Kecintaannya di dunia pertanian membuat pemuda asal India, Ashoka Shivareddy, memutuskan untuk kembali menanam buah-buahan. Insinyur perangkat lunak AI ini kembali ke desa setelah pernah pindah ke kota pada 2006. Keluarganya yang merupakan seorang petani kesulitan mencari nafkah di distrik Kolar, India selatan setelah mengalami kekeringan yang panjang.
Kekeringan yang Memicu Keputusan
Daerah tersebut hanya menerima curah hujan 60 hingga 70 sentimeter per tahun. Para petani di sana terpaksa menggali sumur bor hingga kedalaman 1.300 kaki atau sekitar 396,2 meter untuk mendapatkan air. Sebagian besar uang mereka habis untuk mencari air, seperti yang diungkapkan Shivareddy kepada BBC.
Kembali ke Akar Pertanian
Shivareddy memulai peruntungannya di dunia pertanian pada tahun 2018. Namun, kali ini pria itu menggunakan pendekatan yang lebih ilmiah. Dengan latar belakang sebagai insinyur perangkat lunak AI, ia menerapkan teknologi dan pengetahuan modern untuk mengelola lahan pertaniannya.
Pendekatan ilmiah yang diterapkan Shivareddy mencakup penggunaan teknik irigasi efisien, pemilihan varietas buah yang tahan terhadap kondisi kering, serta pemantauan kondisi tanah dan tanaman secara berkala. Hasilnya, ia berhasil meningkatkan produktivitas pertanian meskipun dihadapkan pada tantangan kekeringan yang parah.
Kisah Shivareddy menjadi inspirasi bagi petani lain di daerah tersebut. Ia membuktikan bahwa dengan kombinasi antara kearifan lokal dan pengetahuan modern, pertanian tetap bisa berkelanjutan dan menguntungkan. Keberhasilannya juga membuka peluang bagi anak muda desa untuk kembali mengembangkan sektor pertanian tanpa harus meninggalkan kampung halaman.



