerah dan peternak," kata Amran.
Ia menambahkan bahwa peternak lokal harus menjadi bagian dari rantai usaha yang kuat, mulai dari hulu hingga hilir. Oleh karena itu, mereka perlu mendapatkan dukungan agar usaha mereka dapat berkelanjutan dan kesejahteraannya meningkat secara signifikan.
