Sunyi Melanda Pasar Gembrong Baru: Pedagang Bertahan di Tengah Sepinya Pembeli
Sunyi Melanda Pasar Gembrong Baru, Pedagang Bertahan

Sunyi Melanda Lorong Pasar Gembrong Baru: Kisah Pedagang Bertahan di Tengah Sepi

Lorong-lorong di Pasar Gembrong Baru, Jakarta Timur, kini tak lagi riuh dengan aktivitas jual beli. Kios-kios berjajar rapi, namun banyak yang tertutup rapat dengan gembok berkarat, meninggalkan kesan sunyi yang menusuk. Di tengah hiruk pikuk kota yang tak pernah berhenti, pasar ini seolah terperangkap dalam waktu, dengan langkah kaki yang bergema di dinding-dinding kosong sebagai satu-satunya suara.

Kondisi Memprihatinkan: Omzet Turun Drastis Pasca Pandemi

Bagi pedagang yang masih bertahan, seperti Kikih (47), penjual aksesoris dan mainan, sunyi ini bukan sekadar suasana, melainkan kenyataan hidup sehari-hari. Dengan pengalaman belasan tahun di Pasar Gembrong Baru setelah direlokasi dari Pasar Gembrong Lama, ia kini hanya bisa menunggu pembeli di kios lantai dasarnya. "Kondisi sekarang memprihatinkan," ungkap Kikih kepada Liputan6.com pada Senin, 23 Februari 2026. "Dagang lagi sepi, omzetnya drastis turunnya, habis Covid langsung turun."

Kikih mengenang masa sebelum pandemi Covid-19 sebagai periode yang lebih baik, di mana Pasar Gembrong Lama masih ramai pengunjung. Namun, pandemi menjadi pukulan telak yang mempercepat kepergian banyak pedagang. Kini, hampir setiap hari ia menghadapi kenyataan pahit: pembeli jarang, sementara kebutuhan hidup terus menekan. "Sewanya 6 Bulan Rp 4 juta, banyak yang kosong sekarang, ekonominya, dulu banyak yang isi disini," tuturnya.

Bertahan Bukan Karena Untung, Tapi Karena Tak Ada Pilihan

Kikih mengaku bertahan bukan karena keuntungan, melainkan karena ketiadaan alternatif lain. "Untuk sewa murahlah, kalau dibilang menutup sih enggak, kebanyakan nomboknya, bertahan aja juga udah Alhamdulillah sebenarnya ini," ceritanya. Setiap transaksi kecil, seperti penjualan beberapa lembar stiker atau aksesoris mainan, menjadi penanda bahwa kiosnya masih bernapas, meski pelan. Ia juga mengungkapkan keraguan untuk beralih ke penjualan daring, menganggap sistem online rumit dan berisiko dengan potongan besar.

Selama ini, Kikih mengandalkan pelanggan setia, terutama pedagang mainan gerobak yang biasa berjualan di sekitar sekolah. Namun, pelanggan itu pun semakin berkurang karena banyak yang banting setir ke pekerjaan lain, seperti penjual makanan atau kuli bangunan, akibat kondisi ekonomi yang tak kunjung membaik.

Pelanggan Setia Masih Berharap pada Variasi Barang

Meski sepi, beberapa pelanggan seperti Rito (50) masih rutin datang berbelanja. "Udah biasa beli disini, langganan, kalau untuk harga sama aja, relative tergantung, cuman disini banyak pilihan variasi nya," ujar Rito. Hal serupa disampaikan Yana (55), pedagang mainan warung kecil, yang mengapresiasi harga murah di pasar ini.

Namun, dukungan dari pelanggan setia ini tak cukup untuk mengimbangi penurunan omzet secara keseluruhan. Pasar Gembrong Baru kini menghadapi tantangan besar untuk bertahan di tengah perubahan ekonomi dan kebiasaan belanja masyarakat. Para pedagang seperti Kikih terus berharap adanya kebangkitan, sambil bersyukur masih bisa membuka kios setiap hari, meski dengan perjuangan yang tak mudah.