Kementan Dorong Pengembangan Sorgum, Benih dari Cirebon Jadi Kunci Perluasan
Kementan Dorong Pengembangan Sorgum, Benih dari Cirebon

Kementan Dorong Pengembangan Sorgum, Benih dari Cirebon Jadi Kunci Perluasan

Kementerian Pertanian (Kementan) sedang mengkaji hasil panen sorgum yang dikembangkan di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, sebagai sumber benih untuk mendukung program pengembangan komoditas ini di berbagai daerah. Langkah ini bertujuan memperluas budidaya sekaligus memperkuat ekosistem agribisnis sorgum di Indonesia.

Target Produksi dan Kebutuhan Benih

Direktur Serealia Ditjen Tanaman Pangan Kementan, Gunawan, menyatakan bahwa benih dari Cirebon berpotensi dimanfaatkan untuk mendukung perluasan areal tanam sorgum. Pemerintah menargetkan pengembangan produksi sorgum di area seluas 2.500 hektare pada tahun 2026, yang membutuhkan pasokan benih dari penangkar dan produsen dalam negeri.

"Ini benih nanti yang dihasilkan memang akan kita jadikan sebagai benih untuk pengembangan sorgum," ujar Gunawan di Cirebon, seperti dikutip dari Antara. Ia menekankan bahwa keterlibatan industri dalam pengembangan komoditas ini menjadi faktor penting untuk mendorong penguatan ekosistem agribisnis sorgum.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Keterlibatan Industri dan Potensi Hilirisasi

Gunawan menilai kerja sama dengan PT Dirgantara Indonesia (PTDI) serta Pemerintah Provinsi Jawa Barat sebagai langkah positif, terutama dalam mendorong pemanfaatan teknologi pada sektor hilirisasi. "Kami menyambut baik dengan PTDI sebagai entitas yang akan masuk dalam pengembangan agribisnis, khususnya dalam pengelolaan hilirisasi," katanya.

Ia menjelaskan bahwa sorgum memiliki potensi besar karena hasil produksinya dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari bahan pangan hingga energi alternatif seperti biofuel dan biomassa. Pengembangan industri hilir sangat penting untuk menampung hasil produksi petani, sehingga budidaya sorgum memiliki prospek ekonomi yang lebih jelas.

Cocok untuk Lahan Marginal

Gunawan mengakui bahwa pengembangan sorgum di Indonesia selama ini masih terbatas, salah satunya karena proses hilirisasi yang belum berkembang optimal. Namun, dengan keterlibatan industri dalam pengolahan biji maupun batang sorgum, peluang pengembangan komoditas ini dinilai semakin terbuka.

Ia menambahkan bahwa tanaman sorgum juga cocok dibudidayakan di lahan marginal atau lahan dengan tingkat kesuburan rendah, sehingga dapat menjadi alternatif bagi petani dalam memanfaatkan lahan yang kurang produktif. "Daerah-daerah yang memang unsur haranya sudah cukup tipis, ini bisa menggunakan tanaman sorgum sebagai salah satu alternatif budidaya ke depan," ujarnya.

Dengan upaya ini, Kementan berharap dapat meningkatkan produksi sorgum nasional dan mendukung ketahanan pangan serta energi hijau di Indonesia.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga