Komisi IV DPR Dorong Peta Jalan Ekspor Beras untuk Atasi Stok Melimpah
Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Alex Indra Lukman, mendesak pemerintah untuk segera merumuskan peta jalan ekspor beras produksi petani dalam negeri. Hal ini disampaikan sebagai respons terhadap melimpahnya stok beras yang mencapai angka 3,53 juta ton pada akhir Desember 2025 lalu.
"Tantangan kita hari ini adalah menurunkan biaya produksi dan memperbaiki mutu beras, agar kita mampu bersaing dengan negara produsen beras lainnya dalam merebut potensi pasar global," ungkap Alex dalam keterangannya pada Minggu (8/3/2026).
Inovasi Sawah Pokok Murah dari Sumatera Barat
Alex menjelaskan bahwa untuk menurunkan biaya produksi, petani inovatif dari Sumatera Barat, Ir. Djoni, telah menemukan metode Sawah Pokok Murah. Metode ini diklaim menghasilkan panen yang tidak kalah dengan produksi konvensional.
Metode Sawah Pokok Murah tidak melalui pengolahan tanah, yang merupakan komponen biaya terbesar dalam bercocok tanam. Selain itu, metode ini tidak memerlukan pemupukan kimia, penyemprotan pestisida, maupun fungisida. Bahkan, cuaca kemarau tidak terlalu menjadi rintangan, karena metode ini mampu memperkecil potensi gagal panen akibat faktor cuaca.
"Walaupun topografi daerahnya perbukitan dan tidak memiliki hamparan sawah yang luas, Sumatera Barat telah mampu swasembada beras sejak lama," ungkap Ketua PDIP Sumatera Barat ini.
"Dengan adanya inovasi Sawah Pokok Murah yang telah dilaksanakan secara massif di Kabupaten Agam, Pesisir Selatan, dan Dharmasraya, biaya produksi dipastikan akan jauh berkurang dibandingkan dengan metode konvensional," lanjutnya.
Tantangan Mutu Beras dan Peran Pemerintah
Namun, tantangan yang perlu diantisipasi adalah persoalan angka patahan (broken) atau menir (pecahan kecil) pada beras. Menurut Alex, masalah ini memerlukan campur tangan pemerintah melalui Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta dunia perguruan tinggi melalui riset-riset berkelanjutan.
"Kondisi saat ini, beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) mengandung patahan atau menir sebesar 25-40 persen. Sementara, beras dari negara-negara produsen beras lainnya di Asia Tenggara, kadar broken-nya telah berada di angka 5 persen," ungkap Alex.
"Jika kondisi ini tidak segera diatasi, pasar beras global akan sangat sulit ditembus," tambahnya.
Dampak pada Program Swasembada Pangan
Alex menegaskan bahwa jika pasar global tidak dapat ditembus, program swasembada pangan yang merupakan bagian dari Asta Cita Presiden Prabowo Subianto akan menghadapi kendala yang cukup pelik. Pemerintah dinilai harus mampu menjawab tantangan tersebut.
"Saat ini, bapak presiden telah mencanangkan peningkatan produksi melalui ekstensifikasi maupun intensifikasi pertanian. Sementara, daya serap dalam negeri tidak bertambah signifikan. Mau diapakan stok melimpah itu nantinya? Ini adalah tantangan yang harus segera dijawab," imbuhnya.
Dengan demikian, dorongan dari Komisi IV DPR ini diharapkan dapat menjadi langkah awal untuk mengoptimalkan potensi ekspor beras Indonesia, sekaligus mengatasi masalah stok yang berlimpah di dalam negeri.



